Jumat, 18 September 2026 16:59 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Nila Ertina

PAGI di Palembang belakangan tidak selalu dimulai dengan udara yang segar.
Kabut putih keabu-abuan menggantung di sejumlah sudut kota. Dari kejauhan, pemandangan tampak seperti tertutup tirai tipis. Kondisi itu bukan sekadar kabut pagi, melainkan asap dan debu yang membuat udara terasa berbeda ketika dihirup.
Masker mulai menjadi bagian dari perjalanan menuju tempat kerja, sekolah, kampus, hingga aktivitas sehari-hari. Sebagian warga lainnya memilih menunda keluar rumah, menunggu udara terasa lebih baik.
Di balik pemandangan kota yang berkabut itu, ada rutinitas yang berubah.
Ada kegiatan yang ditunda, perjalanan yang terasa lebih berat, kendaraan tertutup yang dipilih untuk mengurangi paparan udara luar, hingga aktivitas belajar yang harus menyesuaikan kondisi.
Baca Juga:
Sebanyak 397 sekolah dasar (SD) negeri dan swasta dengan jumlah murid mencapai 156.829 orang sejak dua minggu belajar secara online. Belajar dalam jaringan juga dilaksanakan sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Palembang, sebanyak 77.657 orang murid belajar dari rumah yang berasal dari 215 SMP di kota Pempek.
Menunggu Matahari Lebih Tinggi
Eka, 58 tahun, termasuk warga yang memilih lebih berhati-hati ketika udara pagi terlihat pekat.
Ia mengaku asap biasanya lebih terasa pada pagi hari. Ketika banyak abu atau debu beterbangan, Eka memilih tidak keluar rumah.
“Kalau banyak abu atau banyak apa yang beterbangan itu, saya tidak keluar rumah,” ujar Eka.
Bagi Eka, keputusan itu bukan berarti seluruh aktivitas dihentikan. Ia hanya mengubah waktu menjalankannya.
Kegiatan yang biasanya dimulai sekitar pukul 06.00 WIB terkadang harus ditunda selama satu hingga dua jam. Ia memilih menunggu kondisi udara membaik sebelum kembali beraktivitas di luar rumah.
“Bukan dibatalkan, hanya diundur. Kalau sudah di atas jam 08.00, biasanya kabut asap tidak terlalu tinggi lagi,” katanya.
Namun kondisi tersebut berbeda, pada Kamis (17/9/2026) kabut asap di Kota Palembang sampai siang masih terasa pekat. Pukul 09.30 WIB ketika melintasi Jembatan Ampera jarak pandang sangat dekat, hanya sampai 3 meter saja.
Bahkan level indeks standar pencemaran udara (ISPU) masih berada dalam kategori berbahaya dengan angka yang meningkat menjadi 425, pada Kamis lalu.
Menurut Eka, udara buruk menyebabkan ia dan keluarganya menderita batuk dan demam ringan setelah ia beraktivitas di luar rumah. Ia mengatakan tubuhnya terkadang terasa tidak nyaman, meski keluhan tersebut tidak selalu membuatnya berhenti beraktivitas.
Menunda kegiatan menjadi cara Eka mengurangi waktu berada di luar ruangan ketika udara terlihat buruk.
8 Kilometer yang Terasa Lebih Berat
Bagi Bintang Marsyalia, 20 tahun, menghindari udara luar tidak selalu menjadi pilihan.
Sebagai mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang, ia harus berpindah dari Kampus Sudirman menuju Kampus Jakabaring untuk mengikuti kegiatan praktikum.
Jarak sekitar 8 kilometer itu harus ditempuh pada pagi hari, termasuk melewati kawasan Jembatan Ampera.
Dalam perjalanan, kondisi udara yang dipenuhi asap membuat pengalaman berkendara terasa berbeda.
“Sangat terasa tidak nyamannya karena menghirup udara yang kurang sehat saat berkendara,” tutur Bintang.
Menurut Bintang, udara luar terasa seperti asap yang masuk ke saluran pernapasan. Perjalanan menjadi lebih melelahkan karena tubuh harus beradaptasi dengan kondisi udara yang tidak nyaman.
Ia juga mengaku mengalami sejumlah keluhan setelah menghirup udara tersebut, seperti sakit kepala, tubuh terasa lemas dan panas, serta sakit tenggorokan.
“Saat menghirup udara di luar ruangan, saya merasakan sakit kepala,” ujarnya.
Keluhan itu membuat Bintang mulai memikirkan dampak kondisi udara apabila berlangsung terus-menerus. Ia khawatir kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama gangguan pernapasan.
