BMKG Ingatkan! El Nino Picu Kemarau Kering di Sumsel

Jumat, 24 April 2026 20:43 WIB

Penulis:Nila Ertina

Ilustrasi tanah kekeringan
Ilustrasi tanah kekeringan (Foto AI)

PALEMBANG, WongKito.co — Pemerintah dan masyarakat di Sumatera Selatan diminta meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman musim kemarau panjang dan kering akibat fenomena El Nino tahun ini.

Peringatan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan, Kebun, dan Lahan (Karhutbunla) yang digelar di Auditorium Pemprov Sumsel, Jumat (24/4/2026). Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Sumsel, Wandayantolis, menyebut musim kemarau diprediksi datang lebih awal dengan intensitas yang lebih ekstrem.

“Mulai Mei kita sudah masuk kemarau, dan puncaknya akan sangat kering dengan curah hujan di bawah normal,” ujarnya.

Baca Juga:

Menurutnya, kondisi ini diperparah fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua, yang menyebabkan distribusi uap air bergeser ke Samudera Hindia dan Afrika, sehingga wilayah Indonesia, termasuk Sumsel, berpotensi mengalami kekeringan.

BMKG mencatat, April masih menjadi puncak musim hujan dengan curah tinggi dalam sepekan terakhir. Namun, memasuki Mei hingga Juni, intensitas hujan akan menurun drastis dan suhu udara meningkat. Bahkan hingga September, curah hujan diperkirakan tetap rendah sebelum kembali meningkat pada akhir Oktober.

Menanggapi hal tersebut, Gubernur Sumsel Herman Deru menegaskan bahwa peringatan ini menjadi dasar untuk memperkuat langkah mitigasi, khususnya dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai pijakan agar kita bisa melakukan pencegahan lebih dini. Dampaknya besar, terutama terhadap kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Pemerintah Provinsi bersama Satgas Karhutla dan Forkopimda kini mulai memetakan ulang titik rawan kebakaran serta menyiapkan langkah antisipatif, termasuk pemantauan kualitas udara melalui Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dan kesiapsiagaan personel di lapangan.

Baca Juga:

Herman Deru menekankan bahwa pola titik rawan kebakaran cenderung berulang setiap tahun, sehingga upaya pencegahan harus diperkuat sebelum memasuki puncak kemarau.

“Kita harus bergerak sebelum api muncul dan meluas,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kota Palembang, Aprizal Hasyim, mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar, mengingat kondisi cuaca kering sangat berisiko memicu kebakaran.

Dengan proyeksi kemarau ekstrem tahun ini, pemerintah menekankan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menekan potensi karhutla yang dapat berdampak luas terhadap lingkungan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi di Sumatera Selatan.(ril)