ridwan kamil
Sabtu, 19 September 2026 11:13 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Nila Ertina

PERJALANAN kali ini membawa saya meninggalkan Palembang dengan tujuan akhir Kota Kembang, Bandung. Pagi itu, saya memulai perjalanan udara dengan pesawat. Tak butuh waktu terlalu lama, pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang, Banten, Minggu (13/9/2026).
Namun, petualangan yang sesungguhnya baru dimulai setelah pintu bandara. Dari CGK, saya langsung melanjutkan perjalanan menggunakan jasa travel menuju Bandung, Jawa Barat.
Sepanjang jalur darat, pemandangan perlahan berubah dari hiruk-pikuk batas ibu kota menjadi bentangan perbukitan hijau khas Jawa Barat, hingga akhirnya kendaraan membawa saya tiba di hotel yang terletak di dekat kawasan legendaris, Jalan Braga.
Baca Juga:
Setelah menaruh barang dan melepas lelah sejenak, perut yang lapar menuntun saya ke jalanan kota. Di sinilah saya menemukan kelezatan yang tak terduga. Di pinggir jalan, seorang pedagang gerobakan menyajikan semangkuk Bakso Cuanki hangat.
Begitu dicicipi, rasanya luar biasa enak kuah kaldunya yang gurih mantap bertabur pangsit renyah dan pentol yang kenyal sama sekali tidak kalah dengan rasa makanan restoran bintang lima. Menyantap bakso cuanki hangat di pinggir jalan ini menjadi sambutan kuliner Bandung yang paling berkesan.
Malam pun tiba, dan Jalan Braga menunjukkan pesona magisnya yang sesungguhnya. Suasana di Braga begitu ramai dan hidup. Jalanan dipadati oleh lalu lalang orang, melintasi deretan gedung tua bergaya Eropa yang estetik.
Sudut-sudut jalanan ini seolah dipenuhi oleh energi kreativitas, ada musik jalanan yang syahdu, wangi aroma kopi dan makanan enak dari berbagai kedai, serta barisan lampu-lampu kota yang temaram. Sepanjang jalan, mata saya dimanjakan oleh begitu banyaknya spot foto yang bagus dan instagramable, membuat siapa saja ingin mengabadikan momen di sana.
Baca Juga:
Melangkah sedikit lebih jauh, perjalanan malam saya membawa saya ke arah Alun-Alun, tepat di bawah kolong Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Asia Afrika. Di bawah struktur jembatan ikonik yang membelah jalan bersejarah tersebut, saya berhenti untuk berfoto di depan dinding legendaris. Di sana terpahat kutipan terkenal dari M.A.W. Brouwer yang berbunyi: "Bumi Pasundan Lahir Ketika Tuhan Sedang Tersenyum".
Berdiri di sana, berfoto di bawah pendar lampu kota di samping tulisan tersebut, saya merasakan kedamaian dan romantisnya kota ini.
Bandung malam itu, dengan segala keramaian Braga, kehangatan cuanki gerobakan, dan sudut-sudut indahnya, benar-benar membuktikan bahwa kutipan di dinding jembatan itu bukanlah sekadar untaian kata kosong.(Senia Aprinia Sari)