Harga Bahan Pokok Naik, Pembeli Kurangi Belanja, Pasar Sepi

Pasar Sekip Ujung merupakan salah satu pasar tradisional di tengah Kota Palembang, yang menjual berbagai kebutuhan pokok (Foto WongKito.co/Magang/Selsa Billa)

PALEMBANG, WongKito.co – Kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok mulai dirasakan pembeli dan pedagang di Pasar Sekip Ujung, Palembang. Harga beras, cabai, ayam, hingga sejumlah kebutuhan dapur lainnya mengalami kenaikan, membuat konsumen mengurangi jumlah belanja dan pedagang menghadapi penurunan pembeli.

Kondisi tersebut membuat pembeli harus kembali menyusun skala prioritas. Sejumlah warga Palembang, Kamis (17/9/2026) mengaku tetap membeli kebutuhan utama, tetapi dalam jumlah lebih sedikit dan menunda barang yang dianggap belum mendesak.

Caca (21), salah satu pembeli di Pasar Sekip Ujung, mengatakan kenaikan harga paling terasa pada beras dan daging. Ia menyebut beras Bulog kemasan 5 kilogram yang sebelumnya berada di kisaran Rp50 ribu kini mencapai sekitar Rp66 ribu.

Sementara harga daging ayam yang sebelumnya sekitar Rp32 ribu per kilogram, kini menurutnya mencapai Rp40 ribu per kilogram.

“Kalau kemarin itu untuk harga beras Bulog Rp50 ribuan, sekarang udah naik jadi Rp66 ribu. Kalau buat daging ayam, kalau dulu itu paling tinggi Rp32 ribu perkilo, sekarang udah sampai Rp40 ribu,” ungkap dia.

Baca Juga:

Kenaikan tersebut membuat Caca mengurangi jumlah beras yang dibeli. Menurutnya, beras tetap menjadi kebutuhan utama sehingga tidak mungkin dihentikan pembeliannya.

“Kalau enggak beli sama sekali enggak mungkin ya, karena memang itu makanan utama. Tapi sekarang beli secukupnya saja,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Mirla (38). Ia mengatakan kenaikan harga juga terjadi pada sejumlah kebutuhan pokok lainnya, seperti minyak dan gula.

Menurut Mirla, kenaikan harga membuat pengeluaran rumah tangga semakin berat. Karena itu, ia memilih mengurangi jumlah pembelian dibandingkan menghentikan pembelian kebutuhan tersebut.

“Dikurangi saja, beras, minyak, dan gula,” katanya.

Sementara itu, Reina (42) mengaku mulai mengubah tempat berbelanja karena kenaikan harga bahan pokok. Jika sebelumnya lebih sering berbelanja di supermarket, kini ia memilih pasar tradisional karena dinilai lebih sesuai dengan kemampuan pengeluarannya.

Reina mengatakan kenaikan harga yang paling terasa terjadi pada beras, cabai, dan ayam. Harga ayam yang sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kilogram, kini menurutnya mencapai Rp40 ribu, bahkan bisa menyentuh Rp42 ribu hingga Rp43 ribu per kilogram.

“Kalau untuk saya kenaikan harga ini cukup memberatkan. Kayak ayam yang biasanya Rp30 ribuan sekarang naik sampai Rp40 ribu, kadang juga Rp42 ribu sampai Rp43 ribu per kilogram,” katanya.

Kenaikan harga juga membuat Reina menunda pembelian sejumlah barang yang dinilai belum mendesak.

Pasar Makin Sepi

Tekanan kenaikan harga tidak hanya dirasakan pembeli. Pedagang juga mengaku kesulitan mempertahankan penjualan karena konsumen mulai mengurangi jumlah belanja.

Sofiah (46), pedagang sayur di Pasar Sekip Ujung, mengatakan cabai menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan cukup terasa. Menurutnya, harga cabai merah dan hijau yang sebelumnya sekitar Rp5 ribu per ons kini naik menjadi Rp6 ribu hingga Rp7 ribu per ons.

Untuk cabai setan, harganya bahkan bisa mencapai Rp65 ribu per kilogram.

Menurut Sofiah, kenaikan harga tersebut membuat konsumen mengurangi jumlah barang yang dibeli. Kondisi itu kemudian berdampak pada jumlah pengunjung pasar yang disebutnya semakin menurun.

“Sekarang pasar jadi sepi, kayak sekarang,” ujarnya.

Pedagang ayam, Kasyfah (69), juga merasakan tekanan serupa. Ia mengatakan kenaikan harga ayam dari pemasok membuat pedagang berada dalam posisi sulit untuk menentukan harga jual.

“Harga ayam sekarang naik banget, jadi untuk berjualan sangat sulit,” ungkap dia.

Kasyfah mengatakan konsumen kini lebih sering membeli ayam dalam jumlah sedikit. Kondisi tersebut membuat omzet penjualannya ikut menurun.

Di sisi lain, ia tidak bisa begitu saja menurunkan harga jual karena harga dari agen sudah tinggi.

“Kita beli dari agennya itu sudah mahal, jadi kita jualnya juga dengan  harga mahal. Kalau kita jual murah, kita enggak dapat untung,” kata dia.(*Naila Safira)

*Mahasiswa Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024


Related Stories