Selasa, 20 Januari 2026 12:50 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Nila Ertina

DARIi diskusi yang mengambil tema Peduli Sumatera: Bernyanyi, Berbagi dan Berdonasi Bersama, Satukan suara, kuatkan solidaritas, ciptakan perubahan untuk Sumatera mempertemukan aktivis, jurnalis, dan seniman perempuan, terungkap satu benang merah tentang kondisi Sumatera hari ini. Bahwa suara perempuan belum sepenuhnya mendapatkan ruang yang bebas.
Perempuan dan anak korban bencana Sumatera belum menjadi prioritas menangganan oleh pemerintah.
Meskipun demikian, suara perempuan tidak lahir dari satu ruang saja. Namun muncul dari keberanian yang memilih bicara, dari jurnalis yang berhadapan dengan batasan, hingga dari seniman yang mengubah luka menjadi karya. Tiga ruang berbeda, namun berangkat dari kegelisahan yang sama, yaitu keinginan untuk didengar.
Baca Juga:
Founder Hello Sister, Nindy Voristya Wanda mengungkapkan era digital kasus kekerasan seksual terhadap perempuan masalah yang terus meningkat, termasuk ketika terjadi bencana.
"Perempuan dan anak yang paling terdampak saat terjadi bencana, bahkan bukan hak atas memenuhi kebutuhan urgen, tetapi saat bencana masih saja ditemukan kekerasan seksual yang dialami penyintas," kata Nindy, Senin (19/1/2026).
Ia bercerita Hello Sister bersama Sanggar Srijayanasa Dance School dan media simburcahaya.com berkolaborasi dalam isu meningkatkan kepedulian terhadap perempuan dan anak korban bencana.
"Awalnya, kita memang focus pada isu korban bencana di Sumatera bagian utara, namun kini seperti diketahui, bencana di Belitang, Kabupaten OKU Timur di Sumatera Selatan, juga menjadi bagian tak bisa kita pungkiri harus diperhatikan," kata dia lagi.
Nindy mengungkapkan solidaritas dan kepedulian sesama perempuan itu penting.
Karena sesungguhnya perempuan lah yang mengerti bagaimana kebutuhan perempuan dan anak bahkan lansia, tambah dia.
Sementara Pemimpin Redaksi, Simburcahaya.com, Nila Ertina terkait pemberitaan media pada bencana di Sumatera tentunya kita sama-sama menghela nafas panjang. Kebebasan pers adalah hal utama, tapi faktanya jauh sekali. Tugasnya banyak untuk itu tidak bisa berdiri sendiri.
"Masih banyak PR bagi jurnalis dengan mengajak wartawan media lain untuk liputan dengan isu perempuan dengan perspektif sesuai pada relnya dalam hal kebencanaan," kata Nila.
Menanggapi pertanyaan Nindy, bagaimana media di Sumatera Selatan dalam pemberitaan isu perempuan, Nila menyebutkan belum semua media, walaupun pemimpinnya pun adalah seoran perempuan yang memberikan ruang setara bagi bagi perempuan, anak dan kelompok marginal.
Namun, diakuinya, upaya mendorong ruang setara di media tentu terus didorong oleh organisasi-organisasi profesi jurnalis, seperti Aliansi Jurnalis Independen dan Asosiasi Media Siber Indonesia dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia.
Di sisi lain, Founder Sanggar Srijayanasa Dance School, Surtia Ningsih mengajak untuk bersuara melalui karya.
"Secara biologis generasi sekarang itu dalam kondisi prima. Jangan sampai kita membuang-buang waktu dan larut dari masalah. Semakin besar kita mengeluarkan potensi yang ada dalam diri kita, maka kita akan semakin mahal," ucap Ningsih.
Baca Juga:
Ia menyampaikan dalam konteks bencana Sumatera, bagaimana ia sebagai pekerja seni menampilkan karya-karya yang berpihak pada kepentingan korban, membangun solidaritas dan kepedulian.
Karena sesungguhnya, karya seni, tari dan music serta penampilan lain akan sangat mudah diterima oleh masyarakat, tinggal bagaimana seorang atau kelompok pekerja seni menghasilkan karya yang berbasis pada kepentingan public, termasuk korban banjir maupu mereka yang terdampak industri ekstraktif, seperti eksploitasi tambang batu bara, tegas dia.(Mg/Manda Dwi Lestari)