Mengukur Tingkat Kepercayaan Masyarakat Sumsel terhadap Perbankan di Era Digital

Ilustrasi tabungan BNI (bni.co.id)

"Nak tolong setorkan uang ini ke ATM," kata Ibu Siti kepada anaknya yang baru saja pulang kerja.

Sang anak lelaki bungsunya pun, bergegas menghampiri sang ibu. "Ibu, aku istirahat sebentar ya, nanti sudah maghrib aku bantu setor tunai ke ATM terdekat," jawab sang anak beberapa waktu lalu.

Perempuan paruh baya tersebut, bukan hanya mengurus rumah tangga seperti kebanyak perempuan. Tetapi ibu empat anak tersebut juga memiliki usaha kecil-kecilan di rumahnya.

Bu Siti setiap hari kecuali hari Minggu, membuat berbagai jajanan pasar untuk dititipkan ke pedagang-pedagang makanan yang  biasanya berjualan dipagi hari.

Ada kue kojo, risol, wajik dan beragam jenis kudapan yang biasa ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Walaupun usahanya tergolong kecil-kecilan tetapi setiap hari omzet dari produksi beragam makanan tersebut kalau dikumpulkan lumayan buat ditabung.

"Saya biasanya, minta tolong anak menyetorkan uang ke ATM. Karena sekarang kan tidak mesti nabung saat jam kerja dengan bantuan teller, ada setor tunai yang bisa dimanfaatkan," kata dia senang.

Dia mengakui hingga kini masih menjadikan bank tempat menabung karena memang kalau di tempat lain belum dipastikan aman.

"Pendapatan saya tidak banyak, tapi tetap saja merasa perlu untuk tetap menabung agar ketika butuh dana mendesak bisa dimanfaatkan," ujar dia.

Nur (32) warga Palembang lainnya mengakui memilih menabung di Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Musi, karena sudah dari orang tua percaya kepada bank plat merah tersebut.

Kekinian, beragam pelayanan berbasis internet pun bisa dimanfaatkan untuk menunjung aktivitas bisnis yang dilakukannya.

"Saya berbisnis online, dan sangat terbantu dengan beragam kemudahan yang disediakan bank," kata dia.

"Cukup dengan gadget, gunakan mobile banking kini saya bisa melakukan beragam transaksi mulai dari membayar barang, tagihan listrik bahkan Top Up dompet eletronik," kata dia lagi.

Namun, dia mengaku tidak mudah untuk percaya terhadap lembaga keuangan sehingga perlu memastikan track record bank yang dipilih.

Di era serba online ini, kepastian keamanan data dan tentunya dana yang tersimpan di bank menjadi awareness setiap nasabah.

Karena itu, Nur mengungkapkan memilih bank yang telah memastikan keamanan data dan dana nasabah adalah keharusan.

Kepercayaan Nasabah Meningkat

Data BPS Sumatera Selatan menunjukan selama 3 tahun, 2019 hingga 2021 terjadi peningkatan angka tabungan rupiah dan valuta asing di bank umum dan BPR di kabupaten dan kota provinsi tersebut.

Dimana posisi tabungan tahun 2019 mencapai Rp 40,8 triliun, 2020 diangka Rp 44,6 triliun dan tahun 2021 meningkat menjadi Rp 48,6 triliun.

Menanggapi data BPS tersebut, Guru Besar Ekonomi, Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang,  Prof Dr Bernadette Robiani MSc mengatakan peningkatan posisi tabungan di bank umum dan BPR tersebut merupakan indikasi bahwa kepercayaan nasabah terhadap perbankan membaik.

"Keyakinan nasabah tersebut tentunya erat kaitan dengann pelayanan optimal perbankan termasuk dari segi keamanan bertransaksi," kata Bernadette dihubungi WongKito.co melalui WhatsApp, Senin (22/8/2022).

Kepercayaan nasabah tersebut tentunya menjadi salah satu alasan bank menjadi pilihan masyarakat untuk menabung atau mengajukan pembiayaan untuk mendukung usaha mereka.

