Senin, 04 Mei 2026 18:32 WIB
Penulis:Susilawati

JAKARTA, - Kamu pasti sudah biasa scan QRIS buat bayar kopi, parkir, atau bayar makan siang. Tapi tahukah kamu bahwa kode QR yang terlihat sederhana itu sekarang sedang jadi alat diplomasi ekonomi Indonesia di panggung global?
QRIS, singkatan dari Quick Response Code Indonesian Standard, bukan lagi sekadar pengganti uang receh. Bank Indonesia sedang membangunnya menjadi infrastruktur pembayaran lintas negara, dan angka-angkanya serius.
Sebelum 2019, bayar pakai QR code di Indonesia itu ribet. Setiap bank dan dompet digital punya standar QR masing-masing, GoPay beda sama OVO, OVO beda sama LinkAja. Merchant harus pasang banyak stiker, konsumen bingung harus buka aplikasi mana.
Bank Indonesia kemudian meluncurkan QRIS pada 17 Agustus 2019 sebagai standar nasional yang menyatukan seluruh QR code pembayaran agar semua penyedia jasa sistem pembayaran bisa saling terhubung. Satu QR, semua aplikasi bisa baca.
Simpel, tapi dampaknya masif, visinya juga bukan cuma soal teknologi. QRIS dirancang untuk menciptakan sistem pembayaran yang mudah, cepat, murah, aman, dan andal, sekaligus mendorong inklusi keuangan dan digitalisasi UMKM.
Baca juga :
Kalau kamu pikir pertumbuhan QRIS biasa-biasa saja, coba lihat datanya:
Sepanjang 2025, QRIS mencatat 13,66 miliar transaksi, jauh melampaui target awal yang hanya 6,5 miliar. Merchant yang terdaftar mencapai 42 juta, dengan sekitar 90% di antaranya adalah pelaku UMKM.
Dari sisi nilai, transaksi QRIS tumbuh 139,99% secara tahunan sepanjang 2025, dari Rp659,9 triliun menjadi Rp1.486,8 triliun. Lalu memasuki Januari 2026 saja, nilai transaksi sudah menyentuh Rp164,48 triliun dengan volume 1,83 miliar transaksi tumbuh lebih dari 100% dibanding periode sama tahun sebelumnya.
BI bahkan menargetkan nilai transaksi QRIS mencapai Rp3.110,6 triliun di 2026, dan melonjak lagi ke Rp5.674,3 triliun pada 2027. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, tapi cerminan perubahan perilaku jutaan orang Indonesia.
Ini peta ekspansi internasional QRIS per 2026:
Sudah Aktif Penuh:
Dalam Proses / Penjajakan:
Ini yang sering terlewat, skema yang digunakan QRIS antarnegara adalah penghubungan switching dengan settlement berbasis Local Currency Transaction (LCT), konversi langsung antar mata uang lokal, tanpa perlu lewat pihak ketiga.
Artinya, biaya transaksi bisa lebih murah dari kartu kredit atau kartu debit internasional yang biasanya kena biaya konversi dan foreign transaction fee.
Di destinasi seperti Bangkok, Kuala Lumpur, dan Singapura, wisatawan Indonesia cukup scan QR lokal menggunakan aplikasi bank atau dompet digital Indonesia tanpa menukar uang tunai atau memasang aplikasi negara setempat.
Kalau kamu sering jalan-jalan ke luar negeri, implikasi langsungnya jelas: tidak perlu lagi ribet tukar uang atau khawatir biaya gesek kartu yang mahal. Cukup buka aplikasi mobile banking atau dompet digital Indonesia, scan, selesai.
Untuk pelaku UMKM, ini membuka pasar baru. Wisatawan dari negara mitra termasuk dari Jepang dan Korea yang angka kunjungannya ke Indonesia terus naik, bisa bayar langsung lewat sistem mereka ke merchant Indonesia.
Dan dalam skala lebih besar, ini adalah langkah Indonesia membangun kedaulatan sistem pembayaran digital di tengah dominasi jaringan kartu internasional yang selama ini menjadi satu-satunya pilihan transaksi lintas batas.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 04 May 2026