Desa di Perairan Sungai Musi: Berkat Smartfren kini Jual Beli Online Makin Moncer

Rabu, 29 Juni 2022 08:00 WIB

Penulis:Susilawati

Editor:Susilawati

Belajar menjadi jurnalis desa di tengah persawahan Desa Upang Marga dengan menggunakan jaringan Smartfren
Belajar menjadi jurnalis desa di tengah persawahan Desa Upang Marga dengan menggunakan jaringan Smartfren (Foto WongKito.co/Nila Ertina)

EKSISTENSI wilayah Upang, di kawasan perairan Sungai Musi dikenal sejak masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 Masehi. Di sana hidup dengan damai komunitas-komunitas melayu yang mengandalkan perdagangan sebagai aktivitas ekonomi mereka sehari-hari.

Bahkan, tertulis di Prasasti Kedukan Bukit, bagaimana awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya, yaitu bermula dari kawasan Upang.

Prasasti Kedukan Bukit sendiri ditemukan seorang Belanda, C.J. Batengburg tahun 1920, di Kampung Kedukan Bukit Tepi Sungai Tatang.

Kekinian, Sungai Tatang merupakan bagian dari area Kelurahan 35 Ilir Kecamatan Ilir Barat II, Kota Palembang.

Meskipun sudah menjadi kawasan maju di awal berkembangnya Kerajaan Sriwijaya, sekitar abad ke-7 atau tahun 600-an Masehi tetapi ketika Kerajaan Sriwijaya mengalami kemunduran pada abad ke-13 Masehi. Berdampak juga pada perkembangan wilayah Upang.

Walaupun kini masih banyak ditemukan peninggalan-peninggalan bersejarah di wilayah Upang tersebut. Terutama berupa keramik yang disebut sebagai peralatan di masa Kerajaan Sriwijaya.

Upang pun bukan lagi hanya sebuah desa, tetapi sudah berkembang menjadi beberapa desa, diantaranya Upang Marga, Upang Ceria dan Upang. Desa-desa tersebut masuk dalam Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

Andalkan Transportasi Air

Butuh waktu sekitar 1,5 jam menumpang speedboat untuk tiba di Desa Upang Marga, Kecamatan Air Salek Kabupaten Banyuasin dari Dermaga Ampera, Palembang.

Menyusuri Sungai Musi dengan arus yang deras dan kerap bertemu dengan kapal-kapal bermuatan batu bara, pupuk dan semen menjadi pemandangan sehari-hari bagi pengguna transportasi sungai saat menuju kawasan perkampungan di perairan Sungai Musi.

"Alhamdulillah kalau ke Desa Upang Marga, tidak perlu waktu lama melintasi sungai hanya sekitar 1 sampai 1,5 jam saja," kata Kepala Desa Upang Marga, Syaiful Lizan, ketika dibincangi belum lama ini.

Sebenarnya, ia mengungkapkan untuk sampai ke desa tersebut sudah bisa melintasi jalur darat tetapi infrastrukturnya belum begitu bagus sehingga waktu tempuh pun lebih lama.

Karena itu, transportasi sungai tetap menjadi andalan. "Tak heran," kata dia kalau kurir-kurir dari berbagai platform pasar digital memanfaatkan angkutan sungai untuk mengantarkan  barang yang dipesan warga desa.

"Iya, meskipun berada di kawasan perairan dan terpencil penjualan produk melalui platform pasar digital juga ramai di sini," kata dia lagi.

Bahkan, Syaiful mengungkapkan selama pandemi ini, hasil kerajinan penduduk di desanya laris di jual di marketplace. "Warga di sini mayoritas membuat kerupuk dan kemplang udang dan kini dijual online," kata dia.

Berdirinya menara base transceiver station (BTS) PT Smartfren Telecom Tbk, menjadi salah satu pendorong laris manisnya penjualan produk ke luar desa.

"Kami bersyukur, jaringan telekomunikasi khususnya Smartfren kencang dan dapat digunakan optimal," ujar dia.

Perajin kemplang dan kerupuk udang tambah Syaiful kini tidak lagi hanya melakukan transaksi secara langsung ke pembeli, tetapi juga telah memanfaatkan jaringan internet.

Penjualan online, telah mendongkrak penjualan kemplang dan kerupuk udang  Upang Marga. Warga desa mayoritas beretnis melayu dan mencari ikan alias nelayan jadi cara mereka memenuhi kebutuhan hidup.

Biasanya, warga mencari ikan di laut, Selat Bangka bahkan sampai ke Kepulauan Riau. Sedangkan, perempuan desa tersebut mengolah udang hasil tangkapan suami menjadi kemplang atau kerupuk.

Sebanyak 648 kepala keluarga (KK) di desa tersebut, mayoritas adalah nelayan, tutur Lizan.

Hal senada, diungkapkan Rus, perajin kemplang yang sejak tahun 1994 sudah memroduksi kerupuk dan kemplang udang. Mengaku kalau dirinya tidak paham bagaimana menggunakan ponsel apalagi internet.

Namun, anak dan cucunya justru yang menawarkan kemplang dan kerupuk udang melalui internet. Sekitar setahun ini, penjualan kemplang dan kerupuk udang semakin meluas.