"Semakin bagus pelayanan perbankan, akan mampu menyakinkan masyarakat untuk memilih lembaga keuangan tersebut," ujar dia.

Perlindungan Nasabah ala BNI

Transformasi digital yang begitu pesat mengharuskan bank konvensional beradaptasi dengan beragam kebutuhan masyarakat kekinian. Salah satunya, menyediakan fasilitas berbasis teknologi informasi terkini.

Namun, upaya memberikan pelayanan optimal dengan teknologi terkini tersebut tentunya bukan tidak menghadapi tantangan besar.

Kecanggihan teknologi ternyata berdampak pada kemudahan pelaku kejahatan melaksanakan niatnya.

Tak heran, pencurian data dan hilangnya dana di bank kerap menjadi highlight media. Saking seringnya terjadi kejahatan yang kini mudah dilakukan.

Pemimpin Divisi Managemen Risiko PT BNI Rayendra M Goenawan menjelaskan hingga kini pihaknya mengindentifikasi dua jenis upaya pengambilan data nasabah yaitu Skimming dan Social Engineering (Soceng).

Skimming merupakan pencurian data informasi dari kartu debit yang kemudian dipindahkan secara ilegal ke kartu palsu.

Sedangkan Soceng, mendapatkan daya data dan informasi dengan memengaruhi pikiran seseorang yang berdampak pada psikologis dan emosi, ujar dia saat menjadi pemateri pada Workshop Literasi Keamanan Digiral Perbankan yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), akhir pekan lalu.

Kedua modus tersebut tambah Ray masih sering memakan korban. Akibatnya, nasabah bank kehilangan dana tabungannya.

Selain itu, pencurian data juga tak hanya berdampak pada kehilangan tabungan di bank tetapi juga telah menjadi kejahatan yang lebih besar lainnya, seperti penjualan data nasabah, tambah dia.

Mengantisipasi kejahatan tersebut, Ray mengungkapkan BNI telah mengoperasikan unit khusus untuk perlindungan nasabah.

"Tim ini bekerja 24/7 alias tidak ada jeda untuk memastikan memantau transaksi nasabah, termasuk saat libur lebaran," kata dia lagi.

Walaupun terus melakukan antisipasi kejahatan terhadap nasabah, bagi yang mencurigai atau menjadi korban kejahatan skimming dan soceng bisa mengadukan ke BNI.

Pengaduan diterima secara lisan dengan mengontak BNI call 1500046 atau datang langsung ke kantor cabang terdekat.

Lalu, jika ingin melaporkan secara tertulis nasabah dapat mengunjungi www.bni.co.id, dan memilih menu hubungi kami.

Tak ketinggalan, BNI juga menyediakan email bnicall@bni.co.id atau faksimalili (021) 25541203, sebagai salah satu upaya melindungi nasabah, tambah Rayendra.

Edukasi Nasabah

Rayendra menuturkan bagi nasabah BNI hendaknya mulai sekarang mengimplementasi kiat-kiat berikut ini agar terhindar dari pencurian data:

Pertama: jaga selalu informasi pribadi yang bersifat rahasia, seperti NIK, nomor ponsel, nomor rekening, PIN, password dan OTP transaksi.

Kedua: lengkapi device (HP, PC dan laptop) dengan anti virus serta memastikan tidak menggunakan jaringan internet nirkabel publik.

Ketiga: segera hubungan call center bank, apabila kartu hilang, dicuri dan saat data kartu diketahui pihak lain

Keempat: tidak memberikan/meminjamkan kartu kredit/debit kepada siapapun

Kelima: daftarkan email/SMS notifikasi transaksi, dan lakukan update kepada bank  jika terjadi perubahan

Keenam: hindari transaksi melalui website yang tidak dikenal dan atau merchant e-commerce yang tidak melaksanakan 3d secure.(Nila Ertina)

Editor: Nila Ertina

Related Stories