Ketika Warga Desa Turun ke "Ayek" karena Sumur Kering

Kamis, 16 Juli 2026 07:59 WIB

Penulis:Nila Ertina

Warga Desa Muara Maung, beraktivitas mandi dan mencuci di Sungai Lematang yang berdekatan dengan PLTU Keban Agung
Warga Desa Muara Maung, beraktivitas mandi dan mencuci di Sungai Lematang yang berdekatan dengan PLTU Keban Agung (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

PAGI itu, suasana Desa Muara Maung, di Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, tanpa lebih hiruk pikuk dari hari-hari sebelumnya.

Sejumlah warga tampak mendorong gerobak sorong dari rumah menuju Sungai Lematang yang berada tepat di belakang  permukiman mereka. Dalam gerobak ada 10 jerigen yang akan diisi air dari Sungai Lematang yang biasa disebut "Ayek" dalam bahasa masyarakat lokal.

Tiba di Sungai Lematang, aktivitas cuci dan mandi ternyata juga ramai, warga yang didominasi perempuan terlihat mencuci pakaian dan mandi di sungai yang dalam catatan Dinas Lingkungan Lahat (DLH) mengeklaim telah terkontaminasi limbah domestik.  

"Sumur kami kering, saya biasanya bolak balik ke Ayek untuk mengambil air setidaknya tiga kali sehari," kata seorang perempuan warga Desa Muara Maung, dibincangi Rabu (15/7/2026).

Baca Juga:

Dia bercerita air yang diambilnya dari sungai tersebut bukan untuk konsumsi, tetapi digunakan memenuhi kebutuhan di kamar mandi saja.

Warga mengangkut air Sungai Lematang untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Foto WongKito.co/Fathul Salbani Ihsan

"Kalau air untuk minum dan masak kami sudah lama membeli air galon, meskipun sumur berisi air biasanya tidak untuk dikonsumsi," kata dia lagi.

Wan warga desa lainnya, mengungkapkan Sungai Lematang menjadi andalan memenuhi kebutuhana mencuci dan mandi warga saat sumur kering.

Musim kemarau warga ramai beraktivitas di ayek, karena tidak ada alternarif pilihan sumber air lainnya, kata dia.

Walaupun di sisi lain, ia mengakui warga sadar kalau Sungai Lematang kualitas airnya semakin menurun, dampak dari berbagai aktivitas yang limbahnya di buang ke Sungai Lematang.

Ia mencontohkan, di Ayek bukan hanya sampah domestic yang banyak, tetapi Sungai Lematang juga berada dekat dengan PLTU dan tambang batu bara.

Karena itu, kondisi kualitas air sungai semakin menurun dan sudah lama tidak dikonsumsi, ujar dia.(ert)