7 Negara Ini Bakal Jadi Target Pasar Baru Bagi Minyak Mentah Rusia

Ilustrasi produksi minyak mentah

JAKARTA, - Setelah larangan parsial Eropa terhadap minyak Rusia diberlakukan pada Desember 2022, arah aliran pemasok minyak mentah tersebut tentunya akan berubah secara dramatis.

Jika sebelumnya pasar Eropa merupakan kekuatan Moskow, kini negeri yang dipimpin Putin itu aka mencari pembeli baru untuk kelebihan barelnya. 

Dalam catatan oleh analis perusahaan riset, tujuh negara akan jadi target pasar baru bagi minyak mentah Rusia selain China dan India. Diprediksi, tujuh negara ini akan mengalami peningkatan pengiriman minyak Rusia pada 2023. 

Berikut adalah daftar negara yang kemungkinan menjadi incaran Rusia untuk menjajakan minyak mentahnya di tengah sanksi yang ditetapkan Eropa.

 

1. Indonesia

Presiden Indonesia Joko Widodo telah mengakui kemungkinan untuk membeli minyak Rusia. Apalagi lembaga riset komodtas Kpler melihat Indonesia sebagai prospek utama untuk lonjakan impor dari Rusia. 

Sebelumnya, subsidi minyak yang dilakukan negara senilai US$34 miliar atau kisaran Rp510 triliun tidak dapat dilakukan lagi.

"Kekhawatiran inflasi telah muncul ke permukaan lagi," menurut catatan Keplr, seperti dikutip TrenAsia.com dari Insider Senin, 21 September 2022.

Kondisi ini sangat mirip dengan India. Pemerintah Indonesia melihat barel yang didiskon sebagai cara untuk mengurangi inflasi setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar sebesar 30% pada awal September.

Terakhir kali kilang Indonesia membeli kargo minyak mentah Rusia adalah Desember 2016. Dalam pandangan Kpler, Indonesia dapat melihat potensi masuknya 100.000 hingga 150.000 barel minyak mentah Rusia per hari. 

2. Pakistan

Pakistan juga telah secara terbuka mempertimbangkan untuk membeli minyak mentah Rusia. Menurut catatan Kpler, pemerintah di Islamabad dilaporkan telah meminta para penyuling negara itu untuk mempertimbangkan membeli pasokan diskon dari Rusia karena harga minyak mentah melonjak.

Namun, ada beberapa reservasi.  Mengingat Pakistan secara efektif membeli minyak mentah dari dua produsen Timur Tengah  yakni  Arab Saudi dan UEA, masih harus dilihat apakah penyulingan domestik akan mengambil risiko merusak hubungan mereka.

Pakistan bisa melihat lonjakan sekitar 50.000 hingga 100.000 barel tambahan per hari dari Rusia. 

3. Brazil

Kpler mengantisipasi bahwa pada Oktober, Brazil akan meremajakan hubungan internasionalnya dengan negara-negara BRICS: Brazil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan.

Sementara itu, Brazil telah meningkatkan asupan produksi dalam negerinya sepanjang 2022 dan aliran ke pasar domestik berada pada level tertinggi sejak 2019. Pada saat yang sama, ekspornya sedikit turun. 

"Mengingat bahwa Ural memiliki kualitas yang sangat mirip dengan Tupi atau Buzios Brasil (kepadatan yang sama, kandungan Sulfur lebih tinggi), penyulingan minyak mentah yang didiskon dapat membebaskan sebagian besar produksi Brasil untuk memaksimalkan keuntungan," tulis analis Kpler, Victor Katona.

Brazil bisa melihat kenaikan sekitar 100.000 hingga 200.000 barel per hari dari Rusia bergerak maju, menurut Kpler. 

 

4. Afrika Selatan

Secara historis, Afrika Selatan hanya memiliki satu pengiriman minyak mentah Rusia, yang datang awal musim panas ini. Tetapi statusnya sebagai salah satu rekan BRICS Rusia berarti ia berdiri sebagai kandidat yang mungkin untuk volume yang lebih tinggi. 

Terlebih lagi, kilang Natref negara itu, kata Kpler, lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan bisnis dengan Moskow dibandingkan dengan Sapref milik BP dan Shell.

Mungkin ada dampak potensial dari 50.000 hingga 100.000 barel per hari yang mengalir dari pelabuhan Rusia ke Afrika Selatan. 

5. Srilanka

Sejak Agustus, Kpler melaporkan bahwa Sri Lanka telah mulai membeli satu kargo per bulan minyak mentah Rusia. Menurut analisis, langkah ini akan terus berlanjut.

Akibat berurusan dengan utang besar dan gejolak politik, impor minyak Sri Lanka akan tetap tertekan. Namun, itu bisa membuka sedikit peningkatan pengiriman minyak mentah dari Rusia. 

Kpler mengatakan negara itu bisa melihat peningkatan marjinal sekitar 20.000 hingga 30.000 barel minyak mentah  Rusia per hari. 

6. Afrika Selatan

Secara historis, Afrika Selatan hanya memiliki satu pengiriman minyak mentah Rusia, yang datang awal musim panas ini, menurut Kpler. Tetapi statusnya sebagai salah satu rekan BRICS Rusia berarti ia berdiri sebagai kandidat yang mungkin untuk volume yang lebih tinggi. 

Terlebih lagi, kilang Natref negara itu, kata Kpler, lebih kecil kemungkinannya untuk melakukan bisnis dengan Moskow dibandingkan dengan Sapref milik BP dan Shell.

Mungkin ada dampak potensial dari 50.000 hingga 100.000 barel per hari yang mengalir dari pelabuhan Rusia ke Afrika Selatan. 

7. Arab Saudi dan Kuwait

Tidak jelas apakah ada negara Timur Tengah yang akan bertindak sebagai pembeli minyak mentah Rusia. Namun, Kpler mencatat bahwa kilang di Arab Saudi dan Kuwait khususnya akan beroperasi pada kemiringan penuh begitu sanksi baru Eropa dimulai. 

"Mengingat bahwa kilang-kilang ini akan secara efektif mengurangi volume yang dapat diekspor, semua ini dalam periode kenaikan harga minyak mentah. Godaannya mungkin untuk memasukkan Ural ke dalam kilang-kilang dan membiarkan seperti Cahaya Arab mengalir dengan bebas di Asia," tulis Kpler. 

Potensi dampak bagi negara-negara Timur Tengah ini adalah yang tertinggi sekaligus  terendah dengan kisaran nol hingga 500.000 barel per hari yang mengalir dari Rusia. 

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.com oleh Rizky C. Septania pada 21 Sep 2022 

Bagikan

Related Stories