Harga Bahan Pokok Naik, dengan Uang Rp50 Ribu dapat Apa Saja?

Sabtu, 19 September 2026 11:58 WIB

Penulis:Nila Ertina

Salah satu sudut di Pasar Sekip Ujung Palembang
Salah satu sudut di Pasar Sekip Ujung Palembang (Foto WongKito.co/Magang/Selsa Billa)

PAGI di Pasar Sekip Ujung, Palembang, Kamis (17/9/2026), dimulai dengan deretan motor yang memenuhi halaman pasar. Kabut asap masih terasa, sementara suara pedagang bersahutan menawarkan dagangan.

Bumbu dapur, beras, cabai, telur, daging ayam, hingga kebutuhan pokok lainnya tersusun di lapak-lapak. Sejumlah warga datang membawa daftar kebutuhan, sebagian lainnya hanya membawa uang belanja yang jumlahnya terbatas.

Di antara keramaian itu, ada satu aktivitas yang semakin sering terlihat berjalan dari satu lapak ke lapak lain untuk membandingkan harga.

Bukan sekadar mencari barang yang dibutuhkan, warga kini harus mencari harga yang paling memungkinkan untuk kantong mereka.

Dengan uang belanja Rp50 ribu, pilihan menjadi semakin terbatas.

Ada kebutuhan yang tetap harus dibeli. Ada pula barang yang terpaksa dikurangi, bahkan ditunda.

Beras Dikurangi, Bukan Berhenti Dibeli

Baca Juga:

Caca menjadi salah satu pembeli yang merasakan langsung perubahan harga bahan pokok.

Sebelumnya, ia biasa membeli beras hingga 10 kilogram dengan harga sekitar Rp100 ribu. Kini, jumlah tersebut harus dipangkas menjadi 5 kilogram karena harganya meningkat.

Untuk beras Bulog, Caca menyebut harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp50 ribuan per kemasan 5 kilogram, kini mencapai sekitar Rp66 ribu.

“Kalau dari beras itu kemarin kalau untuk yang harga beras Bulog 50-an, sekarang udah naik jadi 66,” ujarnya.

Pilihan Caca sederhana bukan berhenti membeli beras, melainkan mengurangi jumlahnya.

Beras tetap menjadi kebutuhan utama, tetapi uang belanja harus dibagi untuk kebutuhan lainnya.

Begitulah cara sejumlah pembeli menghadapi kenaikan harga bahan pokok. Mereka tidak serta-merta berhenti berbelanja. Sebaliknya, mereka mengubah prioritas.

Berkeliling Pasar Demi Harga yang Cocok

Suasana pasar memperlihatkan bagaimana kenaikan harga mengubah perilaku konsumen.

Pedagang terus memanggil calon pembeli. “Di sini lebih murah,” menjadi salah satu cara menarik perhatian warga yang berjalan melewati lapak.

Namun, tidak semua tawaran langsung disambut.

Sebagian konsumen tetap berjalan, membandingkan harga dari satu penjual ke penjual lain. Ada yang bertanya, ada yang menawar, dan ada pula yang akhirnya memilih mengurangi jumlah barang.

Bagi warga dengan anggaran terbatas, selisih beberapa ribu rupiah bisa menentukan apakah sebuah kebutuhan masuk ke dalam kantong belanja atau ditinggalkan.

Kenaikan harga akhirnya membuat aktivitas belanja berubah menjadi semacam perhitungan cepat.

Mana yang harus dibeli sekarang?

Mana yang jumlahnya bisa dikurangi?

Mana yang masih bisa ditunda?

Cabai Naik, Pembelian Ikut Menyusut

Tekanan harga tidak hanya dirasakan pembeli.

Pedagang sayuran juga melihat perubahan jumlah pembelian pelanggan.

Sophia, salah satu pedagang sayur di Pasar Sekip Ujung, mengatakan kenaikan harga cabai terasa cukup besar. Cabai merah dan cabai hijau yang sebelumnya sekitar Rp5 ribu per ons kini naik menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per ons.

Sementara harga cabai setan mencapai Rp65 ribu per kilogram.

“Biasanya kan cabai merah dan hijau per ons Rp5.000, sekarang kan Rp6.000 sampai Rp7.000. Harga cabai setan ini bisa sampai Rp65.000 satu kilo. Kalau bawang merah dan putih itu seperempatnya Rp10.000,” kata Sophia.

Kenaikan harga itu membuat konsumen yang sebelumnya membeli satu kilogram harus mengurangi pembelian. Sebagian hanya mengambil setengah kilogram atau menyesuaikan jumlah dengan uang yang dibawa.

