Kamis, 23 Juli 2026 21:26 WIB
Penulis:Nila Ertina

JAKARTA, WongKito.co — Kebaya tidak hanya berbicara tentang busana dan keindahan. Di balik setiap lipatan kainnya, tersimpan kenangan tentang keluarga, rumah, identitas, dan perjalanan hidup yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Makna tersebut diangkat Bakti Budaya Djarum Foundation melalui film pendek "Jalan Pulang" untuk memperingati Hari Kebaya Nasional yang diperingati setiap 24 Juli.
Film pendek Jalan Pulang dapat disaksikan melalui kanal YouTube Indonesia Kaya mulai 24 Juli 2026. Karya ini menjadi bagian dari kampanye pelestarian kebaya yang sebelumnya menghadirkan "Kebaya Kala Kini" pada 2024 dan #KitaBerkebaya pada 2025.
Berbeda dengan karya sebelumnya, Jalan Pulang menghadirkan kisah yang lebih personal. Film ini mengajak penonton melihat kebaya sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini melalui hubungan keluarga dan pengalaman antargenerasi.
“Melalui Jalan Pulang kami ingin mengajak masyarakat memahami bahwa setiap kebaya menyimpan kisah yang layak diteruskan. Kebaya bukan hanya sesuatu yang dikenakan, tetapi juga membawa jejak keluarga, kenangan, nilai, dan perjalanan hidup yang membentuk siapa diri kita hari ini,” ujar Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, Renitasari Adrian.
Kisah Perjalanan Pulang Menemukan Makna Kebaya
Film Jalan Pulang mengisahkan Dara, seorang creative director muda yang mendapat kesempatan melakukan rebranding terhadap rumah mode kebaya legendaris milik Madame Yati.
Baca Juga:
Dara membawa berbagai gagasan modern untuk mengembangkan rumah mode tersebut. Namun, gagasan-gagasannya justru ditolak.
Penolakan itu membuat Dara mulai mempertanyakan cara pandangnya terhadap kebaya. Pencarian jawaban kemudian membawanya kembali ke rumah sang ibu.
Di tengah tumpukan kebaya lama yang hendak disumbangkan, Dara menemukan kembali kenangan, kasih sayang, serta jejak kehidupan keluarganya.
Dari sana, ia menyadari bahwa sehelai kebaya tidak hanya menyimpan keindahan. Kebaya juga dapat menjadi bagian dari cerita keluarga yang melintasi waktu.
Disutradarai Bramsky, Jalan Pulang menghadirkan cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Film ini memperlihatkan bagaimana warisan budaya sering kali bertahan melalui hal-hal sederhana di dalam keluarga.
“Di balik setiap lipatan kainnya ada kenangan, ada rumah, ada ibu, ada keluarga, dan ada identitas yang sering kali baru kita sadari nilainya ketika kita mencoba mencarinya kembali,” kata Bramsky.
Menurutnya, film tersebut diharapkan dapat mendorong penonton tidak hanya untuk mengenakan kebaya, tetapi juga mendengar dan meneruskan cerita yang menyertainya.
Dibintangi Sheila Dara hingga Widyawati
Film pendek Jalan Pulang diperkuat sejumlah pekerja seni Indonesia dari berbagai generasi.
Tokoh Dara diperankan Sheila Dara Aisha. Aktris tersebut meraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2025 untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik melalui perannya sebagai Sore dalam film SORE: Istri dari Masa Depan.
Film ini juga menghadirkan aktris senior Widyawati serta Asri Welas yang memerankan Madame Yati, sosok desainer kebaya yang berupaya menjaga nilai dan warisan yang dimilikinya.
Sementara itu, model Sharon Sitania turut melengkapi jajaran pemain sebagai representasi generasi muda yang menjadi jembatan antara tradisi dan masa kini.
Sheila Dara mengatakan kebaya memiliki hubungan personal dengan pengalaman hidupnya.
“Bagi saya, kebaya tidak pernah sekadar pakaian. Sejak kecil, saya melihat kebaya selalu hadir dalam momen-momen penting bersama keluarga,” ujar Sheila.
Menurut Sheila, film Jalan Pulang mengingatkan bahwa warisan budaya tidak hanya terletak pada kebaya sebagai benda, tetapi juga pada cerita dan kenangan yang menyertainya.
Kebaya sebagai Warisan Keluarga
Di balik produksi film, Jalan Pulang melibatkan sejumlah pekerja seni lintas disiplin.
Skenario film ditulis Widya Arifianti dan Ayesha Alma Almera. Sementara itu, Dita Gambiro menangani penataan artistik.
Atmosfer emosional film diperkuat tata suara Anhar Moha dan komposisi musik karya Ofel Obaja. Penataan busana oleh Hagai Pakan juga menempatkan kebaya sebagai bagian penting dari perjalanan setiap karakter.
Melalui film ini, Bakti Budaya Djarum Foundation ingin mengajak masyarakat melihat kembali hubungan personal mereka dengan kebaya.
Baca Juga:
Sebab, tidak sedikit kebaya yang diwariskan dari ibu kepada anak atau dari nenek kepada cucu. Kebaya juga kerap hadir dalam berbagai momen penting kehidupan, mulai dari pernikahan, perayaan keluarga, hingga berbagai peristiwa budaya.
“Warisan budaya tidak hanya hidup di museum atau dalam buku sejarah, tetapi juga hadir dalam kehidupan sehari-hari, dalam cerita keluarga, dan dalam kebaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Renitasari.
Jalan Pulang menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kebaya sebagai warisan budaya yang terus hidup karena dikenakan, dirawat, dan ceritanya diteruskan.
Sebab, setiap kebaya punya cerita dan setiap cerita layak untuk diteruskan.(*)