Matahari Gratis, Waktu Perempuan Tak Gratis: Usaha Kemplang dan Energi Bersih

Jumat, 09 Oktober 2026 08:56 WIB

Penulis:Nila Ertina

Editor:Nila Ertina

Pelaku usaha, Hj Eva Yunus hingga kini masih mengandalkan energi matahari langsung untuk mengeringkan kemplang dan kerupuk khas Palembang yang diproduksinya
Pelaku usaha, Hj Eva Yunus hingga kini masih mengandalkan energi matahari langsung untuk mengeringkan kemplang dan kerupuk khas Palembang yang diproduksinya (Foto WongKito.co/Nila Ertina)

SIANG itu, suasana di rumah produksi kemplang dan kerupuk milik Hj Eva Yunus di Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Kota Palembang, terlihat sibuk. 

Eva dan keluarga memproduksi kemplang dan kerupuk premium berbahan ikan gabus dan ikan putak, jenis ikan sungai yang hidup di perairan Sumatera Selatan.

Pengeringan kemplang ada di lantai 2 rumah tinggal yang sekaligus tempat produksi kemplang milik pelaku usaha mikro perempuan tersebut. Kemplang merupakan makanan ringan khas Palembang yang renyah dan banyak penggemarnya.

"Ayo ke atas, kami membuat dan menjemur kemplang di atas," ajak Eva, Sabtu (3/10/2026).

Usaha kemplang yang telah digeluti Eva dan keluarga sejak 35 tahun lalu itu terus bertahan di tengah kondisi perekonomian yang tidak menentu.

"Ini tempat kami menyalai kemplang yang sudah dikeringkan menggunakan matahari," jelasnya sembari menunjukan alat khusus pengeringan dengan menggunakan bahan bakar gas elpiji.

Dia bercerita, setiap kemplang yang dijemur dan telah kering setelah tiga hari proses pengeringan, biasanya tidak langsung digoreng tapi disalai dahulu. Menyalai menjadi pilihan untuk memastikan tidak ada lagi kandungan air dalam kemplang yang telah dikeringkan menggunakan matahari langsung.

Eva menunjukan alat penyalai yang digunakannya agar kemplang yang diproduksi kering optimal, setelah dijemur menggunakan matahari. Foto WongKito.co/Nur Izzati Kharisma

Mengutip KBBI, menyalai adalah mengeringkan, mengasapi di atas api. Jadi, setiap usai menjemur menggunakan matahari langsung, Eva dan pekerjanya menyalai lagi kemplang agar hasil yang dihasilkan benar-benar renyah dan tidak keras sama sekali.

Di bagian depan lantai 2 rumah tersebut, tampak puluhan tampah berisi irisan kemplang tersusun rapi, dijemur langsung mengandalkan terik matahari.

Sambil meraup kemplang-kemplang yang mulai mengering, Eva menuturkan, mereka butuh waktu tiga hari untuk mengeringkan kemplang, dan mesti dibalik agar keringnya merata.

Proses pengeringan cukup memakan waktu karena mengandalkan matahari langsung. Matahari menjadi pilihan utama karena gratis meskipun harus sering dibolak-balik.

Di tempat berbeda, Sarnati (40) berkisah bagaimana ia membangun usaha pembuatan kerupuk ikan dari rumahnya yang berada di Lorong Tangga Raja, Kelurahan 2 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, tepat di samping Jembatan Musi 6 Palembang.

Usaha kerupuk ikan menjadi pilihan Sarnati pada tahun 2013 setelah sempat berpindah-pindah kerja di Kota Palembang. “Saya awalnya membantu ibu,” kata dia dibincangi, Sabtu (3/10/2026). Sang ibu, menurut Sarnati telah lebih dahulu menjadi perajin kerupuk ikan.

Sarnati bertahan memanfaatkan matahari langsung untuk mengeringkan kerupuk ikan yang dijualnya Rp20 ribu per kilogram. Foto WongKito.co/Nila Ertina 

Kerupuk ikan yang dibuat Sarnati dan tiga orang pekerjanya juga mengandalkan sinar matahari langsung sebagai pengering, belum ada alternatif pilihan pengering.

Sinar matahari gratis, sehingga saat musim kemarau usahanya bisa berjalan terus. Pengeringan hanya memakan waktu 1,5 hari saja. 

