Minggu, 30 November 2025 06:53 WIB
Penulis:Redaksi Wongkito
Editor:Redaksi Wongkito

JAKARTA, WongKito.co – Jika kamu penggemar berat K-pop, kemungkinan besar kamu memiliki lightstick yang tersimpan di rak. Namun, bahkan orang yang belum terlalu mengenal K-pop pun mungkin pernah melihat foto-foto lightstick dengan warna dan pola cerah yang menghiasi konser, fan meeting, dan festival musik.
Setiap artis K-pop memiliki “bong” mereka sendiri, istilah dalam bahasa Korea untuk tongkat dan benda ini lebih dari sekadar aksesori bercahaya. Lightstick mencerminkan warna resmi fandom, logo, konsep, identitas, atau simbol khusus yang mewakili serta menghubungkan idol dengan para penggemar mereka.
Sejarah lightstick berawal dari pertengahan hingga akhir 1990-an, saat idol K-pop generasi pertama seperti H.O.T., Sechskies, dan g.o.d meroket. Pada masa itu, penggemar belum menggunakan lightstick seperti sekarang, melainkan mendukung idolanya dengan membawa balon.
Setiap fandom memiliki warna khasnya sendiri, putih untuk H.O.T., biru langit untuk g.o.d, dan kuning untuk Sechskies untuk membedakan dari fandom lainnya. Sebagai simbol kebersamaan, tempat konser akan dipenuhi balon warna-warni tersebut, menciptakan pemandangan meriah yang menampilkan dukungan para penggemar dan menjadi cikal bakal budaya lightstick seperti yang kita kenal sekarang.
Lightstick K-pop pertama dengan desain unik diciptakan oleh Se7en, yang debut pada 2003 di bawah naungan YG Entertainment. Sesuai dengan namanya, ia menciptakan lightstick khusus berbentuk angka tujuh yang disebut “Chilbong” yang berarti tongkat tujuh.
Kebangkitan lightstick K-pop modern mulai terlihat jelas pada 2007, saat Big Bang memperkenalkan light stick pertama mereka yang dinamakan “Bang Bong” hasil rancangan G-Dragon. Desainnya berupa stik bercahaya dengan mahkota kuning di bagian atas, sebagai simbol fandom Big Bang, VIP.
Dilansir dari The Korea Herald, konsep ini kemudian menjadi acuan bagi desain lightstick K-pop di masa berikutnya dan mengukuhkannya sebagai elemen ikonik dalam budaya K-pop.
Dua dekade kemudian, agensi hiburan dan artis K-pop semakin mengembangkan lightstick menjadi simbol khas dengan desain khusus yang mencerminkan identitas tiap grup. Kini, “bong” bukan hanya aksesori, tetapi bagian penting dari budaya K-pop yang mengubah pengalaman konser sekaligus mempererat hubungan antara artis dan penggemarnya.
Sebagaimana setiap fandom memiliki nama, setiap lightstick juga mempunyai nama tersendiri. Grup K-pop BTS dikenal dengan lightstick “Army Bomb,” sementara TWICW memiliki “Candy Bong.” Adapun lightstick resmi BLACKPINK dinamai “Bl-ping-bong,” gabungan dari kata “bong” dan singkatan nama grup mereka, BLACKPINK.
Dalam beberapa tahun terakhir, desain lightstick semakin berkembang dengan bentuk yang makin unik. Contohnya, “Moo Bong” milik Mamamoo dibuat menyerupai lobak, karena nama fandom mereka, MooMoo, berasal dari kata “moo” yang berarti lobak dalam bahasa Korea.
Sementara, Epik High, salah satu grup hip-hop paling berpengaruh di Korea, dikenal dengan lightstick “Park Gyu Bong,” yaitu lightstick yang dapat berubah warna dan berbentuk tangan dengan jari tengah terangkat. Light stick ini merefleksikan karakter musik mereka yang penuh makna, bersifat introspektif, serta sering mengangkat tema sosial dan filosofis.
Karena telah menjadi simbol identitas, lightstick digunakan oleh penggemar K-pop untuk menunjukkan dukungan kepada artis favorit mereka. Namun, hal ini kadang juga memicu konflik antarfandom akibat adanya kesamaan atau dugaan penjiplakan desain lightstick.
Salah satu perseteruan sempat terjadi pada bulan Oktober 2025 antara penggemar boy group THE BOYZ dan girl group QWER. Usai QWER memperkenalkan lightstick mereka pada September 2025 sebelum tur dunia dimulai, penggemar THE BOYZ menilai desain berbentuk megafon berwarna putih itu terlalu mirip dengan lightstick yang dirilis oleh grup mereka pada tahun 2021.
“Di dunia K-pop, penggemar sering kali memiliki pola pikir bahwa mereka tidak boleh menunjukkan dukungan kepada kelompok lain, yang merupakan budaya loyalitas yang jarang ditemukan di negara lain,” ujar Kim Do-heon, seorang kritikus budaya pop, kepada The Korea Herald.
Ia juga menjelaskan selama puluhan tahun perjalanan K-pop, fandom telah membangun identitas dan status yang kuat, sehingga lightstick menjadi simbol penting. Dalam hal ini, penggemar membeli merchandise resmi yang dijual oleh perusahaan hiburan untuk menunjukkan dedikasi mereka dan diakui sebagai bagian dari fandom.
Pada dasarnya, memiliki lightstick idol K-pop adalah wujud nyata dari dedikasi seorang penggemar, sekaligus sarana untuk mempererat hubungan emosional antara idola dan para penggemarnya.
Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 29 November 2025.