Sabtu, 18 April 2026 17:47 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

JAKARTA, WongKito.co - Pernah merasa “terpaksa” ikut makan di tempat mahal, beli outfit baru, atau ikut konser karena teman? Fenomena ini dikenal sebagai peer effect dalam ekonomi yakni pengaruh lingkungan sosial terhadap keputusan individu.
Dalam konteks keuangan, circle pertemanan bukan sekadar relasi sosial, tetapi faktor nyata yang memengaruhi kondisi finansial seseorang.
Apa Kata Riset soal Pengaruh Circle ke Dompet?
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Southern Economic Journal (2024) menunjukkan bahwa konsumsi seseorang sangat dipengaruhi oleh perilaku teman dalam jaringan sosialnya.
Dilansir dari laman Wiley Online Library, penelitian di 16 desa di Thailand menemukan bahwa peningkatan konsumsi “godaan” seperti alkohol, rokok, dan judi dalam kelompok berkorelasi dengan kenaikan hingga 1,5 kali lipat pada individu.
Sementara itu, riset lain dalam Journal of Consumer Behaviour menegaskan bahwa tekanan teman sebaya semakin kuat dalam kelompok dengan kedekatan emosional tinggi. Dilansir dari laman ResearchGate, semakin erat hubungan pertemanan, semakin besar pengaruhnya terhadap keputusan finansial.
Temuan penting:
FOMO
Penelitian netnografis terhadap Gen Z di Instagram dan TikTok (2024) menemukan bahwa kelompok ini cenderung impulsif dan hedonis dalam konsumsi. Dilansir dari laman ResearchGate, meskipun Gen Z punya kesadaran menabung, keputusan mereka mudah terganggu oleh influencer dan promosi digital.
Lebih lanjut, studi dalam jurnal yang dipublikasikan di ScienceDirect (2025) menunjukkan bahwa tekanan sosial bahkan lebih kuat memengaruhi keputusan finansial dibanding kontrol diri individu. Artinya, meski seseorang paham keuangan, tekanan circle tetap bisa membuatnya boros.
Ciri-cirinya:
Circle Bisa Jadi Racun atau Vitamin Finansial
Penelitian dalam Journal of Financial Counseling and Planning (2023) oleh LeBaron-Black dkk., dilansir dari laman jurnal tersebut, menemukan bahwa belajar keuangan dari teman sebaya justru sering mendorong kebiasaan finansial yang buruk. Sebaliknya, pengaruh keluarga dan pengalaman kerja lebih membentuk kebiasaan yang sehat.
Namun, ada sisi positif. Studi dalam Econometrica (2019) oleh Chandrasekhar dari Stanford University, dilansir dari laman Stanford University, menunjukkan bahwa berbagi informasi progres tabungan dalam kelompok dapat meningkatkan tabungan hingga 36%.
Dua sisi circle:
Circle “racun”:
Circle “vitamin”:
Pilih Circle-mu Seperti Memilih Investasi
Penelitian dalam Journal of Financial Economics (2024) menyebut bahwa informasi tentang pola pengeluaran kelompok sebaya dapat menjadi alat efektif untuk mengendalikan konsumsi dan meningkatkan tabungan. Ini menunjukkan bahwa circle bukan hanya faktor sosial, tetapi juga instrumen ekonomi yang bisa dimanfaatkan.
Kesimpulan praktis:
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 17 April 2026.