Beda ceritanya ketika musim hujan, pengeringan kerupuk ikan menjadi terkendala. Menurutnya, waktu pengeringan di musim hujan lebih lama, bisa sampai empat hari dengan hasil yang tidak bagus. "Kami sangat mengandalkan matahari, inilah pengeringan yang paling murah, bahkan gratis," katanya.

Matahari Gratis, Tetapi Ada Waktu yang Harus Dibayar

Diakui Sarnati, pengeringan menggunakan matahari memang gratis dan mudah didapatkan. Sehingga sebagai pelaku usaha mikro, dia menggantungkan sepenuhnya pengeringan kerupuk ikan yang diproduksinya dengan memanfaatkan paparan sinar matahari.

Sejak 13 tahun memulai usahanya, ia hanya mengandalkan panas matahari sebagai pengering. Ketika musim kemarau cukup  1,5 hari saja waktu penjemuran.

Di sisi lain, untuk proses pengeringan yang cukup memakan waktu singkat itu, Sarnati perlu usaha ekstra karena tempat penjemuran berada di atap rumah. Dia harus bolak-balik mengangkat dan menurunkan kerupuk mentah yang dijemur.

Bersama tiga orang pekerjanya, dia mulai membuat kerupuk ikan sejak pukul 07.30 WIB dan selesai pukul 16.00 WIB. Hampir seharian penuh itu, Sarnati dan pekerja melakukan tahapan mulai dari mengadon ikan dicampur sagu hingga siap dicetak menggunakan "pirik-an" yang terbuat dari stainless, lalu mengukus. Sepanjang hari, mereka juga disibukan dengan menjemur dan mengangkat kerupuk. “Keringnya tidak serentak karena penjemuran bertahap,” kata Sarnati.

Hal senada diungkapkan Eva. Produksi kemplang ikannya membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk pengeringan. "Kalau kemplang dijemur lebih dari tiga hari karena matahari kurang terik, hasilnya akan jelek, kemplang berjamur," jelasnya.

Kemunculan jamur bewarna putih di bagian bawah kemplang menjadi pertanda gagalnya pengeringan yang dilakukan. "Kami biasanya akan membuang kemplang yang berjamur," kata Eva.

Membuang berarti merugi, tetapi menyajikan kemplang yang berkualitas premium adalah keunggulan kemplang yang dijual dengan Merek Hj Eva Yunus atau HEY ini. Harga kemplang dan kerupuk siap konsumsi dijual mulai dari Rp120 ribu per kilogram untuk yang berbahan ikan gabus, sedangkan ikan putak lebih mahal mencapai Rp140 ribu per kilogramnya.

Gunakan Solar Dry Chips

Eva mengungkapkan, dirinya sangat terbuka dengan kampus atau mahasiswa yang melakukan penelitian terkait dengan usaha kemplang yang mereka jalani.

Seperti pengalaman dua tahun lalu, mahasiswa dari Poltek Negeri Sriwijaya dan Poltek Akamigas Palembang menjalankan proyek tugas akhir tahun di rumah produksinya. Para mahasiswa melakukan penelitian bahkan membuat alat pengering dengan sumber energi surya.

"Mereka menciptakan alat yang diberi nama drying chips.”

Infografis uji coba pengeringan menggunakan energi solar panel dibandingkan matahari langsung pada rumah produksi kemplang milik Hj Eva Yunus

Alat tersebut, menurut Eva, membantu proses pengeringan kemplang karena mampu memangkas waktu lebih dari 50 persen. Bahkan, untuk kemplang ukuran diameter 3,93 cm yang biasa dijemur sampai tiga hari, dengan menggunakan alat drying chips hanya butuh waktu 1 hari saja.

Kehadiran alat pengering dengan teknologi tenaga surya memang sangat dibutuhkan. Sebab, dapat mengurangi beban kerja pengeringan kemplang dan menjadi solusi di musim hujan.

Meskipun penggunaan alat drying chips yang dibuat mahasiswa sangat membantu, kapasitasnya sangat kecil, hanya cukup untuk mengeringkan kemplang 2 kilogram saja.

"Dalam sekali produksi biasanya kami membuat 50 kilogram adonan kemplang, jadi kalau kapasitas alat pengeringnya hanya 2 kilogram tentu belum bisa mencukupi kebutuhan produksi," ungkapnya.

Akhirnya, Eva menyimpan alat pengering karya mahasiswa tersebut karena tidak terpakai, walaupun sebenarnya membutuhkan alat alternatif untuk mendukung pengeringan kemplang.

