Angka Fatherless di Indonesia Tertinggi Ketiga Dunia Iringi Peringatan Hari Ayah

Rabu, 12 November 2025 11:42 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

Hari Ayah Nasional. Seorang ayah bersama anaknya.
Hari Ayah Nasional. Seorang ayah bersama anaknya. (freepik.com/@jcomp)

JAKARTA, WongKito.co - Isu fatherless menjadi perbincangan hangat di media sosial beberapa waktu lalu. Tren ini muncul setelah sebuah penelitian menunjukkan Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia sebagai negara dengan angka fatherless tertinggi di dunia.

Fatherless adalah fenomena di mana peran ayah dalam pengasuhan anak tidak hadir, baik secara fisik maupun psikologis.

Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh, karena pertumbuhan fisik dan psikologis anak tetap membutuhkan perhatian dan bimbingan dari kedua orang tua. Sayangnya, masih banyak keluarga yang mengabaikan pentingnya isu ini.

Menurut data UNICEF pada tahun 2021, sekitar 20,9% anak-anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Angka ini setara dengan sekitar 30,83 juta anak usia dini, atau kurang lebih 2.999.577 anak yang kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka.

Survei BPS tahun 2021 menunjukkan, hanya 37,17% anak usia 0-5 tahun yang dirawat secara bersamaan oleh ayah dan ibu kandung. 

Faktor Penyebab dan Dampaknya

Kondisi ini umumnya disebabkan oleh beberapa ayah yang harus berpisah jarak dengan anaknya karena tuntutan pekerjaan, sehingga keterlibatan mereka dalam pengasuhan menjadi terbatas.

Selain itu, budaya patriarki di Indonesia yang menganggap pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu. Faktor lain yang mempengaruhi fenomena fatherless di Indonesia termasuk perceraian, kematian ayah, serta ketidakmampuan ayah untuk terlibat langsung dalam kehidupan anak akibat kurangnya edukasi dan informasi tentang pengasuhan.

Dilansir dari unair.ac.id, fatherless dalam kehidupan seorang anak dapat memberikan dampak signifikan pada berbagai aspek perkembangan, baik emosional, psikologis, maupun sosial.

Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah sering menghadapi tantangan sosial, seperti rendahnya rasa percaya diri dan keterbatasan dalam keterampilan bersosialisasi, yang pada akhirnya memengaruhi prestasi akademik serta kualitas hubungan dengan orang lain.

Secara psikologis, absennya ayah dapat menyebabkan ketidakstabilan emosional dan meningkatkan risiko anak mengalami gangguan kecemasan maupun depresi

Anak mungkin merasa ada yang kurang atau bertanya-tanya mengapa ayah tidak hadir dalam hidup mereka. Ketidakstabilan ini juga dapat memengaruhi pandangan mereka terhadap hubungan interpersonal, termasuk tingkat kepercayaan terhadap orang lain. Bagi anak-anak yang tumbuh tanpa ayah, kehilangan itu selalu terasa sangat pribadi.

Kenapa Hari Ayah Penting Diperingati?

Hari Ayah 2025 adalah momen yang tepat untuk merayakan kasih sayang, pengorbanan, dan bimbingan dari para ayah maupun sosok yang berperan sebagai ayah.

Sama seperti Hari Ibu, peringatan ini menjadi ajang untuk menghargai cinta, kekuatan, dan perjuangan para ayah, mereka yang membentuk dunia kita lewat kedisiplinan, dukungan, serta nasihat khas seperti ‘karena Ayah bilang begitu.’

Hari Ayah diperingati setiap tahun pada hari Minggu ketiga di bulan Juni. Beberapa negara seperti India, Amerika Serikat, dan Inggris merayakannya di bulan Juni.

Sementara negara lain seperti Italia, Spanyol, Kroasia, dan Portugal memperingati Hari Ayah pada 19 Maret, bertepatan dengan Hari Santo Yusuf.

Indonesia secara khusus menetapkan Hari Ayah Nasional setiap tanggal 12 November setiap tahunnya. Dengan demikian, pada tahun 2025, Hari Ayah Nasional akan diperingati pada hari Rabu, 12 November 2025.

Gagasan lahirnya Hari Ayah Nasional di Indonesia berawal setelah peringatan Hari Ibu di Solo pada tahun 2014. Saat itu, muncul pertanyaan dari sebuah komunitas tentang alasan mengapa hanya ada Hari Ibu, tetapi belum ada Hari Ayah.