“Dulu paling dijual ke pedagang atau orang yang datang ke dusun, sekarang kata anak saya sudah dibeli orang sampai ke Jawa,” tutur Rus.

Bukan hanya, Rus yang merasakan layanan jaringan telekomunikasi khususnya, Smartfren.

Namun, pemuda-pemuda desa pun tampak asik menggunakan telpon pintar, entah di sudut warung bahkan saat bersantai di sawah.

Seorang warga pemilik warung, Anita mengatakan kalau setiap hari sejumlah anak usia remaja putra berkumpul di warung miliknya.

"Di sini mereka main games HP sambil makan dan minum," kata dia.

“Saya tidak begitu mengerti apa yang mereka mainkan, tapi biasanya terlihat sangat seru. Saya senang, karena anak-anak juga sambil jajan di warung saya,” ujar dia.

Rio pemuda Desa Upang Marga mengaku kerap kali main bareng alias mabar dengan teman-teman seusianya beragam aplikasi games.

“Kami biasanya kumpul usai bekerja di sawah atau ladang sore hari, mabar,” kata dia.

Ia mengaku jaringan Smartfren di dusunnya lancar tanpa gangguan lemot. Selain itu, harga paket internetnya juga murah.

"Saya biasa beli paket Unlimited Nonstop 12 GB, cukup dengan uang Rp 45 ribu sudah bisa menggunakan beragam aplikasi dengan puas," ujar pemuda lulusan SMA ini.

Bukan hanya untuk main games online, paket internet Smartfren juga dimanfaatkan dirinya berjualan baju bola.

"Anak-anak muda banyak yang hobi main bola, jadi saya pun menawarkan pakaian dan sepatu bola. Dan kini laris," ujar dia lagi.

Bahkan, penjualan seragam bermain sepakbola juga dijual ke daerah-daerah lain. "Namanya, marketplace mbak jadi pembelinya pun dari mana-mana," kata dia.

Tak hanya, menjual seragam bermain bola, Rio mengungkapkan kalau kini pemuda Desa Upang Marga juga telah belajar membangun media online desa. Media itu, hanya sederhana yang berisi cerita-cerita masyarakat desa dan juga pengumuman dari pemerintah desa.

“Kami pernah diberi pelatihan menulis berita secara praktis oleh wartawan, jadi sekarang kami mulai praktikan dengan memanfaatkan media online kami,” ujar dia lagi.

Kuliah Online, Ya Smartfren Aja!

Warga Desa Upang Marga lainnya adalah Dela, mahasiswi salah satu perguruan tinggi swasta di Palembang ini mengaku sangat terbantu setelah menggunakan Smartfren, karena mendapatkan paket internet murah dan jaringannya pun tidak "kaleng-kaleng".

"Sejak pandemi saya pulang ke dusun, kuliah online," kata mahasiswi tingkat III tersebut.

Di desa, anak-anak muda mayoritas menggunakan smartfren karena harga paketnya terjangkau dan juga lancar jaringannya.

Kuliah dalam jaringan alias online kata Dela membuat dirinya dan mahasiswa asal desa lainnya memilih untuk pulang ke desa masing-masing.

Awalnya, bingung karena banyak tugas dari dosen dan harus mencari data menggunakan internet.

Namun, saat menggunakan Smartfren kini berseluncur di dunia maya terasa lebih ringan.

Ringan, karena memang harga paket kuota internet terjangkau dan ringan karena internetnya juga lancar.

Begitu juga ketika kuliah virtual menggunakan aplikasi zoom iya mengungkapkan tidak pernah merasakan gangguan berarti. "Dengan Smartfren meskipun di dusun, kuliah online tetap lancar," kata dia.

Dela mengakui beragam paket murah yang disediakan Smartfren dengan fitur-fitur yang sesuai dengan kebutuhan generasi Z seperti dirinya membuat pemuda dan pemudi memilih setia menggunakan Smartfren.

"Pokoknya Smartfren ngerti nian sama kebutuhan anak muda dalam mendukung gaya hidup kekinian," sambung dia. 

Sebelumnya, Regional Head South Sumatera Smartfren, Wanda Yudhistira dalam suatu kesempatan mengungkapkan kalau kekinian hampir semua kawasan di Sumatera Selatan telah terjangkau jaringan 4G Smartfren.

"Kami tidak hanya meningkatkan kualitas layanan jaringan di wilayah perkotaan tetapi juga di kawasan perairan dan daerah pedesaaan di Sumatera Selatan," kata dia.

Ia mengungkapkan bukan hanya jaringan telekomunikasi yang telah 4G sehingga kecepatan dan kepuasan pelanggan dalam menggunakan jaringan internet terjamin.

Namun, berbagai keuntungan juga dapat dinikmati pelanggan Smartfren diantaranya gratis  nelpon ke semua pelanggan provider tersebut.

Lalu, bagi pelanggan yang telah mengunduh aplikasi MySmartfren bisa mendapatkan fasilitas lainnya, termasuk menganti nomor sesuai dengan yang diinginkan. Selain itu, dengan aplikasi MySmartfren pelanggan juga akan mendapatkan bonus kuota 5 GB bagi yang pertama kali menginstal di smartphone, ujar dia. (Nila Ertina)