Harga Plastik Melonjak, Pedagang Kemplang Palembang Pertahankan Tarif

Selasa, 07 April 2026 16:13 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

IMG-20260407-WA0005.jpg
Meski biaya produksi mengalami peningkatan, pedagang di kawasan Jalan Sepakat, masih mempertahankan harga jual. (wongkito.co/Magang/Luthfiah Revalina)

PALEMBANG, WongKito.co – Kenaikan harga bahan pangan dan plastik kemasan mulai berdampak pada pelaku usaha kecil di Kota Palembang, termasuk pedagang kemplang dan kerupuk. Meski biaya produksi mengalami peningkatan, pedagang di kawasan Jalan Sepakat, Kelurahan Kemang Manis, Ilir Barat II terpantau masih mempertahankan harga jual.

Pemilik Agen Kerupuk dan Kemplang AM, Cece AM mengatakan, hingga saat ini belum ada kenaikan harga pada produk yang dijualnya. Ia mengaku masih memantau perkembangan harga bahan baku sebelum mengambil keputusan untuk menyesuaikan harga.

“Kalau soal kenaikan harga kemplang atau kerupuk itu masih sama, karena belum pasti dan kami masih melihat juga perkembangannya. Tapi kalau BBM naik, mungkin bisa jadi ikut naik juga, ada kemungkinan begitu,” ujar Cece dibincangi, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, kenaikan harga plastik kemasan menjadi salah satu tantangan tersendiri. Plastik yang digunakan untuk membungkus kemplang dan kerupuk mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, harga bahan baku seperti ikan dan tepung juga ikut terdampak karena kondisi pasar yang belum stabil.

Meski demikian, Cece mengaku belum berani menaikkan harga karena mempertimbangkan daya beli masyarakat. Ia khawatir jika harga dinaikkan terlalu cepat, pelanggan akan berkurang. 

Saat ini, harga kemplang super dijual Rp 48.000 per kilogram. Sementara itu, kemplang nomor dua dibanderol Rp 40.000 per kilogram. Cece menjelaskan, perbedaan antara kemplang super dan nomor dua terletak pada komposisi ikan.

“Kalau yang super itu ikannya lebih dominan dan lebih banyak, jadi rasa ikannya lebih terasa dan teksturnya juga lebih bagus. Kalau nomor dua, campuran ikannya tidak sebanyak yang super,” jelasnya.

Selain kemplang, agen tersebut juga menjual berbagai jenis kerupuk lainnya. Kerupuk keriting dijual dengan harga Rp 40.000 per kilogram, begitu pula dengan kerupuk kulit yang juga dipatok Rp 40.000 per kilogram. Harga tersebut masih bertahan meski biaya produksi mengalami peningkatan.

Cece menambahkan, kenaikan harga BBM menjadi faktor yang paling dikhawatirkan. Pasalnya, jika BBM naik, ongkos distribusi dan pengiriman barang otomatis ikut meningkat. 

Hal itu berpotensi mendorong kenaikan harga bahan baku maupun biaya operasional lainnya. “Kalau distribusi naik, otomatis semua ikut naik. Itu yang kami khawatirkan,” katanya.

Ia berharap kondisi harga bahan baku dan BBM tetap stabil agar pelaku usaha kecil seperti dirinya bisa terus bertahan tanpa harus membebani konsumen dengan kenaikan harga. Menurutnya, menjaga kualitas produk dan mempertahankan pelanggan menjadi prioritas utama di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Sementara itu, aktivitas penjualan di kawasan tersebut masih berjalan normal. Permintaan kemplang dan kerupuk tetap ada, terutama dari pelanggan tetap dan pembeli yang menjadikan produk tersebut sebagai oleh-oleh khas Palembang.

Para pedagang kini memilih untuk bersikap hati-hati dan terus memantau perkembangan harga di pasaran. Jika terjadi lonjakan biaya produksi yang signifikan, penyesuaian harga kemungkinan tidak dapat dihindari. Namun untuk saat ini, harga kemplang dan kerupuk di Kemang Manis masih relatif stabil. (Magang/Luthfiah Revalina)