BucuKito
Belajar Feminisme Bersama Solidaritas Perempuan Palembang (1)
Oleh: Azzahri Fahlepi Putra
Belajar di kelas feminis awalnya tidak terpikirkan. Namun, aku berkesempatan mewakili media WongKito.co untuk belajar di kelas feminis yang diselenggarakan Solidaritas Perempuan (SP) Palembang. Selama tiga hari aku mengikuti kelas dasar feminisme, pada bulan puasa, dan kelas berlanjut hingga usai lebaran, sesuai jadwal berlangsung selama 8 hari.
Kelas itu tidak sekadar memberi materi. Ia seperti membuka lapisan demi lapisan cara pandang yang selama ini tidak pernah aku pertanyakan. Dari konsep dasar feminisme, nilai-nilai yang diperjuangkan, hingga jejak sejarah panjang yang melahirkannya semuanya disusun rapi, sistematis, dan tidak memberi ruang bagi kami (peserta) untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan.
Awalnya, jujur saja, aku canggung. Ada jarak yang terasa bukan karena orang lain, tapi karena diri sendiri. Aku seperti orang asing di ruang yang seharusnya membicarakan hal-hal yang juga menyangkut diri sendiri. Feminisme, yang dulu aku kira hanya “urusan perempuan”, tiba-tiba berdiri di hadapan sebagai cermin, memperlihatkan bagaimana posisiku selama ini, bagaimana aku melihat, dan yang lebih penting bagaimana aku sering tidak melihat.
Baca Juga:
- J&T Luncurkan Program Wirausaha di Kampus Dukung Mahasiswa Berbisnis
- INOV dan TOOL Gaspol, IHSG pada 29 April 2026 Ditutup Naik 0,41 Persen
- Tragedi Bekasi Buka Pola, Benarkah Gerbong Tengah Lebih Aman?
Di hari pertama, ada momen ketika aku merasa kosong. Seolah semua yang aku tahu sebelumnya tidak cukup untuk mengikuti arah diskusi. Tapi justru di titik itu, aku mulai belajar dengan cara yang berbeda, bukan untuk menjawab, tapi untuk memahami.
Di situlah aku bertemu dengan Zalzali. Ia bukan hanya menjelaskan materi, ia membongkar cara berpikir. Ketika pemateri menyampaikan konsep yang terasa berat, ia hadir untuk menjembatani, mengurai, dan memberi konteks nyata. Bukan dengan menggurui, tapi dengan mengajak. Dari situ, aku mulai berani bertanya. Dan sebagai laki-laki, itu bukan hal kecil karena sering kali kita diajarkan untuk terlihat tahu, bukan untuk mengakui bahwa kita belum tahu.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan ritme yang berbeda dari pengalaman belajarku sebelumnya. Tidak ada yang benar-benar diam. Setiap orang bicara, bertanya, mengkritik. Tapi bukan sekadar ingin terlihat pintar, melainkan karena mereka benar-benar peduli pada apa yang sedang dibahas.
Aku mulai menyadari sesuatu, ruang belajar seperti ini jarang ku temui, bahkan di kampus. Di sini, berpikir kritis bukan sekadar tuntutan akademik, tapi kebutuhan bersama. Pendapat diuji, bukan untuk dijatuhkan, tapi untuk dipertajam. Dan aku, yang biasanya nyaman dalam posisi “aman”, perlahan ikut terseret ke dalam arus itu.
Sebagai laki-laki, pengalaman ini mengubah caraku memandang feminisme. Ia bukan ancaman, bukan pula kompetisi antara siapa yang lebih berhak didengar. Ia adalah upaya untuk meruntuhkan ketimpangan yang tanpa aku sadari, juga pernah kudiamkan, atau bahkan kunikmati.
Baca Juga:
- IHSG pada 23 April 2026 Ditutup Ambles 2,16 Persen
- Aksi Hari Bumi, Banjir Palembang jadi Alarm Krisis Iklim
- Kerja Politik Komunitas: Isu Air Bersih Menguat dari Akar Rumput
Aku mulai melihat bahwa menjadi bagian dari percakapan ini bukan berarti kehilangan posisi, tapi justru menemukan tanggung jawab. Bahwa mendengarkan adalah langkah awal, dan memahami adalah bentuk keberanian yang jarang diajarkan pada laki-laki.
Di akhir kelas, aku tidak merasa “sudah mengerti”. Justru sebaliknya aku merasa baru mulai belajar. Tapi kali ini, dengan kesadaran yang berbeda, bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari berbicara keras, tapi dari keberanian untuk mengakui bahwa cara pandang kita selama ini bisa saja keliru.
Dan mungkin, bagiku, itu adalah pelajaran paling penting dari semua yang kudapatkan di ruang itu.(bersambung)

