Palembang
Minggu, 15 Februari 2026 15:13 WIB
Penulis:Nila Ertina

PALEMBANG, WongKIto.co - Salah satu daerah di tepi Sungai Musi adalah Kampung Anyaman atau biasa disebut juga Kampung Daun Nipah. Karena semua masyarakatnya, terutama kaum perempuan mengantungkan hidup dengan bekerja sebagai pengrajin Daun Nipah.
Kampung tersebut, berlokasi di Kelurahan 3-4 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I. Seperti perkampungan pada umumnya di pinggiran kota terdapat gang-gang sempit dengan rumah yang rapat. Rumah-rumah kayu dan beton berdiri dengan kokoh dan rapat. Di depan rumah, tampak lembaran daun nipah dijemur rapi diatas para-para bambu. Ada yang kering dan ada yang basah, sehingga menciptakan aroma yang khas.
Pada salah satu rumah, seorang perempuan paruh baya duduk bersila dilantai semen beralaskan tikar, dengan cekatan tangannya menyilangkan helaian lidi nipah yang telah dikeringkan. Gerakannya begitu teratur dan nyaris tanpa jeda. Di sampingnya, tumpukan lidi nipah yang sudah kering dan siap untuk di olah menjadi anyaman tampah.
Baca Juga:
Namanya Dayati (65), perempuan lanjut usia yang sudah bekerja sebagai pengrajin tampah dari lidi nipah sejak usianya remaja. Meskipun diusianya yang tidak muda lagi, ia masih mampu membuat 15 anyaman tampah dalam sehari.
Kemampuannya dalam menganyam, ia dapatkan dari hasil belajar bersama orang-orang yang sudah bisa. Pada masa-masa itu, kesulitan yang di alaminya ialah ketidakmampuannya dalam menghaluskan lidi nipah, sehingga sulit untuk dianyam.
“Kita belajar sama orang-orang yang sudah bisa buat anyaman. Dan lama-lama, akhirnya bisa buat sampai sekarang. Karena kan, di kampung ini pengrajin semua,” ujarnya Dayati, diwawancarai belum lama ini.
Perempuan dengan Beban Ganda
Menjadi pengrajin daun nipah merupakan keinginannya sendiri sejak remaja. Terutama ketika suaminya meninggalkannya bersama delapan anak. Ia semakin meniatkan dihati untuk tidak bekerja sebagai asisten rumah tangga. Menurutnya, itu akan menyulitkannya dalam mengasuh anak-anaknya.
Sedangkan pekerjaan pengrajin anyaman, bisa dikerjakan di rumah dan ia bisa mengawasi anak-anaknya serta bisa mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Setiap seminggu sekali, daun nipah diantar ke Kampung Anyaman dari daerah Jalur, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan dengan jumlah banyak. Orang yang membawa daun nipah tersebut, memberikan upah kepada pengrajin disana. Untuk bisa menjadi bahan anyaman, daun nipah harus dipilih. Dan daun nipah yang berwarna hitam akan disingkirkan dan hanya diambil lidinya saja.
Setelahnya, daun nipah akan melalui beberapa proses yang bisa dibilang gampang-gampang susah karena tergantung cuaca. Dayati menjelaskan, sebelum diolah menjadi nampah, lidi harus dipisahkan dari daun nipah terlebih dahulu. Kemudian, lidi dijemur hingga kering, hal ini untuk menghaluskan sekaligus memudahkan ketika dianyam. Waktu penjemuran cukup sehari jika cuaca panas, tapi bisa berhari-hari jika cuaca hujan.
Untuk menganyamnya, lidi-lidi nipah disusun bertumpuk menyilang untuk dijadikan sebagai tatakan tampah. Agar lebih kuat dan rapih, maka bagian tersebut ditali dengan tali rapiah besar. Setelah itu, lidi-lidi mulai dilekuk-lekukkan untuk membentuk tampah hingga sempurna.
Hasil anyamannya dijual di pasar tradisional, atau agen serta dijual langsung dengan harga satuan Rp15 ribu. Namun, beberapa pesanan juga datang dari berbagai daerah atau luar kota, seperti Bengkulu dan Jambi.
“Sekarang orang-orang berdatangan beli, saya juga pernah menjual langsung ke pasar,” ujarnya.
Digeser Bahan Plastik
Kekinian, tantangan tidak bisa dihindari lagi di zaman yang sekarang serba modern. Karena anyaman daun nipah harus bersaing dengan produk-produk plastik yang lebih tahan lama dan praktis.
Sedangkan tampah anyaman nipah itu tampak sederhana, tapi dibalik itu, ada kesabaran dan kerja keras dari tangan-tangan pengrajin.
Dayanti bercerita produk plastik kini telah mendominasi, tetapi dia berharap agar masih ada orang atau pelaku usaha yang tetap berkomitmen mempertahankan peralatan yang ramah lingkungan tersebut.
Baca Juga:
Karena sesungguhnya, ada Dayanti dan perajin anyaman lain di kampung tersebut yang bergantung pada usaha yang digeluti sejak usia remaja.
Dengan tubuhnya yang semakin kehilangan kekuatannya seiring usia yang menua, ia masih terus melanjutkan pekerjaan menganyam. Karena inilah sumber utama penghasilan keluarganya.
Kampung Anyaman ini tidak hanya menghasilkan anyaman tampah saja, tapi juga, ada rokok daun nipah, piring, keranjang, tempat buah dan masih banyak lainnya.(Magang/Ani Mustika Wati/Ert)