Hari Perempuan Internasional
Sabtu, 29 Agustus 2026 09:55 WIB
Penulis:Nila Ertina

KOMUNITAS Arus Aksara Perempuan (AAP) kembali menggelar kegiatan Baca BERIZIK, sebuah ruang membaca yang tidak hanya mengajak peserta menikmati sebuah karya sastra, tetapi juga membongkar persoalan sosial yang tersembunyi di balik halaman-halamannya.
Kali ini, novel Kim Ji-Yeong, Lahir Tahun 1982 karya penulis Korea Selatan, Cho Nam-Joo, menjadi bahan bacaan sekaligus bahan diskusi, Kamis (27/8/2026).
Novel tersebut mengisahkan kehidupan seorang perempuan bernama Kim Ji-Yeong yang mengalami berbagai bentuk diskriminasi sejak kecil hingga dewasa. Mulai dari perbedaan perlakuan di dalam keluarga, pendidikan, dunia kerja, hingga tekanan terhadap perempuan setelah menikah dan menjadi seorang ibu.
Cerita itu menjadi menarik karena persoalan yang diangkat tidak hanya berbicara tentang kehidupan perempuan di Korea Selatan.
Baca Juga:
Dalam laporan Global Gender Gap Report 2025 dari World Economic Forum, Korea Selatan berada di peringkat 101 dari 148 negara dengan skor kesetaraan gender 0,687. Artinya, Korea Selatan baru menutup sekitar 68,7 persen kesenjangan gender, sementara masih terdapat sekitar 31,3 persen kesenjangan menuju kondisi paritas penuh antara perempuan dan laki-laki. Korea Selatan bahkan mengalami penurunan dari posisi ke-94 pada tahun sebelumnya.
Kesenjangan paling besar terlihat dalam bidang ekonomi dan politik. Skor Korea Selatan dalam partisipasi dan kesempatan ekonomi hanya 0,608, sedangkan dalam pemberdayaan politik hanya 0,182. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun akses perempuan terhadap pendidikan dan kesehatan relatif tinggi, kesetaraan belum sepenuhnya tercapai ketika perempuan memasuki ruang kerja, kepemimpinan, dan pengambilan keputusan politik.
Persoalan tersebut juga terlihat dari kesenjangan upah. OECD mencatat Korea Selatan memiliki kesenjangan upah gender terbesar di antara negara-negara OECD, dengan selisih upah rata-rata perempuan dan laki-laki mencapai 31,2 persen pada 2022.
Namun, diskusi dalam Baca BERIZIK tidak berhenti pada Korea Selatan. Di Indonesia, persoalan ketimpangan gender juga masih menjadi pekerjaan rumah. Dalam Global Gender Gap Report 2025, Indonesia berada di peringkat 97 dari 148 negara, dengan skor 0,692 atau sekitar 69,2 persen kesenjangan gender telah tertutup. Posisi Indonesia memang sedikit lebih baik dibanding Korea Selatan dalam pemeringkatan tersebut, tetapi angka itu tetap menunjukkan bahwa kesetaraan gender belum sepenuhnya tercapai.
Data Badan Pusat Statistik juga menunjukkan ketimpangan masih ada dalam berbagai bidang. Indeks Ketimpangan Gender Indonesia tahun 2025 tercatat sebesar 0,402. BPS menjelaskan indeks tersebut mengukur ketimpangan antara perempuan dan laki-laki dalam kesehatan reproduksi, pemberdayaan, serta partisipasi di pasar kerja. Semakin mendekati nol, semakin rendah tingkat ketimpangannya.
Salah satu gambaran kesenjangan terlihat dalam dunia kerja. Data UNDP Indonesia menunjukkan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan pada 2025 sebesar 56,63 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,40 persen. Sementara itu, Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2024 mencatat 24,1 persen perempuan usia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidupnya.
Data-data tersebut kemudian menjadi konteks yang relevan ketika anggota AAP membaca perjalanan hidup Kim Ji-Yeong.
Dalam kegiatan Baca BERIZIK digelar kembali, Manager Divisi Riset AAP, Siti Sundari, bertindak sebagai wasit. Pembacaan dilakukan secara bergilir, tetapi tidak semua bagian dibaca begitu saja. Ketika menemukan bagian yang dianggap menarik dan penting, pembacaan dihentikan untuk kemudian dibedah bersama.
Belajar dan Diskusi
Nila Ertina, Ketua Umum AAP, bersama Fathul Salbani Ihsan selaku Wakil Ketua Umum AAP, serta seluruh anggota yang hadir saling menanggapi persoalan patriarki yang muncul dalam novel. Percakapan tidak hanya membahas kehidupan perempuan di Korea Selatan, tetapi juga membawa para peserta melihat kembali realitas yang terjadi di Indonesia.
Bagaimana perempuan masih sering dibebani tanggung jawab domestik. Bagaimana laki-laki dan perempuan kerap mendapatkan tuntutan sosial yang berbeda. Bagaimana pilihan perempuan terhadap pendidikan, pekerjaan, pernikahan, hingga kehidupan pribadinya masih sering menjadi bahan penilaian masyarakat.
Satu per satu anggota AAP menyampaikan pandangan. Ada yang menyoroti pembagian peran di dalam keluarga, ada yang membahas pengalaman perempuan di dunia kerja, sementara anggota lainnya menanggapi bagaimana budaya patriarki terkadang begitu melekat hingga dianggap sebagai sesuatu yang biasa.
Di situlah kisah Kim Ji-Yeong terasa tidak lagi berjarak.
Baca Juga:
Korea Selatan memang memiliki latar sosial dan budaya yang berbeda dengan Indonesia. Namun, persoalan tentang relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, diskriminasi, beban domestik, hingga keterbatasan perempuan dalam mengakses ruang pengambilan keputusan masih menjadi persoalan yang dapat ditemukan di kedua negara.
Melalui Baca BERIZIK, AAP menjadikan novel bukan sekadar bahan bacaan. Setiap halaman menjadi pintu untuk berbicara, saling menanggapi, dan mempertanyakan berbagai kebiasaan yang selama ini mungkin dianggap wajar.
Dari kisah Kim Ji-Yeong, diskusi akhirnya bergerak dari Korea Selatan hingga Indonesia. Sebuah pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan belum selesai, dan patriarki bukan hanya persoalan yang hidup dalam sebuah novel, tetapi masih dapat ditemukan dalam berbagai lini kehidupan sehari-hari.(Senia Aprinia Sari)