Bagi pedagang, perubahan kecil tersebut ternyata berdampak besar.

Barang yang biasanya terjual dalam jumlah banyak kini harus ditawarkan lebih lama agar segera habis.

Ayam Mahal, Omzet Pedagang Ikut Menurun

Situasi serupa terjadi pada penjualan ayam.

Harga ayam yang sebelumnya sekitar Rp32 ribu per kilogram kini mencapai Rp40 ribu. Bahkan, menurut konsumen, harganya bisa naik hingga Rp42 ribu-Rp43 ribu per kilogram.

Kasyfah, pedagang ayam, mengatakan kondisi tersebut membuat penjualan menjadi lebih sulit.

“Harga ayam sekarang sedang tinggi. Jadi, penjualannya sangat sulit. Konsumen seluruhnya membeli cuma sedikit, omzet yang didapat pun drastis perubahannya karena ayamnya naik, karena ayam mahal,” ucap Kasyfah.

Pedagang menghadapi persoalan yang sama dengan pembeli, tetapi dari sisi yang berbeda.

Ketika harga dari pemasok naik, harga jual tidak mungkin terus ditekan. Jika harga jual diturunkan terlalu jauh, keuntungan pedagang semakin tipis.

Sementara itu, ketika harga jual naik mengikuti harga pasar, konsumen justru mengurangi pembelian.

Ketika Pembeli Memilih Menunda

Renia adalah salah satu konsumen yang memilih menunda pembelian ketika harga dirasa terlalu tinggi.

Ia mengaku kenaikan harga ayam cukup memberatkan. Harga yang sebelumnya sekitar Rp32 ribu per kilogram kini bisa mencapai Rp40 ribu, bahkan Rp42 ribu-Rp43 ribu per kilogram.

“Kalau untuk saya sendiri itu cukup memberatkan ya, karena kenaikannya cukup drastis. Kayak dari ayam itu biasanya Rp32.000 sampai sekarang Rp40.000 per kilonya atau mungkin kadang bisa lebih sampai Rp42.000-Rp43.000 per kilo,” ujarnya.

Menunda belanja menjadi pilihan ketika kebutuhan masih dianggap bisa menunggu.

Tetapi tidak semua barang bisa ditunda.

Beras, minyak, dan gula tetap harus tersedia di rumah.

Mirla salah satunya. Ia memilih mengurangi jumlah pembelian agar kebutuhan tetap terpenuhi tanpa membuat pengeluaran membengkak.

“Dikurangi aja, seperti beras, minyak, dan gula,” ujarnya.

Pedagang Berpacu dengan Waktu

Ketika matahari semakin tinggi dan panas mulai menyengat, aktivitas di Pasar Sekip Ujung belum berhenti.

Pedagang masih menunggu pembeli. Sebagian mulai menawarkan harga lebih murah karena dagangan masih banyak tersisa.

Bagi mereka, dagangan yang tidak habis terjual bukan sekadar soal barang yang tersisa. Ada modal yang harus kembali, sementara barang tertentu memiliki batas waktu untuk bisa dijual.

Harga kemudian menjadi dilema.

Menjual dengan harga tinggi membuat pembeli berpikir ulang. Menjual terlalu murah membuat keuntungan semakin kecil, bahkan berisiko tidak menutup modal.

Di tengah kondisi itu, pedagang harus mencari cara agar dagangan tetap bergerak.

Sementara pembeli juga terus menghitung kemampuan dompet.

Rp50 Ribu dan Pertarungan Menentukan Prioritas

Pada akhirnya, uang Rp50 ribu di Pasar Sekip Ujung bukan lagi sekadar nominal untuk membeli bahan makanan.

Baca Juga:

Uang itu menjadi batas yang memaksa konsumen menyusun ulang kebutuhan.

Beras yang sebelumnya dibeli 10 kilogram kini cukup 5 kilogram. Cabai yang biasanya dibeli satu kilogram dapat dikurangi setengahnya. Ayam yang dianggap terlalu mahal bisa ditunda. Minyak dan gula dibeli secukupnya.

Di sisi lain, pedagang juga menghadapi pasar yang berubah.

Jumlah pembelian menurun, omzet tertekan, dan strategi menjual harus semakin adaptif.

Di pasar itu, kenaikan harga bahan pokok memperlihatkan satu kenyataan sederhana ketika harga naik, yang berubah bukan hanya angka di papan harga, tetapi juga cara orang berbelanja dan cara pedagang bertahan.(*Vyrania Kartika)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024