Menelusuri Jejak Peradaban di Candi Bumi Ayu, Kabupaten PALI

Senia Aprinia Sari (Foto WongKito.co/Miftahur Rizki)

Oleh Senia Aprinia Sari

BERKUNJUNG ke Candi Bumi Ayu, di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sebuah kompleks percandian Hindu terbesar di luar Pulau Jawa yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan, awalnya tidak terpikir olehku.

Kompleks Candi Bumi Ayu beralamat di Desa Bumi Ayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Provinsi Sumatera Selatan. Kawasan ini berada di tepian Sungai Lematang dan diperkirakan berkembang antara abad ke-8 hingga abad ke-12 Masehi, pada masa pengaruh Kerajaan Sriwijaya. Hingga kini telah ditemukan 11 struktur candi, dengan beberapa di antaranya telah dipugar dan dapat dikunjungi wisatawan, yaitu Candi 1, Candi 2, Candi 3, dan Candi 8.

Dari Kota Palembang untuk sampai ke Kompleks Candi Bumi Ayu, menempuh jarak sekitar 136 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 30 menit. Sore itu, aku dan tim WongKito.co menuju candi tidak dari kota pempek, tetapi dari kawasan Merapi, Kabupaten Lahat, seusai meliput di kawasan lingkar tambang batu bara di daerah tersebut.

Baca Juga:

Sesampainya di kawasan candi, aku langsung merasakan suasana yang  berbeda, tenang dan penuh nilai sejarah. Hamparan rumput dan pohon rindang di antara candi-candi berupa batu bata merah yang menjadi material utama bangunan masih tampak kokoh, memperlihatkan kecanggihan arsitektur masyarakat pada masa lampau. Di sekitar kawasan juga terdapat museum yang menyimpan berbagai koleksi arkeologi hasil ekskavasi.

Hal yang paling menarik perhatianku adalah berbagai arca yang ditemukan di kawasan Candi Bumi Ayu, tersusun di museum. Beberapa di antaranya adalah Arca Siwa Mahadewa sebagai arca utama pemujaan, Arca Resi Agastya yang dikenal sebagai tokoh penyebar agama Hindu di India Selatan, Arca Nandi berupa lembu yang merupakan kendaraan Dewa Siwa, Arca Mahakala sebagai penjaga candi, Arca Durga Mahisasuramardini, arca tokoh atau leluhur, arca Gajasimha (gabungan gajah dan singa), serta berbagai arca singa penjaga dan makhluk Gana yang menghiasi bangunan candi. Selain itu ditemukan pula Kepala Kala, ornamen yang dipasang di atas pintu candi sebagai simbol penolak bala dan pelindung bangunan suci.

Tidak hanya arca, aku juga melihat berbagai relief yang menggambarkan flora dan fauna, seperti burung, ular, buaya, hingga motif tumbuhan yang menjadi hiasan bangunan candi. Relief-relief tersebut memperlihatkan kemampuan seni masyarakat pada masa itu sekaligus menjadi sumber informasi mengenai kehidupan dan kepercayaan mereka.

Saat berada di lokasi, aku memperhatikan dengan saksama penjelasan dari pengelola museum, bercerita sejarah Candi Bumi Ayu. Aku baru mengetahui bahwa keberadaan situs ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1864 oleh E.P. Tombrink, seorang peneliti Belanda. Setelah itu penelitian dilanjutkan oleh beberapa arkeolog seperti A.J. Knaap, J.L.A. Brandes, F.D.K. Bosch, Westenenk, dan F.M. Schnitger.

Baca Juga:

Penelitian yang lebih intensif dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sejak tahun 1970-an hingga akhirnya beberapa bangunan berhasil dipugar dan dibuka sebagai kawasan cagar budaya.

Candi Bumi Ayu bukan sekadar objek wisata, melainkan bukti bahwa Sumatera Selatan pernah menjadi pusat perkembangan agama, perdagangan, dan kebudayaan yang sangat maju. Setiap bata, arca, dan relief yang masih tersisa seolah menceritakan perjalanan panjang peradaban yang patut dijaga dan dilestarikan.

Perjalanan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga. Sebagai seorang jurnalis, aku merasa memiliki tanggung jawab untuk memperkenalkan kekayaan sejarah Sumatera Selatan kepada masyarakat luas. Aku berharap semakin banyak generasi muda yang datang, mengenal, dan ikut menjaga Candi Bumi Ayu sebagai warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya.

Editor: Nila Ertina

Related Stories