Pascabanjir: Aktivitas Tambak Bandeng Kembali Normal

Minggu, 01 Februari 2026 08:08 WIB

Penulis:Nila Ertina

Kadirah bercengkrama dengan warga desa lain di sela-sela mengurus tambak bandeng dan udang
Kadirah bercengkrama dengan warga desa lain di sela-sela mengurus tambak bandeng dan udang (Foto WongKito.co/Magang/Ani Mustika Wati)

Pada awal Desember 2025, terjadi banjir di kawasan Jalur, di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Banjir mengenangi sawah, tambah dan permukiman.

Termasuk juga menganggu aktivitas tambak ikan bandeng dan udang windu di wilayah Kecamatan Muara Sugihan. Kekinian, warga pemilik tambak di Tirtamulya, sudah mulai beraktivitas normal.

Kadirah (58) salah seorang pemilik tambak bercerita kini mulai beraktivitas normal mengurus tambak bandeng dan udang windu.

Baca Juga:

Ia mengungkapkan dalam satu siklus panen, setidaknya mendapatkan udang atau ikan bandeng sekitar 1 ton 4 kuintal, jika cuaca dalam kondisi baik.

Namun, jika musim banjir biasanya banyak yang hilang terbawa arus, kata dia, dibincangi, Sabtu (31/01/2026).

Kadirah, mengelola tambak seluas dua hektare dengan satu petak kolam besar yang digunakan untuk budidaya bandeng dan udang windu. Saat ini, bibit yang dibudidayakan sedang memasuki masa pembesaran dan siap dipanen beberapa bulan ke depan, tambah dia.

Menurutnya,  siklus produksi bandeng dan udang windu berbeda. Bandeng membutuhkan waktu sekitar empat bulan, sedangkan udang windu sekitar tiga bulan 10 hari.

Proses budidaya dilakukan dengan penebaran benih, pemberian pakan secara rutin untuk udang windu sedangkan bandeng memakan makanan alami.

Selain memberi makanan rutin pada udang, juga dilakukan pengelolaan air seminggu 3 atau 4 kali.

Dia menjelaskan proses penebaran benih bandeng dan udang windu berbeda waktu. Bandeng lebih dulu dibudidayakan. Setelah berumur satu bulan, baru benih udang windu bisa ditebarkan.

Ia menambahkan, penebaran benih bandeng untuk satu kali siklus mencapai 5.000 ekor dengan hasil panen rata-rata 5 kuintal, jika dalam keadaan cuaca yang bagus bisa mencapai 1 ton.

Baca Juga:

Sementara itu, benih udang windu biasanya dalam satu siklus ditebarkan sekitar 15.000 benur dengan hasil panen rata-rata 3 kuintal, jika cuacanya bagus bisa mencapai 4 kuintal. Hasil panen akan dijual ke agen, tempat benih dibeli.

Kegiatan pertambakan tersebut dikelolah satu orang tenaga kerja, yakni pemiliknya. Namun, ketika saatnya penen, beberapa warga atau tetangga pertambakan akan datang untuk membantu.

"Dalam budidaya ikan andeng dan udang, menghadapi tantangan berupa perubahan cuaca, kebocoran tanah dan risiko banjir yang dapat menyebabkan turunnya hasil panen," kata Kadirah.(Magang/Ani Mustika Wati)