Kompolnas
Selasa, 20 Oktober 2026 13:37 WIB
Penulis:Nila Ertina

LANGIT di atas Desa Seri Bandung, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, tampak kusam ketika mobil yang kutumpangi bersama tim liputan WongKito.co memasuki kawasan desa.
Matahari hanya terlihat samar di balik selimut asap. Setelah turun dari mobil, barulah aroma asap yang pekat menyergap, sementara udara terasa berat setiap kali ditarik ke dalam dada.
Di rumah-rumah warga, pintu dan jendela sebagian besar tertutup rapat. Debu tipis berwarna keabu-abuan menempel di teras, jendela, hingga perabot rumah.
Warga yang kutemui mengatakan kondisi seperti ini bukan baru terjadi sehari dua hari. Mereka telah hidup berdampingan dengan kabut asap selama berbulan-bulan.
Baca Juga:
Salah satunya adalah NA (32). Saat kami berbincang di rumahnya, ia bercerita bahwa setiap sore hingga malam hari, asap hampir selalu datang menyelimuti desa.
"Kalau sudah sore, asap pasti datang. Pernah satu hari dari pagi sampai malam benar-benar pekat. Mau lihat tetangga sebelah saja susah," katanya.
Sesak Napas menjadi Rutinitas
Bagi warga Seri Bandung, kabut asap bukan sekadar mengganggu jarak pandang. Dampak yang paling mereka rasakan adalah kesehatan.
NA mengatakan, selama musim kebakaran banyak warga mengalami batuk, pilek, demam, mata merah, hingga sesak napas. Anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas menjadi kelompok yang paling rentan.
Saat kami berkunjung, perhatian NA beberapa kali teralihkan kepada keponakannya, seorang penyandang disabilitas yang memiliki gangguan pernapasan.
Menurutnya, setiap kali asap semakin pekat, keponakannya hampir selalu mengalami sesak hingga sulit tidur.
Dengan nada lirih, ia menceritakan bagaimana malam sebelumnya harus berjaga hingga sekitar pukul 02.00 WIB karena keponakannya terus kesulitan bernapas. Hidung anak itu tersumbat akibat paparan asap sehingga tidak bisa terlelap.
Beruntung, keluarganya sudah menerima bantuan berupa tabung oksigen, masker, dan obat-obatan dari Solidaritas Perempuan (SP).
"Alhamdulillah kami dapat bantuan oksigen. Sebelum tidur langsung saya pasangkan dulu karena dia sesak, baru setelah itu bisa tidur," ujarnya.
Kata NA, dokter telah menyarankan agar keluarganya selalu menyediakan alat bantu oksigen di rumah. Sebagai penyandang disabilitas, keponakannya lebih mudah mengalami gangguan pernapasan ketika kualitas udara memburuk.
Bahkan, ia memilih melakukan penanganan awal di rumah karena sang keponakan mengalami trauma jika harus dibawa ke rumah sakit.
"Dokter menyarankan alat ini selalu siap di rumah. Kalau sewaktu-waktu terjadi kebakaran lagi dan dia sesak, kami bisa langsung membantu pernapasannya," katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan Emilia (40). Menurutnya, asap dari pembakaran lahan maupun tebu jauh lebih menyengat dibandingkan asap biasa.
"Kalau asap tebu itu lebih pedas. Mata merah, hidung perih, banyak yang ISPA juga," ujarnya.
Emilia mengatakan, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak. Kualitas udara yang terus memburuk bahkan membuat kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi pembelajaran daring selama beberapa pekan.
"Anak-anak sekarang sekolahnya daring karena asapnya memang sudah terlalu pekat," katanya.
Debu Masuk Hingga ke Dalam Rumah
Kabut asap juga mengubah rutinitas para ibu rumah tangga. Saat memasuki rumah NA, aku melihat lantai yang baru saja disapu. Namun, menurutnya, beberapa jam kemudian debu akan kembali menempel.
"Disapu berkali-kali tetap saja ada debu. Abu masuk ke rumah, masuk ke sumur juga. Air itu tetap kami pakai untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari," ujarnya.
Emilia mengaku pekerjaan rumah kini menjadi dua kali lebih berat.
"Biasanya cukup bersih-bersih pagi hari. Sekarang sebelum tidur harus mengepel lagi karena debunya terus masuk. Kasur dan bantal juga cepat kotor," katanya.
Hidup dalam Rasa Cemas
Bukan hanya kesehatan yang terganggu. Kabut asap juga membuat warga hidup dalam kecemasan setiap hari.
NA bercerita, keluarganya sering menerima telepon pada malam hari untuk memastikan kondisi kebun. Mereka khawatir api merambat hingga membakar lahan milik warga.
"Kadang malam dapat telepon suruh cek kebun karena ada api. Jadi tidak pernah benar-benar tenang," katanya.
Desa Seri Bandung berada dekat dengan kebun tebu Cinta Manis, milik PTPN I Regional 7 di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
Baca Juga:
Di tengah kondisi tersebut, warga berharap ada perhatian lebih, terutama terkait edukasi kesehatan dan perlindungan bagi masyarakat yang setiap hari menghirup udara tercemar.
Menurut NA, selama musim kabut asap mereka hampir tidak pernah mendapatkan penyuluhan mengenai dampak kesehatan maupun langkah-langkah pencegahan. Pembagian masker dan bantuan kesehatan pun dinilai masih sangat terbatas.
"Kalau sosialisasi soal kesehatan selama musim asap belum pernah ada. Harapan kami ada penyuluhan sekaligus pembagian masker, terutama untuk anak-anak dan lansia," katanya.
Menjelang sore, aku dan tim liputan WongKito.co berpamitan meninggalkan Desa Seri Bandung. Di sepanjang perjalanan keluar desa, aroma asap masih menyelimuti udara, seolah mengingatkan bahwa perjuangan warga menghadapi kabut belum benar-benar usai.
Di balik kabut yang terus datang setiap hari, tersimpan cerita tentang keluarga yang berjuang menjaga napas orang-orang tercinta, ibu-ibu yang tak pernah selesai membersihkan rumah dari debu, serta anak-anak yang kehilangan ruang bermain dan belajar akibat udara yang tak lagi sehat.
Bagi warga Seri Bandung, kabut asap bukan lagi sekadar fenomena musim kemarau. "Setiap tahun kami menghirup asap dan tahun ini termasuk yang paling parah," kata Emilia.(*Nur Izzati Kharisma)
*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024