Cek ini Harga BBM Pertamina Juli 2026

Rabu, 01 Juli 2026 11:32 WIB

Penulis:Nila Ertina

Cek ini Harga BBM Pertamina Juli 2026
Cek ini Harga BBM Pertamina Juli 2026 (Foto Ist)

JAKARTA, WongKito.co – PT Pertamina Patra Niaga kembali menyesuaikan harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai 1 Juli 2026. Kali ini, penurunan terjadi pada produk diesel dan bensin RON tinggi.

Harga Pertamax Turbo turun dari Rp20.750 menjadi Rp19.950 per liter. Sementara Dexlite turun dari Rp23.000 menjadi Rp22.150 per liter, dan Pertamina Dex turun dari Rp24.800 menjadi Rp23.250 per liter.

Namun, dua produk yang paling banyak diperhatikan kelas menengah—Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95—belum ikut turun. Keduanya tetap bertahan di level tinggi pasca lonjakan harga pada pertengahan Juni: Pertamax di Rp16.250 per liter dan Pertamax Green di Rp17.000 per liter.

Baca Juga:

BBM subsidi juga tetap tidak berubah. Pertalite masih Rp10.000 per liter dan Biosolar subsidi bertahan di Rp6.800 per liter.

Tabel Harga BBM Pertamina Juli 2026 (Jabodetabek)

ProdukJuni 2026Juli 2026Perubahan
Pertalite (RON 90)Rp10.000Rp10.000Tetap
Biosolar SubsidiRp6.800Rp6.800Tetap
Pertamax (RON 92)Rp16.250Rp16.250Tetap
Pertamax Green 95Rp17.000Rp17.000Tetap
Pertamax Turbo (RON 98)Rp20.750Rp19.950-Rp800
Dexlite (CN 51)Rp23.000Rp22.150-Rp850
Pertamina Dex (CN 53)Rp24.800Rp23.250-Rp1.550

Kenapa BBM Turun Setelah Naik Tajam?

Juni menjadi bulan yang ekstrem bagi pasar energi. Di awal bulan, konflik geopolitik di Timur Tengah—terutama ketegangan terkait Iran dan ancaman gangguan distribusi melalui Selat Hormuz—sempat mendorong harga minyak melonjak tajam hingga memicu kenaikan BBM nonsubsidi di Indonesia.

Tetapi memasuki akhir Juni, tekanan itu mulai mereda. Harga minyak Brent yang sempat mendekati US$80 per barel kini turun ke kisaran US$69–72 per barel, seiring meredanya premium risiko geopolitik dan berkurangnya kekhawatiran gangguan pasokan global. Koreksi inilah yang mulai tercermin pada harga BBM Juli.

Meski begitu, penurunan belum merata. Alasannya sederhana: formula harga BBM nonsubsidi Pertamina tidak hanya bergantung pada harga minyak mentah, tetapi juga MOPS (Mean of Platts Singapore) serta kurs rupiah terhadap dolar AS.

Masalahnya, rupiah masih lemah. Selama nilai tukar masih berada di atas Rp16.000 per dolar AS, biaya impor BBM tetap mahal. Itu sebabnya Pertamina belum menurunkan Pertamax, meski harga minyak dunia sudah mendingin.

Kenapa Pertamax Belum Turun?

Secara teori, jika harga minyak dunia turun, harga Pertamax seharusnya ikut turun. Bahkan sejumlah ekonom memperkirakan harga wajarnya bisa mendekati Rp15.500 per liter. Namun ada dua faktor yang membuat penurunan tertahan:

1. Kenaikan Pertamax baru terjadi 10 Juni
Pertamina baru menaikkan harga Pertamax sekitar tiga minggu lalu. Secara bisnis, perusahaan cenderung tidak mengubah harga terlalu cepat agar volatilitas tidak terlalu ekstrem.

2. Rupiah belum pulih signifikan
Ketika rupiah melemah, biaya pembelian BBM impor tetap tinggi meski crude oil turun. Dengan kata lain, minyak global turun, tapi dolar masih mahal.

Siapa yang Paling Diuntungkan?

Penurunan kali ini paling terasa bagi pengguna kendaraan diesel dan premium fuel. SUV diesel seperti Toyota Fortuner atau Mitsubishi Pajero Sport yang rutin mengisi Pertamina Dex akan merasakan penghematan lumayan.

Dengan tangki 80 liter, penurunan Rp1.550 per liter berarti sekali isi penuh kini lebih hemat sekitar Rp124.000 dibanding bulan lalu. Efek lebih besar terasa di sektor logistik.

Baca Juga:

Truk distribusi dengan konsumsi 250 liter per hari bisa menghemat sekitar:

250 × Rp850 = Rp212.500 per hari

Dalam sebulan, penghematan bisa mencapai sekitar Rp6,3 juta per unit jika memakai Dexlite. Bagi bisnis logistik, margin sekecil ini tetap berarti.

Pertalite Aman, Tapi Waspadai Agustus

Untuk mayoritas pengguna motor dan mobil LCGC, kabar bulan ini relatif tenang. Pertalite tetap Rp10.000 dan belum ada indikasi pemerintah akan mengubah harga subsidi dalam waktu dekat.

Namun risiko belum hilang. Jika ketegangan Timur Tengah kembali memanas atau rupiah kembali tertekan, harga BBM nonsubsidi bisa kembali naik pada Agustus. Artinya, penurunan Juli ini belum tentu menandai tren turun jangka panjang.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Chrisna Chanis Cara pada 01 Jul 2026