Peneliti CORE Indonesia: 2 Syarat Utama Green Jobs

Sabtu, 07 November 2026 22:16 WIB

Penulis:Redaksi Wongkito

_MG_8694.JPG
(null)

JAKARTA, WongKito.co – Peneliti CORE Indonesia, Sahaya Aulia Azzahra, menyoroti pentingnya pengembangan keterampilan lintas disiplin bagi tenaga kerja Indonesia di tengah tren peningkatan permintaan Pekerjaan Hijau (Green Jobs) dan setidaknya dua syarat Utama untuk merealisasikannya.

Ia menekankan bahwa angkatan kerja Indonesia saat ini dituntut untuk tidak lagi sekadar menjadi spesialis atau generalis, melainkan bertransformasi menjadi seorang versatilist agar mampu menghadapi tantangan skill mismatch (kesenjangan keterampilan) di industri hijau.

Mengacu pada definisi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Sahaya meluruskan pemahaman publik yang kerap keliru mengenai green jobs. Pekerjaan hijau tidak sekadar merujuk pada profesi di sektor lingkungan.

"Ada dua syarat utama agar sebuah pekerjaan bisa disebut green jobs. Pertama, pekerjaannya harus berstatus layak. Kedua, pekerjaan tersebut memproduksi barang atau jasa ramah lingkungan, atau setidaknya mempraktikkan operasional ramah lingkungan seperti penggunaan energi terbarukan dan bahan daur ulang," kata dia,  dalam acara Youth Economic Summit 2026 yang digelar CORE Indonesia dan Suara.com di Gedung Perfilman Usmar Ismail, Jakarta, Sabtu (7/11/2026).

Baca Juga:

Ia menegaskan, apabila seseorang bekerja di sektor pendaurulangan limbah atau instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) namun jam kerja, pengupahan, serta standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak terpenuhi, maka pekerjaan tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai green jobs.

Pergeseran Permintaan Tenaga Kerja

Ke depan, penciptaan lapangan kerja secara global akan bertumbuh pesat pada lima sektor utama, yakni: transisi digital dan kecerdasan buatan (AI), transformasi sistem pangan (pertanian), transisi hijau (energi dan air), pendorongan manufaktur domestik, serta infrastruktur.

Dari sektor-sektor tersebut, permintaan tenaga kerja diproyeksikan akan sangat mengerucut pada kebutuhan teknisi tingkat menengah hingga tinggi, seperti teknisi pendingin, pemasang panel surya, hingga desainer kendaraan listrik.

Studi kasus transisi kendaraan listrik (EV) di Thailand yang dipaparkan Sahaya menunjukkan penurunan drastis pada kebutuhan pekerja berketerampilan rendah (white collar), sementara permintaan untuk pekerja berketerampilan menengah melonjak hingga 2,5 kali lipat.

Tantangan Daya Saing dan Skill Mismatch  

Di tengah besarnya peluang tersebut, Indonesia masih dihadapkan pada tantangan daya saing tenaga kerja.

Berdasarkan data Global Talent Competitiveness Index (GTCI), daya saing talenta Indonesia saat ini berada di peringkat 80 dari 135 negara, tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Vietnam, dan Filipina, dan hanya lebih unggul dari India (peringkat 100).

"Minat pendidikan vokasi kita sebenarnya relatif tinggi. Masalah utamanya ada pada skill mismatch karena minimnya pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan riil perusahaan," ungkap Sahaya.

Selain itu, kurangnya tenaga kerja tingkat tinggi seperti profesional, peneliti, manajer senior, serta rendahnya kesejahteraan karyawan (peringkat 79) masih menjadi persoalan dalam mempertahankan talenta-talenta terbaik.

Peluang Lintas Disiplin bagi Non-STEM

Sebagai solusi, Sahaya merekomendasikan kolaborasi erat antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga pendidikan. Khusus bagi para pencari kerja, mahasiswa, maupun fresh graduate, ia mendorong pentingnya meningkatkan visibilitas keterampilan melalui sertifikasi, kursus intensif, dan program magang di industri (on-the-job training).

Peluang green jobs tidak hanya eksklusif bagi lulusan rumpun Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM). Lulusan Ilmu Sosial dan Humaniora (Soshum) memiliki peluang yang sama besarnya jika mampu mengawinkan ilmu utamanya dengan literasi lingkungan.

"Misalnya, lulusan Manajemen Sumber Daya Manusia dapat mengambil sertifikasi Health, Safety, and Environment (HSE) di industri, atau lulusan Ekonomi Syariah melakukan riset terkait pembiayaan transisi energi berbasis syariah. Dengan menjadi talenta yang versatile atau menguasai keterampilan lintas disiplin dan terus menerapkan lifelong learning, tenaga kerja kita akan lebih siap terserap oleh kebutuhan industri hijau saat ini," kata Sahaya.(ril)