Namun kuliah dan praktikum tetap harus dijalani.
Di situlah persoalannya: tidak semua warga memiliki pilihan untuk tinggal di dalam rumah ketika kualitas udara memburuk.
Ketika Udara Memengaruhi Cara Orang Bepergian
Bintang juga melihat perubahan perilaku masyarakat ketika kondisi udara di luar ruangan terasa tidak nyaman.
Kendaraan roda empat, menurut pengamatannya, terlihat menjadi pilihan sebagian orang karena ruang kabin memberikan perlindungan lebih dibandingkan kendaraan roda dua yang membuat pengendara terpapar udara luar secara langsung.
Namun, perubahan pilihan transportasi itu membawa konsekuensi lain.
Ketika lebih banyak orang memilih kendaraan tertutup, kepadatan lalu lintas pun berpotensi meningkat.
Dengan demikian, kabut asap tidak hanya hadir sebagai persoalan lingkungan dan kesehatan. Dampaknya ikut merembet ke mobilitas masyarakat.
Udara yang memburuk mengubah cara orang bepergian. Sebagian memilih menunda perjalanan, sebagian mengurangi aktivitas luar ruangan, sementara yang lain tetap berjalan dengan berbagai perlindungan.
Ketika Sekolah Pindah ke Rumah
Dampak kabut asap juga terasa di sektor pendidikan.
Sejumlah sekolah di Palembang harus menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi udara. Pembelajaran dilakukan secara daring sebagai salah satu upaya mengurangi paparan asap dan polusi udara terhadap siswa.
Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru dan siswa untuk sementara bergeser ke rumah masing-masing.
Ponsel dan laptop menjadi penghubung proses belajar. Guru menyampaikan materi dari tempat masing-masing, sementara siswa mengikuti pembelajaran dari ruang yang dianggap lebih aman dari paparan udara luar.
Perubahan itu menunjukkan bahwa kabut asap tidak berhenti pada persoalan jarak pandang.
Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas pendidikan pun ikut menyesuaikan.
Asap yang Mengubah Rutinitas
Eka dan Bintang menghadapi persoalan yang sama dengan cara berbeda.
Eka memiliki ruang untuk menunda aktivitas. Ia memilih menunggu hingga kondisi udara terasa lebih baik.
Bintang tidak memiliki banyak pilihan. Perkuliahan dan praktikum mengharuskannya tetap melakukan perjalanan, meski kondisi udara membuat perjalanan terasa lebih berat.
Keduanya memperlihatkan satu hal yang sama, kualitas udara dapat menentukan bagaimana seseorang menjalani hari.
Pagi yang biasanya menjadi awal rutinitas berubah menjadi waktu untuk mempertimbangkan risiko. Apakah aman untuk keluar rumah? Apakah perjalanan harus ditunda? Apakah perlu menggunakan masker? Atau apakah aktivitas sebaiknya dilakukan dari dalam rumah?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu kini menjadi bagian dari keseharian sebagian warga.
Baca Juga:
Kabut asap mungkin terlihat semakin tipis ketika matahari mulai meninggi. Namun pengalaman warga tidak selalu ikut menghilang bersamaan dengan kabut.
Batuk, sakit kepala, rasa tidak nyaman pada tenggorokan, tubuh yang terasa lemas, hingga kekhawatiran mengenai gangguan pernapasan menjadi bagian dari cerita yang mereka rasakan dan sampaikan.
Di sisi lain, aktivitas masyarakat tetap harus berjalan. Pekerjaan, pendidikan, perjalanan, dan kebutuhan rumah tangga tidak bisa seluruhnya dihentikan.
Karena itu, warga memilih beradaptasi dengan cara masing-masing, membatasi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker, menunda perjalanan, atau memilih kendaraan dengan ruang tertutup.
Pada akhirnya, kabut asap di Palembang bukan hanya tentang langit yang tampak kelabu.
Di balik asap pagi, ada aktivitas yang tertunda, perjalanan yang lebih berat, ruang belajar yang berpindah, dan warga yang harus terus beradaptasi dengan udara yang mereka hirup setiap hari.
Pagi seharusnya menjadi awal dari rutinitas. Namun ketika udara tidak lagi terasa nyaman, pagi justru dimulai dengan kewaspadaan.
Warga tidak hanya menunggu kabut menghilang. Mereka menunggu udara kembali menjadi bagian yang aman dari keseharian.(*Vyrania Kartika dan Selsa Billa )
*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024