Konsumsi Listrik Turun, Pemerintah tetap Genjot Pembangunan EBT

Senin, 30 November 2020 13:34 WIB

Penulis:Nila Ertina

Panel tenaga surya EBT
Panel tenaga surya EBT

JAKARTA, WongKito – Di tengah pandemi yang berdampak juga pada penurunan konsumsi listrik, tetapi pemerintah tetap mengenjot pembangunan energi baru dan terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional sebesar 23% pada 2025.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman Hutajulu menyampaikan, komitmen mengurangi porsi penggunaan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dari batu bara tetap dipertahankan.

“Komitmen pemerintah tak bergeser. Meski rencana itu sangat tidak popular di tengah turunnya permintaan listrik,” katanya, dikutip dari Indonesia.go.id, Minggu, 29 November 2020.

Data Kementerian ESDM menunjukkan, proporsi PLTU masih mendominasi kebutuhan energi saat ini, yakni hampir 65%. Kondisinya saat ini, energi berbasis surya baru termanfaatkan sekitar 10 MWp.

Padahal, potensi energi surya di Indonesia sangat besar, yakni sekitar 4.8 KWh/m2 atau setara dengan 112.000 GWp (gega watt peak). Sebab itu, peta jalan pemanfaatan energi surya mengamanatkan kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terpasang hingga 2025 sebesar 0.87 GW atau sekitar 50 MWp/tahun.

Langkah Akselarasi

Ada dua opsi yang tengah dipertimbangkan pemerintah untuk mengurangi porsi PLTU. Pertama, mengganti PLTU tua yang sudah berusia 20-25 tahun dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Pembangunan PLTS didorong karena PLTS memiliki kelebihan, seperti less maintenance, pembangunan tidak membutuhkan waktu yang lama, dan harga dari PLTS semakin turun.

Opsi kedua, melakukan substitusi sebagian bahan bakar batu bara dengan biomassa pada PLTU yang ada atau disebut co-firing biomassa. Saat ini sudah dilakukan uji coba co-firing biomassa sebesar 3-5% pada sejumlah pembangkit PLTU milik PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dengan hasil yang cukup baik.

Terbaru, International Energy Agency melaporkan, EBT merupakan sumber energi yang paling resistan terhadap pandemi COVID-19. Dalam konteks global, pengembangan energi surya masih tumbuh 1,5% pada kuartal I-2020.

Proyeksinya, lembaga tersebut optimistis pembangunan akan tetap tumbuh hingga 5% pada akhir tahun. Kendati demikian, terdapat beberapa skenario apabila pengembangan energi surya terkoreksi pandemi. (SKO)