Jumat, 20 Maret 2026 19:24 WIB
Penulis:Susilawati

JAKARTA – Mengisi rasa bosan libur Lebaran dengan menonton film di bioskop adalah pilihan yang menyenangkan. Rumah produksi Visinema Studios kembali menghadirkan tontonan untuk keluarga melalui film live-action terbaru berjudul Na Willa.
Disutradarai oleh Ryan Adriandhy, sosok di balik film animasi Jumbo, Na Willa menawarkan pengalaman sinematik yang penuh nuansa nostalgia sekaligus membahagiakan, sehingga sangat cocok untuk dinikmati bersama keluarga di momen libur Lebaran.
Film ini berfokus pada keseharian seorang anak perempuan berusia lima tahun yang imajinasi dan penuh rasa ingin tahu, Na Willa (Luisa Adreena). Ia adalah putri dari Mak (Irma Rihi) dan Pak (Junior Liem) yang bekerja sebagai pelaut.
Baca juga:
Petualangan Na Willa semakin terasa menyenangkan berkat kehadiran tiga sahabatnya taitu Dul (Azamy Syauqi), Bud (Arsenio Rafisqy), dan Farida (Freya Mikhayla). Kepolosan dan spontanitas mereka menghadirkan keceriaan yang terus mewarnai sepanjang jalannya film.
Film ini diadaptasi dari buku populer karya Reda Gaudiamo dan resmi tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai Rabu, 18 Maret 2026.
Berlatar di Surabaya pada tahun 1960-an, Na Willa hadir lebih dari sekadar film keluarga. Ceritanya menampilkan kehidupan sederhana, keberagaman budaya, dan kehangatan kasih sayang yang tumbuh di tengah keterbatasan, dibalut visual bernuansa retro yang mengajak penonton bernostalgia ke masa lampau.
Di sebuah gang yang hangat di sudut Surabaya, Willa (Luisa Adreena) memandang dunia sebagai taman bermain luas selalu berdenyut dengan keajaiban. Bagi gadis enam tahun ini, alunan musik dari radio tua bukan sekadar suara, melainkan teman yang mengajaknya menari.
Sementara, kios kelontong di ujung jalan terasa seperti gudang harta karun yang menyimpan banyak misteri. Setiap sudut gang menjadi panggung petualangan, tempat Willa dan teman-temannya menikmati kebebasan masa kecil yang murni, ketika imajinasi mampu mengubah hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa dan magis.
Namun, warna-warni dunia Willa perlahan mulai memudar saat kenyataan mengetuk dunianya yang mungil. Sebuah kecelakaan yang menimpa sahabatnya menjadi titik balik yang menyedihkan. Tak lama kemudian, suasana gang pun berubah hening karena satu per satu teman bermainnya mulai sibuk dengan rutinitas sekolah.
Diliputi kesepian yang terasa asing, Willa akhirnya memutuskan untuk menyusul mereka ke bangku Taman Kanak-Kanak. Ia melangkah dengan harapan sederhana namun penuh makna, dengan sekolah, ia bisa menemukan kembali tawa yang hilang dan menghidupkan kembali dunia yang dulu terasa sempurna.
Namun, kenyataannya gerbang sekolah justru menghadirkan tantangan yang tak pernah terlintas di benak Willa. Di sana, ia harus berhadapan dengan berbagai aturan, batasan ruang, dan perasaan tidak dipahami yang membuatnya merindukan kebebasan di gang rumahnya.
Meski begitu, lewat perjalanan yang penuh haru sekaligus tawa ini, Willa perlahan memahami makna penting dari proses tumbuh dewasa.
Ia menyadari bahwa menjadi besar bukan berarti kehilangan keajaiban, melainkan belajar menerima perubahan dan menemukan bahwa keindahan dunia tidak benar-benar hilang, ia hanya berpindah tempat dan menunggu untuk ditemukan kembali dengan cara yang berbeda.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 20 Mar 2026