Jumat, 29 Agustus 2025 06:41 WIB
Penulis:Susilawati
JAKARTA – Kabar panas beredar di pasar modal Indonesia. Salah satu anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang mengelola harta karun emas raksasa, proyek Emas Pani, dirumorkan akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada September 2025.
Jika rumor ini benar, IPO ini digadang-gadang akan menjadi yang terbesar sepanjang tahun ini. Nilainya bahkan berpotensi mengalahkan rekor IPO PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) milik Prajogo Pangestu yang berhasil menghimpun dana segar Rp2,37 triliun.
Kabar ini sontak memanaskan kembali sentimen di saham MDKA, yang di belakangnya ada nama-nama besar seperti Edwin Soeryadjaya dan Garibaldi 'Boy' Thohir. Lantas, seberapa besar sebenarnya harta karun emas Pani ini?
Baca juga:
Berdasarkan informasi dari website resmi MDKA, proyek Emas Pani akan beroperasi komersial pada 2026 itu, bukanlah proyek kaleng-kaleng. Berlokasi di Gunung Pani, Gorontalo, tambang ini digadang-gadang akan menjadi salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Pasifik. Potensinya sangat masif.
Tambang Emas Pani diperkirakan memiliki kandungan lebih dari 7 juta ons atau setara 217,7 ton emas, dengan umur tambang yang bisa mencapai puluhan tahun (multi-decade). Ini adalah aset kelas dunia yang akan menjadi mesin uang utama bagi Grup Merdeka di masa depan.
Sebagai perbandingan, tambang emas utama milik PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memiliki cadangan yang jauh lebih kecil. Tambang Pongkor di Bogor hanya menyisakan cadangan historis sekitar 2,3 juta ons emas yang terus menipis sejak beroperasi pada 1994, sementara Tambang Cibaliung di Banten memiliki cadangan sekitar 1,3 juta ons.
Nah, dengan pengalaman mengelola Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi. Grup Merdeka kini siap untuk mengoptimalkan potensi Gunung Pani. Proyek ini dirancang sebagai tambang terbuka yang akan dikembangkan secara bertahap dengan teknologi terkini untuk efisiensi maksimal.
Untuk memberi gambaran skalanya, website MDKA merinci bahwa pada fase awal saja, Proyek Emas Pani ditargetkan bisa memproduksi sekitar 140.000 ons emas per tahun. Produksi awal ini akan menggunakan metode pengolahan Heap Leach (Pelindian Tumpuk).
Namun, itu baru permulaan. Pada fase berikutnya, akan dibangun fasilitas Carbon-in-Leach (CIL) yang akan diekspansi hingga pada puncaknya nanti, gabungan kapasitas kedua fasilitas akan mencapai 19 juta ton bijih per tahun dengan hasil yang fantastis.
Potensi produksi puncak dari gabungan kedua metode pengolahan ini diperkirakan bisa mencapai hingga 500.000 ons emas per tahun. Angka ini menunjukkan skala produksi yang sangat besar dan akan menempatkannya sebagai salah satu produsen emas terkemuka.
Berdasarkan paparan publik kuartal I-2025, progres konstruksi Proyek Emas Pani secara keseluruhan telah mencapai 49% pada akhir Maret 2025. Sejumlah pekerjaan krusial bahkan telah rampung, menunjukkan proyek berjalan sesuai jadwal yang diharapkan.
Pekerjaan beton untuk konstruksi Pabrik Persiapan Bijih (Ore Preparation Plant) telah selesai, dan kini instalasi baja struktural sedang berlangsung. Selain itu, pekerjaan tanah yang terkait dengan pabrik Adsorption, Desorption, and Recovery (ADR) juga telah berhasil diselesaikan.
Dengan progres yang signifikan ini, perusahaan menargetkan uji coba operasi untuk fasilitas Heap Leach dapat dimulai pada akhir tahun 2025. Sementara itu, produksi komersialnya diharapkan bisa berjalan pada awal tahun 2026 mendatang.
Di balik MDKA, ada nama-nama besar di dunia bisnis Indonesia. Meskipun kepemilikan terbesar dipegang oleh publik (49,57%), struktur pemegang saham utamanya diisi oleh para investor strategis dengan rekam jejak yang sangat kuat dan teruji.
PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG) yang dikendalikan oleh Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno menjadi pemegang saham institusi terbesar dengan porsi 20,33%. Posisi ini disusul oleh PT Mitra Daya Mustika yang juga signifikan sebesar 11,88%.
Selain itu, ada juga Garibaldi 'Boy' Thohir dengan kepemilikan pribadi 7,46%, dan PT Suwarna Arta Mandiri yang menggenggam 5,50% saham. Kombinasi aset kelas dunia dengan pemegang saham berpengalaman inilah yang menjadi daya tarik utama MDKA.
Bagi investor, potensi IPO anak usaha emas Pani adalah sebuah sentimen super bullish. Ini adalah upaya unlock value atau membuka nilai dari aset paling berharga yang dimiliki oleh MDKA, yang selama ini mungkin belum sepenuhnya tercermin.
Selain itu, rumor IPO anak usaha emas Pani ini langsung menjadi bensin yang membakar harga saham MDKA. Setelah hampir sepekan tertekan, sahamnya pada Rabu, 27 Agustus 2025, berhasil rebound tajam dengan lonjakan +7,17% ke level Rp2.390.
Kenaikan harga saham yang sangat tajam itu juga diperkuat oleh aksi akumulasi signifikan dari investor besar. Tercatat, investor asing melakukan net buy Rp23,2 miliar, dengan Mandiri Sekuritas, Maybank Sekuritas, dan UBS Sekuritas sebagai pembeli utamanya.
Reli ini berlanjut hingga hari ini, Kamis, 28 Agustus 2025, di mana saham MDKA kembali menguat 4,18% ke level Rp2.490. Analis CGS International merekomendasikan speculative buy dengan target jangka pendek Rp2.440–Rp2.490, sambil menekankan disiplin cut loss di bawah Rp2.290.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Alvin Bagaskara pada 28 Aug 2025