Wako Pastikan PSBB Palembang Diperpanjang, Sesuai Rekomendasi IDI

Selasa, 02 Juni 2020 01:24 WIB

Penulis:Nila Ertina

rapat evaluasi PSBB di Rumah Dinas Walikota Palembang.
rapat evaluasi PSBB di Rumah Dinas Walikota Palembang.

PALEMBANG, WongKito.co - Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kota Palembang, dipastikan akan diperpanjang. Hal itu, diungkapkan Walikota Palembang Harnojoyo pada rapat evaluasi PSBB, Senin (1/6).

"Ikanan Dokter Indonesia (IDI) Palembang merekomendasikan PSBB sebaiknya diperpanjang, karena keprihatinan para dokter melihat angka kasus yang masih tinggi, untuk waktunya mulai kapan kita masih menunggu hasil evaluasi Selasa (2/6)," kata Harnojoyo.

Ia menegaskan, diperpanjangnya PSBB maka sosialisasi kedisipilinan protokol kesehatan akan diperketat, tidak hanya di check point tapi juga di fasilitas umum (fasum).

"Kita mendisiplinkan protokol kesehatan, selama PSBB cek point ini kita kolaborasi menuju normal baru. Dengan menyasar sosialisasi di tempat keramaian/fasilitas umum," tegasnya.

Ia menjelaskan, dari hasil kajian perilaku masyarakat Palembang selama PSBB menyatakan, 30% masyarakat berada di rumah, 16% ada kegiatan kantor, 15% penduduk pelayanan kesehatan, dan 5% masyarakat yang berada di pasar.

"Upaya mengedukasi masyarakat cepat memahami protokol kesehatan terus dilakukan.  Siaga selama PSBB  di check point juga terus dioptimalkan" terang Harno.

Sementara itu, Plt Kadinkes kota Palembang, Dr Fauziah menambahkan, perpanjangan ini juga dilakukan berdasarkan prediksi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sriwijaya (Unsri) yang mengatakan puncak penularan COVID-19 di Palembang akan terjadi pada tanggal 8 Juni.

Berdasarkan prediksi FK Unsri jurusan Ilmu Kesehatan masyarakat ketika diawal PSBB. Prediksi ini dilihat dari angka insinden penyakit, jumlah penduduk, dan transmisi sebesar 2,5 persen, dan angka kontak ratenya.

"Hasil kajian ini menjadi pertimbangan kita. Maka kita akan jemput bola memberikan edukasi kepada masyarakat terutama di tempat fasilitas umum. Berharap dengan cara ini angka penyebaran bisa ditekan hingga 0,50 persen," ujarnya. (Cha)