UMKM
Jumat, 24 April 2026 18:06 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA – Sektor riil yang kuat menjadi dasar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta menciptakan dampak berantai (multiplier effect) bagi ekonomi daerah secara berkelanjutan. Mendukung visi pembangunan nasional dalam Asta Cita, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk lewat program Klasterku Hidupku berupaya memperkuat kemandirian pangan, memperluas pemerataan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemberdayaan berbasis klaster menjadi pendekatan untuk memperkuat struktur ekonomi dari level akar rumput. Dengan pengelompokan berdasarkan kesamaan sektor dan wilayah, pelaku usaha tidak hanya tumbuh secara individu, tetapi juga saling terhubung dalam ekosistem yang memperkuat kapasitas kolektif serta membangun rantai nilai yang lebih terintegrasi di tingkat lokal.
Tercatat, hingga Maret 2026, BRI telah membina 43.789 klaster usaha yang didukung oleh sekitar 3 ribu kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan hingga penyediaan sarana dan prasarana produksi. Upaya ini diarahkan pada sektor-sektor riil yang berkontribusi langsung dalam menciptakan nilai tambah dan menggerakkan ekonomi daerah.
BACA JUGA: BRI Hadir di Garda Terdepan, Money Changer Resmi Beroperasi di PLBN Motaain
Adapun, sebanyak 82,39% klaster yang dibina BRI berada pada sektor produksi, dengan sektor pertanian sebagai kontributor terbesar sebesar 48,26%. Sementara itu, sisa 17,61% lainnya berasal dari sektor non-produksi. Kedua sektor ini menjadi motor penciptaan nilai tambah dan penggerak utama aktivitas ekonomi di daerah.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa BRI terus mengembangkan program Klasterku Hidupku sebagai pendekatan pemberdayaan untuk mendampingi pelaku usaha, termasuk petani, agar dapat tumbuh secara berkelanjutan dan naik kelas. “Pemberdayaan berbasis komunitas cenderung lebih efektif untuk UMKM karena menyasar tidak hanya aspek finansial, tetapi juga perilaku, kapasitas, dan jejaring usaha secara kolektif,” ujar Akhmad.
Akhmad juga menjelaskan bahwa pendekatan berbasis klaster juga membuka peluang lahirnya komoditas unggulan bernilai tambah tinggi. “Melalui skema klaster, BRI tidak hanya menghadirkan akses pembiayaan, tetapi juga memperkuat koneksi antar pelaku usaha dalam satu ekosistem yang saling mendukung, sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi secara kolektif,” ujarnya.
Selaras dengan penguatan klaster usaha, BRI juga memperluas akses keuangan di tingkat komunitas. Dari lebih dari 508 ribu anggota klaster, sekitar 87,7% telah memiliki rekening di BRI dan terhubung dengan fasilitas pembiayaan untuk mendukung keberlanjutan usahanya.
Untuk memastikan keberlanjutan pemberdayaan, inisiatif ini melengkapi berbagai program BRI lainnya. Hingga Maret 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau 5.245 desa. Di sisi lain, BRI juga mengembangkan 54 Rumah BUMN yang telah memberdayakan 559.897 pelaku UMKM melalui 18.218 kegiatan pelatihan. Selain itu, platform LinkUMKM telah digunakan oleh 15,57 juta pengguna. Seluruh inisiatif tersebut dijalankan secara terpadu untuk memperkuat peran BRI sebagai agent of development dalam mendukung UMKM dan mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan nasional.
Tulisan ini telah tayang di jogjaaja.com oleh Redaksi pada 24 Apr 2026