BucuKito
Pertahankan Rumah Panggung untuk Hindari Banjir
PALEMBANG, WongKito.co - Rumah panggung atau rumah dengan tiang menjadi salah satu ciri bangunan di Sumatera Selatan, tak hanya di desa-desa, rumah panggung berjejer, tetapi di Kota Palembang juga dahulu banyak bangunan tersebut.
Kota Palembang yang di belah Sungai Musi dan merupakan daerah rendah atau low land sehingga rumah panggung menjadi pilihan yang aman untuk menjadi hunian yang lebih aman dan nyaman.
Luas wilayah Kota Palembang berdasarkan PP No. 23 Tahun 1998 mencapai 400,61 kilometer persegi dengan 35% tanah tergenang terus-menerus (rawa/sungai).
Baca Juga:
- Pesta Retail 2026, Komitmen SRC untuk UMKM
- #Kawalsampailegal: Desak Sahkan RUU Perlindungan PRT
- Ramadan di BATIQA Palembang, Menu Lokal dan Timur Tengah
Gambaran tersebut menunjukan, bahwa kota Pempek memang tidak bisa dihindari pasti akan terjadi genangan, apalagi kondisi perubahan iklim saat ini juga sangat memengaruhi pasang surut.
Adalah masyarakat di kawasan Sei Lais, Kecamatan Kalidoni, Kota Palembang yang bermukim di tepian Sungai Musi, meskipun masih ada yang bertahan merawat rumah panggung, tetapi mayoritas sudah menganti menjadi rumah landed.
Akibatnya, ketika rumah panggung berkurang, banjir menjadi langganan yang mereka hadapi saat musim hujan.
Warga RT.30, Seman (53) yang hingga kini mempertahankan dan merawat rumah panggung warisan orang tua bercerita alasan terus menjaga rumah panggung.
"Ado sekitar 30 rumah di sini, limo diantaranyo sudah landed, salah satu yang masih panggung iyolah rumah warisan orang tua saya inilah," kata dia, dijumpai di ruang tamu rumahnya, Rabu (13/02/2026).
Ia mengungkapkan, sebelum ibunya wafat, berwasiat bahwa lahan rumah itu sebagian dibagi untuknya sebagai anak ke enam dan sebagian untuk kakaknya, anak ke kedua.
"Warisan orang tua saya alhamdulillah terbagi galo sampai tujuh turunan. Untung saya turunan ke enam kalo delapan mano nak dapat," kata dia bercanda.
Selama 53 tahun, Seman mengungkapkan memang terjadi perubahan signifikan, bukan hanya dari rumah yang berubah menjadi landed, tetapi juga pendangkal Sungai Musi dan cuaca hujan yang terus menerus menjadi semakin sering banjir.

Menurutnya, dulu pasang surut itu biasa. Akan tetapi, cuaca hujannya masih teratur. Musim hujan dan kemarau sesuai penanggalan di kalender, bukan seperti sekarang yang tak menentu bahkan lebih sering hujan.
Di sisi lain, sungai yang dulunya dikeruk, justru tak lagi dilakukan pengerukan. Alhasil tidak ada peresapan air, sehingga sungai musi sudah semakin dangkal, air semakin meluap masuk ke pinggir sungai yang sudah banyak berdiri rumah warga.
"Dulu pasang surut air sungai samo bae cak sampah wakilir-wakilir. Cuman dulu masih ado kapal besak yang biaso ngeruk sungai biar dak dangkal dan jadi peresapan air kalo sering hujan lebat," kata dia.
Di tempat lain yang masih satu daerah Sei Lais, warga RT.15, Hendra Cipta yang sama-sama tinggal di rumah panggung warisan orang tuanya mengatakan keresahannya setelah air masuk ke jalan depan rumah.
"Kalo jalan depan rumah sudah tergenang banyu, saro kami nak metu, terutama nak begawe. Biasonyo keluar lebih dulu sebelum banyu tinggi atau dak surutke dulu baru pacak keluar," keluh Hendra.
Baca Juga:
- Cek! Ini Peluang dan Gaji Bekerja di Eropa Timur
- Kala Perempuan Bertahan Suarakan Dampak Tambang Batu Bara
- Simak Tips War Tiket Tambahan KAI, Siap Lebaran 2026
Hendra juga mengungkapkan bahwa meskipun rumah panggung ini warisan orang tuanya. Ia berniat akan mengubah menjadi seperti rumah landed. Baginya, semakin tergenang air sungai rumah berbahan kayu akan sulit untuk terus bertahan kokoh.
Ia teringat amanah orang tuanya untuk selalu menjaga dan merawat rumah yang telah didirikan lama dari sebelum ia dilahirkan. Untuk itu, Hendra hanya terkendala biaya untuk membedah rumah agar lebih bagus.
Lebih lanjut, Hendra menyampaikan harapan untuk ke depan terkait persoalan yang terjadi sehingga warga yang tinggal dekat sungai aman dan tentram.
"Jalan kalo biso dibagusin, ditinggikan. Untuk warga galo-galo jugo jangan buang sampah basing bae, apo lagi ke sungai, jadilah banjir yang sekarang semoga idak sampai ke banjir bandang pulok akibat buang sampah di sungai," harap Hendra.(Magang/Manda Dwi Lestari/Ert)

