Bertahannya Nadi Kehidupan Tepi Sungai Palembang

Minggu, 15 Februari 2026 07:55 WIB

Penulis:Nila Ertina

Dua unit perahu kayu parkir di antara rumah rakit tepi Sungai Ogan , Kelurahan Tuan Kentang,  Kota Palembang
Dua unit perahu kayu parkir di antara rumah rakit tepi Sungai Ogan , Kelurahan Tuan Kentang, Kota Palembang (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

PADA masa penjajahan Belanda, Kota Palembang dijuluki "Venesia dari Timur" atau Venice of the East, julukan tersebut karena dinilai mirip dengan Kota Venesia di Italia, salah satu negara nun jauh di Benua Eropa.

Alasan julukan tersebut disematkan karena Sungai Musi yang membelah kota Pempek, dan ratusan anak sungai yang dahulu menjadi jalur transportasi air di kota yang kini berpenduduk lebih dari 1,5 juta jiwa.

Lorong menuju rumah-rumah pada permukiman tepi sungai, di Kelurahan Tuan Kentang, Palembang

 

Transportasi sungai, seperti perahu kayu menjadi alat pendukung mobilitas utama, rumah menghadap ke sungai juga jadi ciri kota yang juga disebut waterfront city atau kota tepi sungai yang secara topografinya adalah low land atau kawasan rendah dengan sungai dan rawa sebagai mayoritasnya.

Meskipun kini tak tampak lagi ratusan anak Sungai Musi yang menyebar di Kota Palembang, tetapi puluhan sungai masih berfungsi, seperti Sungai Lambidaro, Jeruju, Bendung dan Sungai Sekanak, walaupun tidak lagi bisa difungsikan sebagai area transportasi sungai.

Rumah rakit tak akan pernah banjir, dan masih dipertahankan oleh warga Palembang

 

Sedangkan salah satu anak Sungai Musi yang hingga kini masih berperan penting dalam mendukung nadi kehidupan masyarakat adalah Sungai Ogan.

Sungai Ogan yang hulunya berada di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) bermuara ke Sungai Musi dan menjadi wajah Palembang, ada rumah rakit dan berbagai geliat kehidupan masa lampau yang masih dipertahankan.

Santai sore di salah satu bagian rumah rakit milik Mala

 

Disana masyarakatnya, masih mengandalkan sungai, untuk mandi, jalur transportasi, dan menjalankan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti budidaya ikan dan jual beli bambu.

Tinggal di rumah rakit tetap dilengkapi lemari ukir khas Palembang

Rusmaya (48) warga tepi Sungai Ogan bercerita hingga kini kehidupan masyarakat tepi sungai masih bertahan seperti dulu, hanya saja tidak menggunakan air sungai untuk konsumsi.

"Airnya sudah tercemar, jadi kami sudah lama tidak menggunakan air sungai untuk dikonsumsi bahkan mandi pun tidak lagi menggunakan air sungai," kata dia, dibincangi Sabtu (14/2/2026).

aktivitas sore anak-anak di tepi sungai

Ia bercerita kalau dulu air sungai menjadi andalan untuk memenuhi kebutuhan hidup karena memang masih bersih dan bening.

"Sekarang anak-anak saja sudah kami batasi untuk mandi di sungai, takut terkena penyakit kulit," kata dia lagi.

Moda transportsi sungai masih diandalkan

Sungai juga menjadi tempat mencari nafkah, warga lainnya, Fajri (49) bercerita di tepi-tepi sungai masih banyak yang membudidayakan ikan menggunakan keramba apung.

Keramba apung salah satu usaha masyarakat di tepi sungai. Foto Magang/Tanya Zalzabillah

Sungai bagi sebagian masyarakat masih bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan sarana mandi dan cuci, tambah dia.(Nila Ertina FM)