Mengenal Sejarah Kue Keranjang Khas Imlek

Sabtu, 14 Februari 2026 15:38 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

Kue Keranjang.
Kue Keranjang. (bbppmpvbispar.kemdikbud.go.id)

JAKARTA, WongKito.co – Tahun Baru Imlek lebih dari sekadar hari libur biasa. Ini adalah waktu untuk keluarga, makanan, dan awal yang baru. Ini saatnya mengucapkan selamat tinggal pada tahun yang lalu dan menyambut peluang baru, kemakmuran, dan kebahagiaan.

Banyak orang membersihkan rumah mereka untuk menyambut Festival Musim Semi. Mereka memasang poster merah berisi bait-bait puisi di pintu, gambar Tahun Baru Imlek di dinding, dan menghiasi rumah mereka dengan lampion merah. Ini juga merupakan waktu untuk berkumpul kembali dengan kerabat, sehingga banyak orang mengunjungi keluarga mereka pada waktu ini setiap tahunnya.

Pada malam menjelang Tahun Baru Imlek, banyak orang menyalakan kembang api dan petasan, berharap dapat mengusir nasib buruk dan mendatangkan keberuntungan. Anak-anak sering menerima uang keberuntungan.

Banyak orang mengenakan pakaian baru dan saling mengirim ucapan selamat Tahun Baru Imlek. Berbagai kegiatan seperti menabuh gendang dan memukul gong, serta tarian naga dan singa, semuanya merupakan bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek.

Perayaan Imlek selalu identik dengan kehadiran hidangan khas yang manis dan legit bernama kue keranjang. Kue yang memiliki rasa manis dengan tekstur kenyal dan lengket ini menyimpan makna serta filosofi yang sangat mendalam bagi masyarakat Tionghoa.

Kue keranjang atau dikenal sebagai Nian Gao menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Imlek. Kue keranjang dalam bahasa Mandarin disebut nián gāo, sedangkan dalam dialek Hokkien dikenal dengan sebutan ti kwe. Secara harfiah, kata nian berarti “tahun” dan gao berarti “kue.” Jadi, nian gao dapat diartikan sebagai kue tahun baru.

Keberadaan eksistensi kue ini dilatari oleh sejarah panjang. Berasal dari tradisi budaya Tionghoa, kue ini telah menyertai perayaan Tahun Baru Imlek selama berabad-abad.

Dalam cerita legenda China, kue ini dipercaya menjadi penyelamat dari makhluk buas bernama Nian yang menakutkan dan membahayakan penduduk setempat. Sejak saat itu, masyarakat membuat kue keranjang sebagai bentuk persembahan sekaligus upaya untuk menjamin keselamatan mereka dari ancaman Nian.

Nampak sejumlah pekerja tengah membungkus kue keranjang di sebuah produsen kue keranjang rumahan Ny Lauw di kawasan Neglasari Tangerang, Jumat 14 Januari 2022. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

Selain itu, konon katanya rakyat Tionghoa menyebutkan, Dewa Dapur yang diyakini tinggal di setiap rumah membuat laporan tahunan kepada Kaisar Giok. Oleh karena itu, kue keranjang disajikan sebagai simbol penutup mulut untuk mencegah Dewa Dapur agar tidak mengejek rumah mereka.

Terdapat sejarah lain mengenai kue keranjang yang berkaitan dengan cerita kematian Wu Zixu, seorang jenderal sekaligus tokoh politik dari Kerajaan Wu pada masa Periode Musim Semi dan Gugur (771–476 SM).

Usai wafatnya Wu Zixu, Raja Yue, Goujian, menyerang ibu kota Wu. Serangan tersebut membuat penduduk dan pasukan Wu terjebak dalam kota tanpa persediaan makanan. Oleh karena itu, banyak orang meninggal dunia karena kelaparan selama pengepungan.

Di masa-masa sulit itu, seseorang teringat akan kata-kata bijak Wu Zixu. “Jika negara dalam kesulitan dan rakyat membutuhkan makanan, pergilah dan gali sedalam tiga kaki di bawah tembok kota dan ambillah makanan.”

Para prajurit melakukan pesan Wu Zixu dan menemukan bahwa fondasi tembok dibangun dengan batu bata khusus yang terbuat dari tepung beras ketan. Makanan ini menyelamatkan banyak orang dari kelaparan. Batu bata ini diduga adalah niangao asli.

Setelah itu, orang-orang membuat niangao setiap tahun untuk memperingati Wu Zixu. Seiring waktu, niangao berkembang menjadi kue Tahun Baru Imlek seperti yang kita kenal sekarang.

Karena kue keranjang telah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun, kue keranjang semakin melekat dan identik dengan perayaan Imlek. Kebiasaan menikmati kue keranjang pada malam Tahun Baru Imlek diyakini dapat mendatangkan keberuntungan dan kemakmuran. Bentuknya yang bulat melambangkan keutuhan keluarga dan harapan akan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.

Kini, kue keranjang telah berkembang dengan beragam rasa dan variasi. Hadirnya varian seperti cokelat, keju, dan pandan membuatnya semakin diminati, terutama oleh kalangan generasi muda. Kue keranjang pun tidak hanya dikenal sebagai sajian yang nikmat, tetapi juga sebagai simbol budaya yang sarat makna.

Di setiap pembuatannya, generasi terdahulu menurunkan nilai-nilai kekeluargaan dan tradisi budaya kepada generasi berikutnya. Kue keranjang pun menjadi simbol pengingat akan kebersamaan serta ikatan yang telah berakar dalam sejarah panjang perayaan Imlek.

Sampai sekarang, kue keranjang masih menjadi bagian penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek. Melalui cita rasa dan aroma khasnya, kue ini merayakan warisan budaya, tetapi juga menghadirkan kenangan indah yang menghubungkan berbagai generasi dari masa ke masa.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 14 Februari 2026.