Sementara, uji coba alat pengeringan drying chips yang dipublikasi researchgate.net dengan judul "Drying Chips Alat Pengeringan Kemplang Khas Palembang Berbasis Teknologi Solar Drying Pada Sentra Produksi  Kemplang Kelurahan Lima Ulu Laut"  menunjukan hasil yang signifikan.

Dalam penelitian yang dipublikasikan jurnal tersebut, percobaan peralatan dilakukan dengan tiga buah sampel kemplang Hj Eva Yunus dengan diameter yang berbeda. 

Pengujian dilakukan dengan membandingkan proses pengeringan menggunakan alat drying chips dengan pengeringan langsung menggunakan sinar matahari. Sampel yang digunakan kemplang diameter 3,39 cm, kemplang diameter 5,90 cm, dan diameter 12,06 cm.

Dari sampel kemplang berdiameter 3,93 cm yang berat awalnya 400 gram didapatkan hasilnya menjadi 276 gram dengan pengeringan drying chips. Sedangkan, hasil pengeringan langsung matahari berat akhirnya 279 gram.

Begitu juga ketika dilakukan uji coba kadar air. Dengan ukuran dan berat yang sama menggunakan drying chips 33,25 persen dan matahari langsung 30,25 persen.

Untuk kemplang berdiameter 5,90 cm dengan massa awalnya 400 gram, dikeringkan menggunakan drying cips menjadi 270 gram. Sedangkan penjemuran sinar matahari langsung 283 gram. Adapun untuk kadar air yang berhasil dilepas 32,50 persen menggunakan alat dan pengeringan langsung 29,25 persen.

Begitu juga dengan kemplang diameter 12,06 cm terlihat perbedaan yang signifikan. Ketika dikeringkan menggunakan alat pengering dengan panel surya dari 400 gram menjadi 319 gram dan dijemur langsung 347 gram.

Lalu, presentasi pelepasan kadar airnya juga lebih tinggi saat menggunakan alat mencapai 20,25 persen dan matahari langsung hanya 13,25 persen. 

Seorang pekerja di rumah produksi kerupuk Sarnati menjemur kerupuk di atap rumah untuk mendapatkan paparan langsung sinar matahari. Foto WongKito.co/Nur Izzati Kharisma

Teknologi Ada, Siapa yang Bisa Mengaksesnya?

Bergantung pada energi matahari langsung menjadi pilihan Sarnati dan Eva yang hingga kini belum tergantikan. Lebih ekonomis, tapi terkendala ketika musim hujan tiba.

Sarnati mengaku sangat ingin memiliki alat pengering kerupuk ikan. Dengan begitu, proses pengeringan kerupuk ikan tidak terkendala saat musim hujan. Ia bercerita, saat musim hujan, kerap kali berhenti produksi karena kerupuk tidak kering. 

Pernah ada yang menawarkan alat pengering dengan bahan bakar gas berupa oven pemanggang. "Harga alatnya mahal, tidak terjangkau sama kami," ujar dia.

Tak hanya itu, kalau menggunakan gas sebagai bahan bakar masih memberatkan karena harga gas mahal. Untuk produksi kerupuk ikan saja, dia butuh 2 tabung gas 3 kilogram per hari dengan biaya Rp23 ribu per tabung.

"Kalau ditambah untuk pengering lagi, tambah besar biaya produksi kerupuk kami," sambungnya.

Apalagi, kerupuk ikan kering yang diproduksinya tersebut harganya terjangkau hanya Rp20 ribu per kilogram. Kerupuk tersebut biasanya dijual ke pasar dan pelanggan langsung yang telah setia selama belasan tahun.

Dalam kesempatan yang berbeda, Eva menceritakan pengalaman menggunakan pengering berbasis teknologi solar drying, membuat ia dan keluarga sangat ingin memiliki alat pengering tersebut yang sesuai dengan kapasitas produksi kemplang mereka.

Namun, sebagai pelaku usaha mikro dia tidak mudah untuk mendapatkan alat pengering bertenaga surya tersebut. "Harganya mahal dan sampai sekarang belum ada program dari pemerintah untuk membantu, mendukung optimalisasi pemanfaatan energi matahari berbasis teknologi itu," kata Eva. 

Sementara, Bonifasius Bangun dari Hutan Kite Institute (HaKI) mengungkapkan, selama ini salah satu program dari organisasi mereka adalah mengampanyekan pentingnya transisi energi. Konkretnya dengan memasang percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap.

"Kami telah memasang PLTS atap pada sejumlah kampus di Kota Palembang," kata Boni.

