BPJS kesehatan
Rabu, 08 April 2026 08:58 WIB
Penulis:Nila Ertina
Editor:Redaksi Wongkito

JIKA di Jakarta ada kawasan dengan nama Menteng, sebagai heritage berupa permukiman elit di masa penjajahan Belanda. Di Palembang ada area Kambang Iwak yang dikenal juga kawasan elit jaman Belanda.
Wilayah Rumah Dinas Walikota Palembang menjadi sudut pandang (PoV) pertama ketika berada di area tersebut. Bangunan yang telah berulang kali direvitalisasi tetapi tetap memiliki ciri. Namun, yang terpenting suasana asri menjadi bagian penting di kawasan tersebut.
Suasana terasa teduh pepohonan besar berdiri seperti penjaga waktu, menaungi jalan yang seakan menyimpan cerita panjang.
Baca Juga:
Namun, tempat ini bukan sekadar jalan biasa.
Meskipun berbeda jaman, tetapi fungsi Taman Kambang Iwak tetap tidak jauh berbeda. Di bawah naungan pohon-pohon tua yang menjulang tinggi, tawa anak-anak pecah tanpa beban. Ayunan bergerak perlahan, seluncuran berwarna cerah jadi rebutan, dan langkah langkah kecil erlarian di atas tanah yang mulai berdebu. Iya, Kambang Iwak tetap menjadi taman bermain.
Di sudut taman, tempat bermain anak berdiri dengan warna-warni yang kontras dengan hijaunya pepohonan. Merah, kuning, dan biru seakan menjadi simbol keceriaan yang tak lekang oleh waktu. Orang tua duduk tak jauh dari sana, mengawasi sambil sesekali berbincang, menciptakan suasana yang hangat dan akrab.
Di antara rindangnya pepohonan tua kawasan Kambang Iwak, berdiri sebuah bangunan putih dengan menara sederhana yang menjulang ke langit. Salib di puncaknya tampak tenang, seolah menjadi penanda waktu yang terus berjalan tanpa suara.
Gereja itu adalah Gereja Siloam GKSBS salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di tengah perubahan wajah kota.
Siang itu, halaman gereja tampak lengang. Kursi-kursi tersusun rapi di dalam, sebagian tertutup kain merah di bagian depan. Tidak ada keramaian, hanya angin yang sesekali menggoyangkan dedaunan dan kabel-kabel listrik yang melintang di atasnya.
Namun, bangunan ini menyimpan cerita panjang.
Baca Juga:
Gereja Siloam didirikan pada tahun 1933 pada masa kolonial Belanda di kawasan Talang Semut, yang saat itu merupakan permukiman elite orang Eropa. Awalnya, gereja ini dikenal sebagai gereja Gereformeerd dan menjadi bagian penting dalam perkembangan agama Kristen. Bahkan, gereja ini disebut sebagai salah satu gereja Protestan tertua.
Bergeser sedikit, di tepian tenang Kambang Iwak Kecik, berdiri megah Masjid Raya Taqwa Palembang dengan kubah hijau yang mencolok di antara rindangnya pepohonan kota. Pantulannya di permukaan air menghadirkan suasana damai seolah mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk kota.
Secara historis, Masjid Raya Taqwa mulai dibangun sekitar tahun 1973 atas inisiatif Gubernur Sumatera Selatan H. Asnawi Mangku Alam dan berkembang menjadi masjid tingkat provinsi yang memiliki peran penting dalam syiar Islam.(Magang/Echa Cahya Sahira)
*Disarikan dari berbagai sumber