Menanggapi hal tersebut, Paguyuban Satu Hati, komunitas yang fokus pada isu keluarga, mengambil inisiatif untuk membuat deklarasi. Deklarasi Hari Ayah Nasional sekaligus Hari Ayah Sedunia pun digelar di Solo, Jawa Tengah, pada 12 November 2014. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan secara resmi dan diperingati secara nasional pada tahun-tahun berikutnya.

Selama ini, sosok ayah sering dipandang sebagai sosok yang kuat dan pekerja keras, tapi jarang mendapat kesempatan untuk mengekspresikan sisi emosionalnya.

Hari Ayah menjadi momen untuk menghargai peran ayah secara uuh, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik, pelindung, dan teladan moral bagi keluarga.

Menurut psikolog keluarga Seto Mulyadi (Kak Seto), kehadiran dan kasih sayang ayah sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan karakter anak.

“Anak yang dekat dengan ayah biasanya memiliki rasa percaya diri lebih tinggi dan kemampuan sosial yang lebih baik,” ujarnya dalam seminar Hari Ayah Nasional 2018.

Selain itu, peringatan ini juga menjadi pengingat bahwa tanggung jawab keluarga seharusnya dijalankan secara bersama antara ayah dan ibu, bukan hanya dibebankan pada satu pihak.

Peringatan Hari Ayah kini memiliki makna yang lebih luas. Tidak hanya terbatas pada keluarga inti, tetapi juga untuk menghormati semua figur ayah, mulai dari ayah tunggal, ayah tiri, kakek yang membesarkan cucu, hingga sosok ayah di komunitas sosial yang memberikan contoh dan perlindungan bagi anak-anak di sekitarnya.

Di era modern, Hari Ayah juga menjadi momentum untuk menekankan kesetaraan peran orang tua, pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, serta dukungan bagi ayah yang aktif terlibat dalam pengasuhan anak.

Ayah memegang peranan penting dalam membentuk pemahaman yang lebih akurat dan inklusif mengenai dinamika keluarga serta perkembangan anak. Ayah berkontribusi secara signifikan terhadap kesejahteraan emosional, sosial, kognitif, dan fisik anak-anak mereka.

Peran ayah sangatlah penting dalam keluarga, dan banyak bukti menunjukkan betapa besar pengaruh mereka serta alasan kita merayakan Hari Ayah.

Melansir dari Psychology Today, menghargai peran ayah berarti mengakui kontribusi mereka yang tak ternilai, merayakan pengaruh dan peran mereka dalam keluarga, serta mendukung kesehatan mental mereka.

Penting untuk menunjukkan apresiasi dan rasa hormat terhadap peran unik dan vital yang dimainkan ayah dalam kehidupan anak-anak serta dinamika keluarga secara keseluruhan.

Perayaan Hari Ayah dan momen serupa secara bijaksana dapat memperkuat pentingnya peran ayah sekaligus menguatkan ikatan keluarga.

Menyadari tantangan kesehatan mental yang mungkin dihadapi ayah dan mendorong strategi kesejahteraan dapat menghasilkan keluarga yang lebih sehat dan bahagia.

Hari Ayah menjadi waktu yang tepat untuk memfokuskan perhatian pada kesehatan mental ayah serta mengenali tantangan unik yang mereka hadapi.

Dengan mendorong percakapan terbuka, mendukung perawatan diri, menghargai kontribusi mereka, dan meningkatkan kesadaran, bukan hanya ayah yang diuntungkan, tetapi juga seluruh unit keluarga dan komunitas.

Dengan membongkar anggapan bahwa ayah tidak penting, kita dapat membangun pemahaman yang lebih inklusif tentang peran keluarga dan mendukung keterlibatan aktif ayah dalam kehidupan anak-anak mereka.

Hari Ayah dirayakan dengan penuh semangat setiap tahunnya. Kamu bisa membuat hari ini menjadi lebih istimewa dengan menghabiskan waktu berkualitas bersama ayah, menonton film bersama, memberikan buku favoritnya, atau membantu menyelesaikan pekerjaan yang ada di daftar tugasnya.

Tindakan sederhana seperti itu menunjukkan rasa terima kasih dan kasih sayang. Jika kesehatan menjadi prioritas, kamu juga bisa memberikan keanggotaan gym atau berkomitmen untuk berolahraga bersama beberapa kali dalam seminggu. Cara ini bukan hanya mempererat hubungan, tetapi juga mendukung kesehatannya.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 12 November 2025.