Belajar Dasar Feminisme dan Sejarah Pergerakan Perempuan (2)

Senin, 04 Mei 2026 07:37 WIB

Penulis:Nila Ertina

Suasana Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang
Suasana Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang (Foto WongKito.co/Ist)

Azzahri Fahlepi Putra*

AKU datang ke kelas itu sebagai laki-laki yang selama ini merasa cukup mengenal dunia. Tumbuh dengan keyakinan bahwa selama tidak merendahkan perempuan, tidak melarang mereka sekolah, tidak membatasi pilihan hidup mereka, maka sudah berada di sisi yang benar. Karena pikirku  kesetaraan adalah sesuatu yang sudah selesai dibicarakan. Sesuatu yang sudah “normal.” Sesuatu yang tidak lagi perlu diperjuangkan terlalu keras. Tapi hari itu, ketika pembahasan tentang pemikiran feminis dimulai, aku sadar selama ini bukan benar-benar paham, aku hanya merasa paham.

Di ruang belajar itu, untuk pertama kalinya aku memahami bahwa feminisme bukan tentang siapa yang lebih kuat antara laki-laki dan perempuan. Bukan tentang perempuan ingin mengambil alih ruang laki-laki. Dan jelas bukan seperti stigma yang sering didengar sejak kecil, perempuan yang terlalu vokal, terlalu bebas, atau melawan kodrat.

Feminisme, yang selama ini terdengar asing di telingaku sebagai laki-laki, ternyata adalah cara melihat manusia secara utuh, bahwa setiap orang berhak hidup dengan martabat, kesempatan, dan penghargaan yang setara, tanpa dibatasi oleh jenis kelamin.

Baca Juga:

Kesadaran itu datang pelan, lalu menghantam lebih keras dari yang kukira.

Aku mulai sadar, banyak hal yang selama ini dianggap biasa, ternyata tidak pernah benar-benar netral. Banyak fasilitas publik, banyak kebijakan, bahkan banyak cara kita membangun kehidupan sehari-hari, ternyata lebih sering dibuat dari sudut pandang laki-laki termasuk oleh laki-laki, bahkan tidak sadar sedang menjadi pusat dari cara pandang itu.

Momen yang paling membekas justru datang dari hal yang sangat sederhana, air.

Selama hidup, aku selalu berpikir air adalah kebutuhan yang sama bagi semua orang. Untuk minum, mandi, mencuci.. Tidak pernah lebih jauh dari itu. Aku tidak pernah mempertanyakan siapa yang akan paling terdampak ketika air bersih sulit didapat. Aku tidak pernah membayangkan bahwa bagi perempuan, air bukan hanya soal kebutuhan dasar, tapi juga soal kesehatan, kenyamanan, dan martabat.

Ketika pembahasan masuk pada pengalaman biologis perempuan, tentang menstruasi, tentang kebutuhan kebersihan tubuh, tentang bagaimana akses terhadap air bersih bisa menentukan kesehatan reproduksi, aku terdiam.

Sebagai laki-laki, aku merasa seperti baru melihat dunia dari jendela yang selama ini tertutup.

Aku mulai berpikir tentang perempuan-perempuan di sekitarku. Ibuku, adikku. Teman perempuan. Jurnalis perempuan yang pernah turun liputan bersamaku. Berapa banyak dari mereka yang menjalani kebutuhan-kebutuhan itu tanpa pernah benar-benar kupahami?

Dan yang membuatku semakin gelisah adalah kenyataan bahwa ketidaktahuan bukan sesuatu yang personal. Ia sistemik. Aku dibesarkan di lingkungan yang tidak pernah mengajarkan laki-laki untuk memahami tubuh perempuan, kebutuhan perempuan, atau pengalaman perempuan secara utuh.

Kami diajarkan melindungi perempuan. Tapi tidak diajarkan mendengarkan mereka.

Kami diajarkan menjadi pemimpin. Tapi tidak diajarkan mempertanyakan privilege.

Kami diajarkan bicara. Tapi jarang diajarkan memahami.

Hari-hari berikutnya, pembelajaran masuk ke sejarah perjuangan perempuan.

Dan lagi-lagi, aku dibuat merasa kecil.

Aku belajar bahwa hak-hak yang hari ini terlihat “biasa”, perempuan bersekolah, bekerja, memilih pemimpin, menentukan masa depan, ternyata bukan hadiah dari sistem yang baik. Semua itu adalah hasil dari perjuangan panjang, perlawanan, pengorbanan, bahkan darah.

Aku mengenal lebih dekat tokoh-tokoh perempuan yang selama ini hanya dengar namanya di buku sekolah. Aku belajar bagaimana perempuan di berbagai belahan dunia harus melawan negara, budaya, agama yang ditafsirkan sempit, bahkan keluarga mereka sendiri, hanya untuk mendapatkan hak yang hari ini sering kita anggap sudah sewajarnya ada.

Di Indonesia, kisah itu terasa lebih dekat.

Aku melihat bagaimana perempuan tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk bangsanya. Dari masa kolonial, masa kemerdekaan, hingga hari ini, mereka selalu ada di garis depan, meski nama mereka tidak selalu tercatat.

Dan sebagai laki-laki, itu memukul ego.

Karena aku mulai sadar, banyak ruang yang hari ini kunikmati, banyak kemudahan yang dianggap biasa, ternyata dibangun di atas sistem yang lebih ramah kepada laki-laki dibanding kepada perempuan.

Aku bisa pulang malam tanpa banyak pertanyaan.

Aku bisa berbicara keras tanpa dianggap emosional.

Aku bisa ambisius tanpa dicap egois.

Aku bisa memimpin tanpa lebih dulu membuktikan bahwa aku "layak".

Dan aku tidak pernah benar-benar menyadari itu, sampai mengikuti kelas feminis Solidaritas Perempuan (SP) Palembang ini.

Di akhir tahap pertama, aku tidak merasa menjadi ahli feminisme. Justru sebaliknya,  merasa baru sadar betapa sedikitnya yang ku tahu.

Tapi mungkin, di situlah semuanya dimulai.

Bukan dari merasa paling mengerti.

Baca Juga:

Melainkan dari keberanian untuk mengakui bahwa sebagai laki-laki, aku tumbuh dalam sistem yang menguntungkan dan terlalu lama aku menganggap itu normal.

Hari itu, aku belajar satu hal penting, feminisme bukan membuat aku kehilangan posisi sebagai laki-laki. Feminisme justru mengajarkan bagaimana menjadi laki-laki yang lebih manusia.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak sedang belajar tentang perempuan.

Aku sedang belajar tentang diriku sendiri.(Bersambung)

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2023