BucuKito
Antara Setoran dan Harapan, Sopir Angkot Terus Bertahan
HIRUK pikuk Pasar 16 Ilir, Palembang yang berlokasi tepat di tepi Sungai Musi terdengar ditelinga sejak awal kedatanganku siang hari itu. Suara orang yang berlalu-lalang, pedagang yang terus menawarkan dagangannya, dan suara kendaraan saling bersahutan.
Aku duduk di pinggiran Taman Skate Park sembari memperhatikan sekeliling, kulihat angkot terus menerus berdatangan. Atensiku mulai teralihkan pada kendaraan berwarna merah, hijau, dan kuning yang kuketahui mereka datang dari rute yang berbeda, tampak beberapa angkot mulai berhenti berjajar begitu menurunkan penumpang, meski ada pula yang langsung kembali melaju.
Mataku memperhatikan orang-orang yang berada di balik kemudi, sesekali mereka melambaikan tangan, berusaha menarik perhatian penumpang untuk naik ke angkot mereka. Ada juga yang tengah berbincang dengan supir lainnya.
Baca Juga:
- Pakai CNG PGN, Hotel Platinum Yogyakarta Hemat Dapur 30 Persen
- Bare Metal Server IDCloudHost Beri Fleksibilitas Konfigurasi untuk Perusahaan
- HuMa Indonesia: Dorong Pengakuan atas Hukum yang Hidup di Masyarakat
Kulangkahkan kakiku menuju salah satu sopir yang tampaknya sedang beristirahat. Kami mulai berbincang singkat. Namanya Jauhari (54), ia mengatakan sudah menjadi sopir angkot sejak tahun 1995, namun, pada saat itu menjadi sopir angkot bukanlah pekerjaan utamanya.
Pada tahun 2023, Ia mulai menjadikan supir angkot sebagai mata pencaharian utama.
Jauhari merupakan sopir angkot dengan rute Plaju-Ampera, untuk sekali perjalanan penumpang dikenakan tarif sejumlah Rp5 ribu.

Menjadi sopir angkot lebih dari tiga dekade, situasi saat ini sangatlah sulit. Jumlah penumpang menurun drastis, terutama sejak tersedianya berbagai transportasi online.
“Kini jumlah penumpang hanya sekitar 30 persen dibandingkan sebelum ada layanan jasa transportasi online,” ujarnya dibincangi belum lama ini.
Pendapatan Tak Pasti Tapi Tak Ada Pilihan
Dengan berkurangnya jumlah penumpang, tentunya mempengaruhi pendapatan yang diperoleh Jauhari. Ia mengaku paling banyak membawa pulang upah Rp60 ribu per hari. Pendapatan ini tidak menetap, terkadang Jauhari harus menombok untuk setoran, karena mobil yang ia pakai merupakan mobil sewaan.
“Untuk sekarang kami bertahan aja,” ungkap Jauhari.
Dengan penghasilannya yang pas-pasan, ia bercerita masih bersyukur karena dua anaknya sudah menikah, dan anak terakhir sudah memiliki pekerjaan.
“Saya bersyukur, yang penting bisa makan berdua sama istri,” katanya.
Meski begitu, Jauhari juga merasa kasian dengan sopir angkot lain yang terkadang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan penghasilan yang tergolong kecil.
Menurut dia, masih banyak sopir angkot yang masih memiliki anak kecil, sehingga kebutuhan yang diperlukan lebih banyak.
“Ada teman sopir saya, anaknya lima orang, yang paling besar masih sekolah dasar,” jelasnya.

Karena itu, dia berharap agar pemerintah memberikan perhatian kepada para sopir angkot. Ia mengungkapkan bantuan berupa dana menjadi salah satu yang ia harapkan, bukan sekedar untuk membantu memenuhi kebutuhan melainkan juga sebagai penyemangat bagi mereka.
“Atau ada kompensasi, biar kami semangat buat nyetir angkot ini,” ungkapnya
Bukan hanya bantuan, Jauhari juga berharap pemerintah terus melestarikan angkot, bukan hanya sekedar sebagai transportasi umum, melainkan juga sebagai ciri khas kota Palembang.
“Jangan sampai angkot ini dihapuskan, karena angkot ini ciri khas kota,” tegasnya.
Baca Juga:
- Kabut Asap Palembang Batasi Aktivitas Warga, dari Perjalanan hingga Sekolah
- KSP Selesaikan Hambatan Perizinan, Pengoperasian Jargas Rumah Tangga Dikebut
- Bumi Pasundan, Jejak Langkah dan Romantisme Malam di Bandung
Usai berbincang dengannya, aku mulai menyadari bahwa angkot yang selama ini kulihat bukan hanya sekedar transportasi tradisional, dibalik itu ada tulang punggung keluarga terus yang bergantung penuh pada penumpang yang dibawanya.
Aku kembali duduk di sekitar tempat angkot-angkot itu berjejer rapi, mobil warna-warni itu masih terus berdatangan silih berganti. Masing-masing warna memiliki rute yang berbeda, yang kuketahui angkot merah-putih seperti milik Jauhari merupakan angkot dengan rute Plaju-Ampera, angkot kuning dengan rute Kertapati-Ampera, dan angkot hijau dengan rute Pasar Lemabang-Ampera. (*Naila Safira)
*Mahasiswi Magang MBKM Prodi Jurnalistik, UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2024

