Satukan Suara, untuk Koalisi Transisi Energi Berkeadilan

Sabtu, 17 Januari 2026 10:58 WIB

Penulis:Nila Ertina

Ilustrasi
Ilustrasi (Dok Anak Padi)

PALEMBANG, WongKIto.co - Koalisi lintas Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), jurnalis, dan mahasiswa mulai dirintis untuk memperkuat advokasi transisi energi berkeadilan, khususnya bagi masyarakat yang terdampak industri ekstraktif batu bara dan operasional PLTU di Sumatera Selatan.

Inisiatif ini mengemuka dalam diskusi bersama bertema “Menangkap Suara Rentan dalam Isu Transisi Energi” yang digelar di Palembang, Jumat (16/1/2026). Kegiatan ini menjadi ruang awal penyatuan perspektif dan kerja kolaboratif lintas sektor.

Konsultan JW PPMN untuk Sumatera Selatan, Nila Ertina FM, menyampaikan bahwa pertemuan ini merupakan langkah awal membangun Koalisi Energi Berkeadilan yang berfokus pada dokumentasi dampak, penguatan jurnalisme warga, serta penyusunan agenda advokasi bersama.

“Ini pertemuan awal, jalannya memang santai, tapi tujuannya serius, untuk bersama menyiapkan kerja-kerja ke depan agar isu energi berkeadilan bisa dijalankan secara kolektif,” ujar Nila.

Baca Juga:

Ia menjelaskan, dampak industri energi kotor telah nyata dirasakan masyarakat. Pencemaran udara, air sungai, dan air sumur membuat warga kehilangan akses dasar terhadap lingkungan sehat. Di sejumlah desa, seperti Muara Maung dan Telatang, warga bahkan tidak lagi mengonsumsi air sumur dan terpaksa membeli air galon untuk kebutuhan harian.

Temuan lapangan juga menunjukkan dampak kesehatan serius, terutama pada balita yang mengalami ISPA berulang hampir setiap bulan. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya lahan pertanian yang membuat petani kesulitan mempertahankan sumber penghidupan.

Diskusi ini turut menyoroti peran kelompok perempuan, khususnya di wilayah Gumai Talang, yang selama ini konsisten melawan dampak pertambangan namun minim liputan media arus utama. Koalisi ke depan mendorong agar perspektif perempuan menjadi bagian penting dalam narasi transisi energi.

Sementara itu, Ibrahim Arsyad dari Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia atau SIEJ Sumsel menilai pentingnya solidaritas lintas sektor dalam mengawal isu energi berkeadilan. Menurutnya, kerja kolaboratif antara OMS, jurnalis, dan komunitas warga menjadi kunci agar fakta-fakta lapangan dapat disampaikan secara utuh kepada publik dan pengambil kebijakan.

Jurnalis IDN Times Hafidz Trijatnika menambahkan, tantangan jurnalisme hari ini tidak hanya pada produksi liputan, tetapi juga pada distribusi dan amplifikasi isu di ruang digital. Ia mendorong kolaborasi lintas media dan pemanfaatan berbagai platform agar isu lingkungan menjangkau audiens yang lebih luas.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan Solidaritas Perempuan Palembang, Media WongKito.co, Arus Aksara Perempuan, Yayasan Anak Padi Lematang, jurnalis Tempo, SIEJ Sumsel, IDN Times, serta mahasiswa jurnalistik UIN Palembang.

Baca Juga:

Ke depan, koalisi ini merencanakan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan pemangku kepentingan, liputan kolaboratif lintas wilayah, serta agenda advokasi kebijakan agar pemerintah daerah lebih serius memperhatikan dampak lingkungan dan kesehatan dari praktik energi kotor.

“Dengan sinergi OMS, jurnalis, dan mahasiswa, Koalisi Energi Berkeadilan diharapkan menjadi wadah bersama untuk memperkuat suara masyarakat terdampak praktik energi kotor dan mendorong perubahan kebijakan menuju sistem energi yang lebih adil dan berkelanjutan,” kata Nila.(Kgs Haikal Muharam)