Rindu Dua Penyair: Ketika Puisi Berhenti Meminta Maaf

Sabtu, 17 Januari 2026 07:16 WIB

Penulis:Nila Ertina

Rindu Dua Penyair:  Ketika Puisi Berhenti Meminta Maaf
Rindu Dua Penyair: Ketika Puisi Berhenti Meminta Maaf (ist)

PALEMBANG, WongKito.co - Tidak setiap acara baca puisi berakhir dengan pertanyaan besar. Namun “Rindu Dua Penyair”, yang digelar Dewan Kesenian Palembang di Gedung Kesenian Palembang, Jumat (16/1/2026), justru meninggalkan kegelisahan intelektual yang Panjang, sudahkah puisi ditempatkan secara layak dalam kehidupan kebudayaan kita?

Dua penyair asal Yogyakarta, Joko Pranoto dan Afnan Malay, tidak datang sebagai “tamu kehormatan” yang sekadar membacakan karya. Keduanya hadir membawa sikap, pengalaman, dan pandangan kritis tentang nasib puisi di tengah masyarakat yang semakin terbiasa pada hiburan serba cepat.

Sejak awal acara, ruang pertunjukan terasa penuh dan akrab. Penyair-penyair Palembang, seperti Anto Narasoma, Toton Dai Permana, Vebri Alintani, Tarech Rasyid, Rapani Igama, Yosef Fortass, M. Muhaimin, Rita, dan pegiat sastra lintas komunitas hadir tanpa sekat hierarki.

Hadir pula perwakilan Dinas Pariwisata Palembang melalui Kabid Destinasi Nini, Balai Bahasa Sumatera Selatan yang diwakili Fifi, Ketua KKPP M. Riduan, serta akademisi Dr. Fery Kurniawan dari Universitas Bina Darma.

Baca Juga:

Malam puisi terasa semakin berbeda karena adanya keberagaman usia audiens. Pelajar dari SMP Negeri 1 Palembang dan SMAN 6 Palembang duduk berdampingan dengan mahasiswa Universitas PGRI Palembang. Mereka tidak datang sebagai penonton pasif, melainkan sebagai bagian dari proses belajar bersama—sebuah pemandangan yang jarang ditemui dalam acara sastra.

Dukungan kelembagaan pun tampak nyata. Jajaran pengurus Dewan Kesenian Palembang hadir lengkap, mulai dari Sekretaris Fadly Lonardo, Ketua Program Irfan Kurniawan, Ketua Komite Musik Moh, Ketua Komite Teater Hasan, Ketua Komite Sastra Inug, hingga Yan Tuan Kentang dari Komite Seni Rupa. Kehadiran mereka menegaskan bahwa sastra bukan hanya urusan komunitas kecil, melainkan bagian dari agenda kebudayaan kota.

Pada sesi pembacaan puisi, Joko Pranoto dan Afnan Malay tampil bergantian, diselingi penampilan penyair Palembang. Puisi-puisi yang dibacakan bergerak dari renungan personal, kritik sosial, hingga ingatan tentang kota dan manusia. Tidak ada upaya memukau secara berlebihan; yang hadir justru kejujuran dan ketegangan makna. Tepuk tangan penonton mengalir sebagai respons yang tulus, bukan basa-basi seremoni.

Namun, inti acara justru menguat saat diskusi dimulai. Dipandu Inug, forum ini berubah menjadi ruang pengakuan dan gugatan. Joko Pranoto menyampaikan kritiknya dengan lugas: puisi selama ini terlalu sering ditempatkan sebagai kegiatan pinggiran.

“Puisi kerap dianggap cukup digelar gratis, lesehan, lalu selesai dengan tepuk tangan. Padahal, ini kerja kreatif yang serius dan menuntut pengelolaan yang sungguh-sungguh,” ujarnya.

Bagi Joko, profesionalisme tidak identik dengan komersialisasi dangkal. Ia melihat manajemen pertunjukan, kurasi yang jelas, dan kesediaan penonton membayar sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja seni.

“Kalau puisi digarap dengan konsep yang matang, ia bisa berdiri sejajar dengan seni lain. Martabat penyair pun ikut terangkat,” tegasnya.

Afnan Malay menanggapi dengan pendekatan yang lebih reflektif. Ia sepakat bahwa puisi perlu dihargai, tetapi mengingatkan agar profesionalisme tidak mencabut puisi dari akarnya.

“Puisi lahir dari pengalaman hidup dan perenungan panjang. Ia tidak bisa dikejar hanya demi agenda tampil,” katanya.

Menurut Afnan, tantangan sastra hari ini bukan hanya soal panggung, tetapi soal kesinambungan ruang intelektual. Ruang baca, ruang kritik, dan ruang dialog harus terus dipelihara agar puisi tidak berubah menjadi tontonan sesaat. Ia juga menaruh harapan besar pada kehadiran generasi muda.

“Selama masih ada anak muda yang mau mendengar puisi, sastra tidak akan kehilangan masa depannya,” ujarnya.

Baca Juga:

Diskusi berlangsung dinamis, dengan berbagai tanggapan dari peserta. Perbedaan sudut pandang Joko dan Afnan tidak saling meniadakan, justru membentuk satu kesadaran utuh: puisi membutuhkan struktur yang adil sekaligus kedalaman proses yang jujur.

Melalui “Rindu Dua Penyair”, Dewan Kesenian Palembang tidak hanya menyelenggarakan pertunjukan sastra, tetapi membuka percakapan penting tentang arah kebudayaan.

Malam itu, puisi berhenti meminta maaf atas keberadaannya. Ia menuntut ruang, penghargaan, dan martabat sebagaimana layaknya seni yang hidup.(*)