KKN UIN Palembang
Jumat, 28 Agustus 2026 08:01 WIB
Penulis:Nila Ertina

PAGI belum sepenuhnya terang ketika Batin, warga Desa Muara Sindang Tengah, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (OKUS), Sumatera Selatan mulai bersiap. Sekitar pukul 06.00 WIB, ia mendatangi pohon-pohon aren yang tumbuh alami di sekitar desanya. Dengan peralatan sederhana, ia menyadap nira yang mengalir dari tandan aren, meneruskan pekerjaan yang kini hampir tidak lagi dilakukan oleh warga desa lainnya.
“Saat ini, hanya saya mengelola aren di desa ini,” ujar Batin, kepada mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Palembang, awal Agustus lalu.
Di tengah semakin berkurangnya masyarakat yang menekuni pengelolaan aren, Batin menjadi salah satu orang yang masih menjaga pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan pohon yang tumbuh hampir di seluruh kawasan desa tersebut.
Nira yang disadap sejak pagi tidak dibiarkan terlalu lama. Menjelang sore, Ia kembali mengambil hasil sadapan untuk kemudian dibawa pulang. Setibanya di rumah, nira tersebut langsung dimasak agar tidak mengalami perubahan rasa atau menjadi basi.
Baca Juga:
Proses pengolahannya masih menggunakan cara tradisional. Kayu bakar digunakan untuk memasak nira selama kurang lebih tiga jam. Dari proses sederhana itulah, hasil olahan aren mulai terbentuk.
Namun, kualitas dan cita rasa nira ternyata tidak selalu sama. Musim turut menentukan rasa yang dihasilkan.
“Kalau musim panas, nira aren rasanya bisa asam. Tapi kalau hari hujan, biasanya terasa lebih manis,” kata Batin.
Bagi masyarakat Muara Sindang Tengah, pohon aren bukanlah tanaman yang sengaja dibudidayakan sejak awal. Batin menjelaskan bahwa selama ini masyarakat tidak pernah melakukan penanaman aren secara khusus. Pohon-pohon tersebut tumbuh secara alami dari biji dan tersebar di berbagai kawasan desa.
Potensi itu sebenarnya cukup besar. Selama ini, pemanfaatan aren oleh masyarakat masih terbatas pada beberapa produk. Buah aren diolah menjadi kolang-kaling, ijuk dimanfaatkan untuk membuat sapu, sementara bagian umbutnya kerap dijadikan hidangan pada berbagai acara masyarakat, termasuk pesta pernikahan.
“Orang-orang di sini hanya tahu menjual kolang-kaling, membuat sapu dari ijuk, dan memanfaatkan umbutnya untuk makanan, terutama saat acara pernikahan,” ujarnya.
Berangkat dari potensi tersebut, mahasiswa KKN UIN Raden Fatah Palembang Bersama Karang Taruna Desa Muara Sindang melakukan serangkaian survei untuk mengidentifikasi keberadaan pohon aren sekaligus melihat peluang pengelolaannya secara lebih berkelanjutan.
Survei dilakukan di sejumlah lokasi yang masih memiliki pohon aren untuk mengetahui keberadaan, kondisi, serta persebarannya. Lingkungan sekitar juga menjadi perhatian, termasuk potensi lahan yang dapat dikembangkan untuk mendukung keberadaan tanaman aren di masa mendatang.
Sementara itu pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya memberikan gambaran tentang bagaimana pohon aren selama ini tumbuh dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.
Bersama-sama, menelusuri sejumlah titik yang masih memiliki pohon aren. Keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sumber daya alam yang selama ini tumbuh di sekitar mereka.
Aren bukan hanya sekadar pohon yang berdiri di tengah kawasan desa. Di dalamnya terdapat potensi ekonomi yang dapat dikembangkan, sekaligus nilai ekologis yang perlu dijaga.
Disisilain survei terhadap lahan yang direncanakan untuk penanaman pohon aren. Kondisi tanah, lingkungan sekitar, serta kesesuaian lahan menjadi perhatian agar penanaman dapat mendukung pertumbuhan pohon dalam jangka panjang.
kegiatan ini menjadi langkah awal untuk melihat kembali potensi yang selama ini tumbuh secara alami di Muara Sindang Tengah. Dari pendataan pohon, wawancara dengan masyarakat, hingga pemetaan lahan, semuanya diarahkan untuk mempersiapkan pengembangan aren yang melibatkan masyarakat.
Baca Juga:
Harapannya, pohon aren tidak hanya menjadi bagian dari lanskap Desa Muara Sindang Tengah atau sekadar sumber kolang-kaling dan ijuk. Dengan pengelolaan yang tepat, keterlibatan warga, pemuda, dan tokoh masyarakat, aren dapat berkembang menjadi sumber daya yang memberikan manfaat ekologis sekaligus membuka peluang ekonomi baru.
Di tangan generasi yang akan datang, pengetahuan yang selama ini dijaga oleh generasi Batin diharapkan tidak berhenti pada satu orang.
Sebab menjaga pohon aren berarti menjaga potensi desa. Dan dari potensi yang tumbuh secara alami itu, Muara Sindang Tengah dapat menumbuhkan harapan baru untuk memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan dan penguatan ekonomi desa.(Sas)