Wayang Palembang
Jumat, 17 Juli 2026 17:08 WIB
Penulis:Nila Ertina

Rumah Sri Ksetra dan Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang menggelar pertunjukan Wayang Palembang pada 26 Juli 2026 untuk mengajak generasi muda melestarikan warisan budaya.
PALEMBANG, WongKito.co – Upaya melestarikan Wayang Palembang terus dilakukan di tengah semakin berkurangnya pengetahuan masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional tersebut. Rumah Sri Ksetra bersama Sanggar Sri Wayang Kulit Palembang akan menggelar pertunjukan Wayang Palembang yang melibatkan generasi muda di Ruang Pameran Taman Budaya Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Minggu, 26 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali Wayang Palembang sebagai warisan budaya yang memiliki sejarah panjang di Sumatera Selatan sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di kalangan generasi muda.
Ketua Rumah Sri Ksetra, Nopri Ismi, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kembali minat anak muda terhadap Wayang Palembang.
"Harapan kami, kegiatan ini mendorong generasi muda untuk menjadikan Wayang Palembang sebagai salah satu seni yang dapat menjadi simbol identitasnya, dalam menjelaskan harapan dan nilai-nilai dalam kehidupannya," ujar Nopri, dalam siaran pers, Jumat (17/7/2026).
Baca Juga:
Selain pertunjukan Wayang Palembang, rangkaian kegiatan juga mencakup pembuatan film dokumenter tentang maestro Wayang Palembang, Dalang Rasyid, lomba lukis Wayang Palembang tingkat pelajar, serta lomba desain poster bertema Wayang Palembang.
Wayang Palembang merupakan seni pertunjukan yang berkembang dari pengaruh wayang kulit purwa yang dibawa masyarakat Jawa ke Palembang. Akulturasi budaya tersebut menjadi salah satu bukti kuat percampuran budaya Melayu, Jawa, Tionghoa, India, Timur Tengah, hingga Minangkabau yang membentuk kekayaan budaya Palembang.
Berdasarkan jurnal "Eksistensi Kesenian Wayang Kulit Palembang Tahun 2000–2019" karya Nurhidayanti, Nuril Shalifah, Syarifuddin, dan Supriyanto (2022), terdapat dua versi mengenai masuknya Wayang Palembang. Pertama, diperkirakan hadir pada abad ke-17 berdasarkan kajian artefak wayang. Versi lain menyebut wayang dibawa oleh bangsawan Jawa, Aryo Dila, pada abad ke-15.
Pada awal abad ke-20, Wayang Palembang berkembang pesat dengan munculnya sejumlah dalang terkenal, seperti Dalang Lot, Dalang Jan, Dalang Abas, Dalang Abdul Rahim, Dalang Syairin, Dalang Agus, dan Dalang Ali.
Memasuki era 1950-an, muncul Kiagus Muhammad Abdul Rasyid atau Dalang Rasyid yang kemudian menjadi salah satu maestro Wayang Palembang. Ia merupakan murid Raden Muhammad Hanan atau Dalang Hanan, yang sebelumnya berguru kepada Dalang Syairin.
Wayang Palembang mencapai masa kejayaan hingga dekade 1970-an. Namun, memasuki era 1980-an hingga 1990-an, popularitasnya mulai menurun seiring berkembangnya hiburan modern, seperti orkes melayu dan organ tunggal.
Baca Juga:
Meski seni wayang Indonesia telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2013 dan sebelumnya diakui sebagai salah satu karya agung budaya dunia pada 2004, keberadaan Wayang Palembang kini menghadapi tantangan berupa minimnya regenerasi dalang dan berkurangnya pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai budaya yang dikandungnya.
Melalui pertunjukan dan berbagai kegiatan kreatif yang melibatkan pelajar serta generasi muda, Rumah Sri Ksetra berharap Wayang Palembang tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga tetap hidup sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sumatera Selatan.(ril)
8 bulan yang lalu
9 bulan yang lalu
9 bulan yang lalu