2026, Pengangguran Sumsel Turun tapi Warga masih Kesulitan

Salah satu sudut di desa yang dekat dengan tambang, yang hingga kini masih banyak warga miskin (Foto WongKito.co/Nila Ertina FM)

(Disclaimer; tulisan ini pengambilan datanya dilakukan artificial intelligence, tetapi sudah melalui proses kurasi)

PALEMBANG, WongKito.co – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sumatera Selatan (Sumsel) kembali menurun pada 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat TPT pada Mei 2026 sebesar 3,60 persen, turun dibandingkan Agustus 2025 yang berada di level 3,69 persen.

Data tersebut menunjukkan tingkat pengangguran Sumsel terus bergerak turun setelah sempat mencapai titik tertinggi dalam satu dekade terakhir pada 2020.

Namun, di sisi lain, warga di Kota Palembang mengaku kini sangat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, akibat inflasi dan sulitnya mencari pekerjaan.

"Status saya masih bekerja di media arus utama terkemuka di Sumsel, tetapi saya tidak lagi mendapatkan hak seperti beberapa tahun lalu," kata seorang warga Palembang, belum lama ini.

Baca Juga:

Ia bercerita saat ini gaji yang harusnya rutin dibayarkan akhir bulan telah dipotong 50 persen dan telat dibayar perusahaan.

Bahkan diakuinya, gunjang ganjing soal akan adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) lanjutan telah simpang siur. Padahal tahun ini saja, ia bercerita sudah ada PHK.

"Saya merasa ada ancaman PHK, karenanya meskipun gaji dipotong separuh terpaksa diterima saja," kata dia lagi.

Sementara pekerja lainnya mengaku terpaksa rutin meminjam uang dari temannya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Terpaksa ngutang, karena sering kali tidak punya pegangan duit lagi," kata dia, dibincangi beberapa Waktu lalu.

Data BPS Sumsel mencatat pada Mei 2026 terdapat sekitar 4,587 juta orang dalam angkatan kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,422 juta orang bekerja, sehingga jumlah penduduk yang menganggur diperkirakan sekitar 165 ribu orang.

Dibandingkan Februari 2026, TPT Mei 2026 turun tipis dari 3,59 persen menjadi 3,60 persen. Perbedaan tersebut menunjukkan kondisi pasar kerja relatif stabil, meski masih terdapat ratusan ribu penduduk yang belum bekerja, demikian mengutip laman resmi BPS Sumsel.

TPT Sumsel Sempat Tembus 5,51 Persen

Jika melihat perjalanan satu dekade terakhir, tingkat pengangguran Sumsel mengalami fluktuasi cukup tajam.

Pada 2016, TPT Sumsel berada di angka 4,31 persen. Angka tersebut naik menjadi 4,39 persen pada 2017, kemudian turun menjadi 4,23 persen pada 2018 sebelum kembali meningkat menjadi 4,48 persen pada 2019.

Lonjakan terbesar terjadi pada 2020 ketika TPT Sumsel mencapai 5,51 persen. BPS mencatat sekitar 238,4 ribu orang menganggur pada periode tersebut.

Setelah itu, angka pengangguran mulai menurun secara konsisten.

Data 2026 menggunakan periode Mei karena merupakan data terbaru yang tersedia.

Dari 2020 hingga Mei 2026, TPT Sumsel telah turun 1,91 poin persentase, dari 5,51 persen menjadi 3,60 persen.

Sementara jika dibandingkan dengan 2016, TPT turun 0,71 poin persentase.

Pengangguran Turun, Pekerjaan Layak jadi Tantangan

Penurunan TPT menjadi sinyal positif bagi pasar kerja Sumsel. Namun, rendahnya tingkat pengangguran tidak serta-merta menunjukkan seluruh pekerja telah memiliki pekerjaan dengan pendapatan yang memadai.

Data BPS menunjukkan pada Agustus 2025, pekerja formal di Sumsel baru mencapai 36,87 persen dari total penduduk bekerja. Artinya, sebagian besar pekerja masih berada pada kegiatan informal.

Kondisi tersebut menjadi penting di tengah meningkatnya biaya kebutuhan pokok dan biaya transportasi. Seseorang memang tidak lagi tercatat sebagai penganggur setelah memperoleh pekerjaan, tetapi belum tentu memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Karena itu, selain melihat angka pengangguran, kondisi upah, kualitas pekerjaan, sektor informal, jam kerja dan daya beli pekerja menjadi indikator penting untuk melihat kesejahteraan masyarakat Sumsel.(*)
 


Related Stories