Setidaknya saat ini ada dua kampus perguruan tinggi swasta yang telah terpasang PLTS atap yaitu Universitas Sumatera Selatan dan Universitas Katolik Musi Charitas.

Khusus untuk program PLTS atap bagi pelaku usaha mikro, sampai kini masih proses penilaian pihaknya, karena setiap PLTS atap yang terpasang berbasiskan kelompok masyarakat.

"Tahun ini, kami menyiapkan 4 unit panel surya dan 3 unit diantaranya masih dalam proses penelitian untuk penilaian penerima. Namun, 1 unit PLTS atap dipastikan dipasang untuk kelompok sadar wisata di Bukit Besak, Kabupaten Lahat," jelasnya.

Terkait penggunaan surya panel untuk pelaku usaha kemplang dan kerupuk, Boni menilai, kebutuhan tergantung seberapa besar kapasitas drying chips atau rumah pengeringan yang digunakan. "Satu rumah produksi biasanya membutuhkan PLTS atap dengan kapasitas 3000-5000 watt," sebut dia.

Penelusuran harga 1 unit PLTS atap dengan kapasitas 3000 watt, dibanderol di atas Rp20 juta per unit. Harga ini belum termasuk alat yang akan digunakan pelaku usaha, apakah berbentuk rumah pengering atau oven pemanggang. Sehingga teknologi surya panel masih tergolong mahal, sulit dijangkau oleh Sarnita dan Eva. 

Eva juga dalam kesempatan wawancara mengungkapkan kekhawatiran terhadap alat pengering drying chips yang dihibahkan sekelompok peneliti dari kampus Politeknik Negeri Sriwijaya dan Akamigas Palembang. Selain kapasitas pengeringannya sedikit, ia bingung dan belum jelas cara perawatan alat pengering tersebut dan akhirnya alat itu disimpan saja.

Pengamat Ekonomi Mikro dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Fatah Palembang, Muhamad Rahman Bayumi. Foto WongKito.co/Nila Ertina FM

Pelaku Usaha Perlu Teknologi yang Sesuai

Dinas Koperasi dan UMKM Kota Palembang, sejak 2023 mencatat sebanyak 167 ribu pelaku UMKM di daerah tersebut. Namun, hingga kini pendataan khusus perajin kemplang dan kerupuk belum dilakukan.

Pengamat Ekonomi Mikro dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Raden Fatah Palembang, Muhamad Rahman Bayumi mengatakan, selama ini pihaknya telah melakukan pendampingan kepada pelaku usaha mikro dan kecil, yang mayoritas adalah perempuan.

"Temuan kami, mayoritas perempuan pelaku usaha mikro belum optimal dalam menjalankan usaha yang sebenarnya sangat prospek," kata dia dibincangi, Senin (5/10/2026).

Padahal, menurut dia, perempuan berperan penting dalam ekonomi mikro dan kreatif. Hanya saja masih ditemukan perempuan pelaku usaha mikro tidak bisa membagi waktu pengerjaan karena terlalu panjang.

Ia mencontohkan, perajin kemplang atau kerupuk yang menggunakan matahari sebagai pengering konvensional terpaksa bergelut sepanjang hari dalam memroduksi kudapan renyah khas Palembang tersebut.

Mereka bekerja dari pagi hingga petang, karena setiap tahapan pembuatan produk masih dilakukan tradisional. Mulai dari mencampur adonan hingga mencetak kemplang dan kerupuk dilakukan secara manual. Ditambah lagi, mereka harus menjemur dengan memanfaatkan langsung sinar matahari.

"Sering kami temukan, mereka kelelahan saat menerima banyak pesanan, karena semua dikerjakan secara manual dan jumlah pekerja yang terbatas," ulasnya.

Waktu yang mereka dedikasikan untuk bekerja jauh melampaui apa yang mereka dapatkan. Karenanya, dukungan teknologi bagi perempuan pelaku usaha mikro sangat mendesak. Sebagai langkah mendorong kesetaraan dalam berbagai bidang.

Menurut dia, prinsip gender equality sangat perlu mendapatkan dukungan dari banyak pihak, termasuk bagi perempuan perajin kemplang. Kolaborasi dalam mendukung perempuan pelaku usaha mikro, jadi sangat krusial saat ini, lanjutnya.

Karena itu, pihaknya selaku akademisi secara berkala mendampingi para pelaku usaha mikro dan kecil. Namun, diakuinya belum optimal karena belum mendapatkan dukungan dari lembaga keuangan atau donor. "Masih bersifat pendampingan bukan membawa bantuan teknologi, yang sangat dibutuhkan mereka," kata dia.

