Panduan Mudik dan Liburan Bersama Anak Menurut IDAI

Minggu, 15 Maret 2026 21:16 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

Editor:Redaksi Wongkito

caucasian-family-travelling-holiday-by-car-putting-trolley-bags-trunk-vehicle-parents-grandparents-leaving-vacation-trip-with-little-girl-packing-suitcase-luggage.jpg
Di tengah kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit serta tingginya mobilitas masyarakat, IDAI menekankan bahwa persiapan cermat adalah kunci utama. (ist/freepik)

JAKARTA, WongKito.co - Menyambut periode mudik dan libur panjang yang akan segera tiba, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan rekomendasi komprehensif bagi orangtua yang akan melakukan perjalanan bersama buah hati. Panduan ini mencakup aspek perlindungan kesehatan dari penyakit menular hingga protokol keselamatan berkendara (safety riding) untuk memastikan momen kebersamaan keluarga berlangsung aman, nyaman, dan penuh kenangan indah.

Di tengah kewaspadaan terhadap potensi penularan penyakit seperti campak, batuk, dan pilek, serta tingginya mobilitas masyarakat, IDAI menekankan bahwa persiapan yang cermat adalah kunci utama. Campak dikenal sebagai salah satu penyakit yang sangat menular, bahkan lebih cepat menyebar dibandingkan influenza.

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso menegaskan, langkah paling fundamental sebelum melakukan perjalanan jauh adalah memastikan status imunisasi anak. 

Dia menjelaskan, vaksinasi adalah benteng pertahanan terkuat yang bisa kita berikan kepada anak. Langkah paling krusial sebelum mudik adalah memastikan imunisasi anak lengkap, terutama vaksin MR/MMR.

“Vaksinasi dua dosis terbukti menjadi cara paling efektif untuk mencegah penularan campak yang sangat mudah menyebar. Jika imunisasi anak sudah lengkap, perlindungannya sudah optimal, dan ini memberikan ketenangan ekstra bagi orang tua selama liburan,” tegas Piprim.

Selain vaksinasi, IDAI mengimbau orangtua untuk menerapkan protokol kesehatan selama dalam perjalanan, antara lain, Pertama, menghindari keramaian; sebisa mungkin kurangi interaksi di tempat padat pengunjung dan ajarkan anak menjaga jarak dari individu yang menunjukkan gejala batuk atau pilek.

Kedua, jaga higienitas dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, serta menyediakan hand sanitizer. Ketiga, IDAI mengingatkan etika batuk dan masker, ajari anak menutup mulut dengan tisu atau siku saat batuk/bersin. Gunakan masker di transportasi umum atau ruang publik sebagai perlindungan ekstra dari percikan droplet. Keempat, tidak Berbagi Barang Pribadi: Hindari berbagi alat makan, handuk, atau botol minum.

IDAI juga merekomendasikan pemilihan destinasi yang bijak. Piprim menyarankan orangtua untuk memilih tempat wisata dalam ruangan (indoor) seperti museum, pusat sains, atau perpustakaan anak untuk menghindari paparan hujan dan keramaian berlebih. 

"Pilihlah destinasi di dalam ruangan (indoor) seperti museum, pusat sains/edukasi interaktif, perpustakaan anak, atau taman bermain dalam ruangan. Tempat-tamat ini menawarkan pengalaman seru sekaligus melindungi anak dari hujan dan keramaian yang berlebihan. Hindari lokasi yang rawan banjir, longsor, atau memiliki akses jalan licin," katanya.

Orangtua juga diminta untuk memantau prakiraan cuaca, memastikan anak dalam kondisi fit sebelum berangkat, dan menyiapkan aktivitas alternatif di penginapan jika cuaca buruk. Untuk perjalanan darat, siapkan playlist lagu anak atau dongeng audio untuk menjaga suasana hati tetap hangat.

Perlengkapan Wajib yang Harus Dibawa

Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat, IDAI merekomendasikan perlengkapan berikut:

*   P3K Keluarga: Parasetamol, obat anti-mabuk, oralit, plester, perban, termometer, dan vitamin C.

*   Dokumen Penting: Kartu Identitas Anak (Akta Kelahiran/Kartu Keluarga/Paspor), tiket perjalanan, bukti pemesanan hotel, surat izin dari pasangan (jika bepergian sendiri), serta daftar nomor darurat (rumah sakit terdekat di jalur mudik).

*   Perlengkapan Cuaca: Jaket, jas hujan/payung, alas kaki anti selip, dan pakaian ganti.

*   Bekal dan Hiburan: Camilan sehat (buah potong, telur rebus, omelet, biskuit), botol minum sendiri, serta mainan atau buku untuk mengalihkan kebosanan anak.

Selain kesehatan, IDAI juga menyoroti aspek krusial lainnya yakni keselamatan berkendara. IDAI mengingatkan bahwa cedera lalu lintas (road injury) masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas pada anak dan remaja secara global.

Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, Hikari Ambara Sjakti menekankan, perlindungan anak di dalam kendaraan harus dimulai dengan perlengkapan yang sesuai standar. Menurutnya, keselamatan anak di jalan adalah tanggungjawab mutlak orangtua. 

"Jangan pernah menganggap remeh penggunaan car seat atau sabuk pengaman. Untuk perjalanan darat, pastikan anak menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai dengan usia dan berat badannya," jelas Hikari.

Berikut adalah panduan teknis aman berkendara berdasarkan rekomendasi IDAI:

1.  Penggunaan Car Seat dan Sabuk Pengaman (Kendaraan Roda Empat):

    *   Bayi baru lahir hingga usia 2 tahun WAJIB menggunakan rear-facing car seat di kursi belakang.

    *   Anak usia 2 hingga 5 tahun menggunakan forward-facing car seat.

    *   Anak di atas 5 tahun menggunakan booster seat hingga sabuk pengaman dapat terpasang dengan benar (lap belt di paha atas, shoulder belt di antara bahu dan dada).

    *   Anak di bawah 12 tahun sebaiknya tetap duduk di kursi belakang untuk perlindungan optimal.

    *   Orangtua dilarang keras memangku anak sambil menyetir.

2.  Aturan Berkendara Roda Dua:

    *   Anak di bawah 6 tahun TIDAK DIPERKENANKAN naik kendaraan roda dua.

    *   Wajib menggunakan helm SNI yang sesuai ukuran kepala.

    *   Pastikan posisi anak di belakang pengendara dengan jumlah penumpang tidak lebih dari 2 orang.

3.  Kondisi Pengemudi:

    *   Remaja di bawah 17 tahun dilarang mengemudi karena belum memiliki legalitas (SIM).

    *   Pengemudi harus dalam kondisi sehat, tidak dalam pengaruh alkohol/obat terlarang, serta menghindari obat-obatan yang menyebabkan kantuk.

    *   Istirahat cukup di rest area setiap 2-3 jam jika merasa lelah.

    *   Dilarang menggunakan alat komunikasi (ponsel) saat berkendara.

Dengan perencanaan yang matang, perjalanan mudik dan liburan panjang bersama anak dapat menjadi pengalaman yang berharga dan menyenangkan bagi seluruh keluarga. (*)