Rabu, 06 Mei 2026 17:23 WIB
Penulis:Nila Ertina

BOGOR, WongKito.co — Koalisi Mahasiswa Peduli IPB melayangkan kritik keras terhadap kebijakan pimpinan IPB University yang dinilai belum menjawab persoalan mendasar di lingkungan kampus, mulai dari kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), kondisi fasilitas yang disebut tidak layak, hingga arah kebijakan baru kampus terkait pengembangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Koalisi mahasiswa menilai kenaikan UKT yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir belum sejalan dengan peningkatan kualitas fasilitas pendidikan. Mereka menyoroti sejumlah infrastruktur di kawasan kampus Dramaga maupun Baranangsiang yang dinilai membutuhkan perhatian serius, mulai dari kondisi gedung, sarana sanitasi, hingga fasilitas penunjang aktivitas akademik.
“Mahasiswa terus dibebani biaya pendidikan yang semakin tinggi, tetapi di sisi lain masih banyak fasilitas dasar yang belum mendapatkan perbaikan optimal,” ujar Ketua Koalisi Mahasiswa Peduli IPB, Khairul, dalam keterangannya di Bogor, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga:
Selain persoalan fasilitas, koalisi mahasiswa juga menyoroti langkah rektorat yang mengembangkan program Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari dukungan terhadap program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada Mei 2026, pihak kampus mengumumkan rencana pembangunan lebih dari dua unit dapur SPPG di Bogor. Program tersebut disebut sebagai bagian dari ekosistem pembelajaran terintegrasi yang melibatkan mahasiswa, petani lokal, dan rantai pasok pangan nasional.
Namun, kebijakan tersebut menuai pertanyaan dari sebagian mahasiswa yang menilai fokus institusi pendidikan seharusnya tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan akademik dan kesejahteraan civitas kampus.
Koalisi mahasiswa menilai keterlibatan kampus dalam pengelolaan SPPG berpotensi mengalihkan sumber daya yang seharusnya dapat digunakan untuk penguatan fasilitas pendidikan, riset, dan pelayanan mahasiswa.
“Kami melihat ada kekhawatiran bahwa orientasi kampus mulai bergeser dari penguatan akademik ke aktivitas yang dianggap lebih berorientasi bisnis,” kata Khairul.
Selain itu, mahasiswa juga mempertanyakan penggunaan ruang kampus untuk pembangunan fasilitas pendukung program tersebut, termasuk dampaknya terhadap ruang terbuka dan area interaksi mahasiswa.
Dalam pernyataannya, koalisi mahasiswa menyampaikan tiga tuntutan kepada pimpinan kampus.
Pertama, meminta rektorat mengevaluasi keterlibatan institusi dalam proyek SPPG agar tidak mengabaikan kebutuhan akademik mahasiswa.
Baca Juga:
Kedua, mendesak perbaikan menyeluruh terhadap fasilitas kampus, termasuk gedung perkuliahan, fasilitas sanitasi, dan sarana pendukung pembelajaran di kampus Dramaga maupun Baranangsiang.
Ketiga, meminta pimpinan kampus membuka ruang dialog yang lebih luas dengan mahasiswa dalam penyusunan kebijakan strategis kampus.
Hingga berita ini ditulis, pihak rektorat IPB University belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik dan tuntutan yang disampaikan Koalisi Mahasiswa Peduli IPB.(ril)