Pentingnya Penanganan Pandemi yang Berkeadilan Gender

Minggu, 08 November 2020 03:21 WIB

Penulis:Nila Ertina

Tangkapan layar webinar
Tangkapan layar webinar

Selama delapan bulan pandemi COVID-19 Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) menilai keterwakilan perempuan dalam level-level strategis pengambilan keputusan belum diakomodir pemerintah baik pada fase kesiapsiagaan, tanggap darurat dan penanganan pascabencana. Bantuan sosial yang cenderung masih netral gender menjadi salah satu contoh belum terakomodirnya kepentingan perempuan.

Sekretaris Jenderal KPI Mike Verawati Tangka mengungkapkan, kebutuhan pangan memang sangat penting untuk semua, tetapi secara spesifik juga hendaklah menjadi alasan dalam pemberian bantuan sosial.

"Pengalaman hidup perempuan dan laki-laki berbeda sehingga cara bertahannya dalam kondisi darurat juga tidak bisa disamakan, begitu juga terkait dengan usia, bayi, lansia. dan disabilitas," katanya dalam kesempatan menjadi narasumber pada Webinar 'Sorotan Pers Soal Hak Perempuan di Tengah Pandemi' yang diselenggarakan oleh European Union, AJI Indonesia dan Koalisi Perempuan Indonesia, Selasa (3/11).

Ia mengungkapkan, pandemi tidak hanya berdampak pada kesehatan secara umum, pun begitu dengan kondisi ekonomi. Namun, fakta menunjukan pandemi juga berpengaruh pada peningkatan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Di sisi lain, layanan bagi korban kekerasan terhenti, seperti rumah aman yang tidak lagi bisa menampung korban karena minimnya anggaran dan tidak tersedianya layanan visum bagi korban yang melapor. Akibatnya, korban kekerasan kesulitan untuk mengakses berbagai fasilitas yang sebelum pandemi memang sudah terbatas kini kondisinya semakin tidak jelas, ujar dia.

Karena itu, tambah Mike melibatkan perempuan dalam setiap level penanganan bencana sangat penting, agar memudahkan akses kelompok rentan dalam menyelesaikan beragam masalah yang dihadapi. Apalagi, selama ini perempuan bekerja sama dengan kelompok rentan dan minoritas, seperti masyarakat adat dan LGBT telah melakukan berbagai inisiatif untuk saling membantu di tengah keterbatasan.

Kurangnya Representasi Perempuan di Media

Co. Founder & Chief Editor Magdalene.co, Devi Asmarani mengungkapkan sampai kini secara umum dalam liputan media belum ada perspektif gender, begitu juga liputan selama pandemi ini. Sejumlah survei menunjukkan representasi perempuan masih sangat kurang dalam karya jurnalistik media massa mulai dari narasumbernya yang mayoritas laki-laki, isu yang tak berkeadilan gender dan beragam pemasalahan lain yang kerap menjadikan perempuan sebagai objek, kata dia.

Devi menambahkan pandemi juga makin menancapkan ketimpangan gender di berbagai sektor, termasuk pekerja medis yang hampir 90 persen perawat adalah perempuan. Di sini perawat perempuan mayoritas tetapi status dinomorduakan, catatan WHO melaporkan tenaga kesehatan seluruh dunia menemui berbagai bentuk diskriminasi mulai dari bayaran yang lebih rendah dan sulit diangkap menjadi pegawai tetap, tambah dia.

Kenyataannya, meskipun menjadi garda terdepan dalam penanggulangan pandemi tetapi masih banyak media yang tidak menjadikan perempuan sebagai narasumber atas setiap keberhasilan penangganan suatu masalah.

Perempuan masih dianggap pelengkap meskipun menjadi pelaku utama dalam beragam kegiatan yang berdampak pada kepentingan masyarakat maupun negara, tutur dia. (Nila Ertina)