Bayumi memastikan, pemanfaatan teknologi untuk pengeringan kemplang atau kerupuk akan sangat memangkas waktu para pekerja kerajinan rumahan tersebut. Mengingat, proses pengeringan bukan hanya membutuhkan waktu yang sampai berhari-hari, tetapi juga harus dibolak-balik agar keringnya merata.

Jika ada teknologi yang murah dan ramah lingkungan, seperti solar panel drying chips akan sangat memudahkan perempuan perajin kemplang. Sebab, meskipun telah memanfaatkan energi langsung yang gratis, usaha mereka lebih keras agar menghasilkan produk yang berkualitas.

Sejauh ini, belum ada bantuan dari pemerintah atau lembaga terkait untuk mendukung pengeringan kemplang berbasis teknologi dengan energi alternatif tersebut. Begitu juga dengan akses permodalan bagi pelaku usaha mikro masih sangat terbatas, bahkan banyak yang dianggap tidak kapabel mendapatkan pinjaman modal dari lembaga keuangan.

Dari Energi Bersih Menuju Usaha Perempuan yang Lebih Tangguh

Dalam kesempatan menjadi narasumber Focuss Group Discussion (FGD) yang selenggarakan belum lama ini, Kepala Seksi Konservasi Energi, Dinas ESDM Provinsi Sumatera Selatan, Ira Rihatini menyatakan, Pemprov Sumatera Selatan telah menerbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) untuk mendorong transisi energi terbarukan.

"Terbaru juga telah diterbitkan Perda Nomor 2 Tahun 2025 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumatera Selatan Tahun 2025-2029.”

Hingga kini, Pemprov Sumsel telah menghitung potensi dan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT), termasuk berupa solar panel atau dari energi surya.

Sesuai dengan Perpres 22 Tahun 2017 Tentang  Rencana Umum Energi Nasional potensi solar panel mencapai 17.233 MWp hingga kini yang terpasang baru 14,72 MWp, jelas Ira.

Meskipun sudah memiliki Perda terkait pengaturan energi baru terbarukan, hingga saat ini belum tampak program pemerintah dalam transisi energi menyasar pelaku usaha mikro dan kecil.

Hal itu, diakui Bayumi, pihaknya belum mendapatkan informasi yang pasti terkait dengan program pemerintah untuk mendukung teknologi ramah lingkungan bagi pelaku usaha mikro, khususnya pengeringan kemplang dan kerupuk di Palembang dengan menggunakan energi bersih.

Aktivitas produksi kerupuk ikan Sarnati yang semuanya masih dilakukan manual, di kawasan Tangga Raja Palembang. Foto WongKito.co/Nila Ertina

Eva juga mengungkapkan, belum ada bantuan pemerintah terkait dengan teknologi yang mendukung transisi energi, terutama solar panel untuk pengeringan kemplang.

Sementara itu, Koordinator Sumsel Bersih, Arlan menilai, penggunaan tenaga surya dalam proses pengeringan kemplang sangat tepat dan tentunya ramah lingkungan.

Kajian yang telah dilakukan Sumsel Bersih bersama HaKI, PLTS atap dapat menjadi solusi untuk mendorong sentra produksi makanan dengan pengeringan berbasis energi bersih seperti pengolahan kemplang dan kerupuk dapat mengimplementasikan transisi energi dengan memanfaatkan teknologi yang mereka butuhkan. Tentunya, sejalan dengan program pemerintah untuk merealisasikan 100 GWp EBT. Meskipun diakuinya sampai kini masih belum jelas peta jalan dalam pelaksanaan program tersebut.

Eva dan Sarnati sama-sama menegaskan, mereka tetap mempertahankan menjemur dengan menggunakan matahari untuk mengeringkan kerupuk dan kemplang karena gratis dan ramah lingkungan.

"Saya juga ingin bekerja lebih optimal dan efisien dengan memanfaatkan teknologi energi surya agar usaha lebih berkembang, dan karyawan bekerja dengan waktu yang lebih fleksibel," kata Eva.

"Kesadaran pelanggan terhadap tingkat higienis makanan kini semakin tinggi, mengganti penjemuran dengan alat khusus yang ramah lingkungan jadi sangat penting," kata Sarnati. (Nila Ertina)

#Tulisan ini didukung Project Multatuli dan lembaga penasihat kebijakan publik independen Think Policy