sopir angkot
Jumat, 25 September 2026 09:53 WIB
Penulis:Nila Ertina

PALEMBANG, WongKito.co – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mendukung pengembangan ekosistem kelapa Sumsel dari hulu hingga ke hilir.
Kepala Direktorat Pengawasan PUJK, EPK, LMSt OJK Sumsel, Tito Adji Siswantoro, mengatakan OJK mendorong pengembangan komoditas kelapa melalui pendekatan ekosistem closed loop.
"Kami menghubungkan petani dan kelompok tani, industri pengolahan, eksportir, lembaga jasa keuangan hingga pasar, sebagai upaya membangun ekosistem pertanian kelapa," kata dia dalam siaran pers, pada pelaksanaan Musyawarah Nasional II Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia (PERPEKINDO) bertema “Akselerasi dan Sinergi Pengembangan Komoditas Kelapa Melalui Akses Keuangan,
Rabu (23/9/2026).
Dia menjelaskan dukungan tersebut sebagai momentum memperkuat sinergi dalam pengembangan komoditas kelapa yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Baca Juga:
Kelapa merupakan salah satu komoditas strategis Sumatera Selatan dengan luas lahan sekitar 68 ribu hektare dan produksi lebih dari 61 ribu ton per tahun, dengan Kabupaten Banyuasin sebagai sentra Utama, ujarnya.
Menurut dia, besarnya potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui peningkatan produktivitas, hilirisasi, penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta perluasan akses pasar sehingga mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan perekonomian daerah.
Melalui sinergi ini, akses pembiayaan tidak berhenti pada petani, tetapi menjangkau seluruh mata rantai usaha, mulai dari produksi, pengolahan, investasi hingga pemasaran dan ekspor, tambahnya.
Sementara saat ini, dukungan pembiayaan dalam ekosistem closed loop kelapa di Sumatera Selatan telah mencapai Rp185,88 miliar.
"Kami berharap penguatan akses keuangan ini dapat menjadi daya ungkit bagi hilirisasi dan peningkatan nilai tambah komoditas kelapa Sumatera Selatan," kata Tito.
Diversifikasi Produk
Plt. Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, M. Ichwansyah, menyampaikan bahwa pengembangan kelapa perlu diarahkan dari produksi primer menuju hilirisasi dan industrialisasi.
“Potensi kelapa Sumatera Selatan tidak berhenti pada buah kelapa dan kopra. Berbagai bagian kelapa dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, mulai dari minyak kelapa, VCO, santan, tepung kelapa, sabut, arang tempurung hingga produk industri lainnya.
Baca Juga:
Karena itu, pengembangan kelapa harus dibangun dalam satu ekosistem industri dari hulu hingga hilir, sehingga investasi dan hilirisasi yang tumbuh benar-benar memberikan kepastian pasar, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan nilai ekonomi yang diterima petani.
Ke depan, OJK Sumsel berharap Munas II PERPEKINDO dapat menghasilkan rumusan dan langkah kerja konkret serta menjadi momentum untuk memperkuat konsolidasi antara pemerintah, OJK dan industri jasa keuangan, PERPEKINDO, pelaku usaha, eksportir, serta seluruh pemangku kepentingan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, mempercepat hilirisasi, memperluas akses pembiayaan dan pasar, serta meningkatkan daya saing komoditas kelapa, sehingga nilai tambah yang tercipta dapat semakin dirasakan oleh petani dan masyarakat sekaligus memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Sumatera Selatan dan nasional.(ril)