Andai Aku jadi Jurnalis Saat Tirto Adhi Soerjo Masih Hidup

Ilustrasi (Canva/Nila)

Oleh: Marsya Endya Putri*

Bandung, 1909. Bau tinta cetak menyergap hidungku sebelum mataku sempat terbiasa dengan cahaya remang lampu minyak.

Di sudut ruangan, mesin cetak besi berderit mengulang irama yang sama, seperti jantung yang tak boleh berhenti berdetak.

Lembaran-lembaran basah tergantung pada tali, menunggu kering. Di kepala salah satunya tertera nama surat kabar yang membuat banyak pejabat kolonial susah tidur, Medan Prijaji.

Tentu ini hanya pengandaian. Aku hidup lebih dari seabad setelah tahun itu. Tapi andai pintu waktu terbuka dan aku diterima sebagai wartawan muda di surat kabar milik Tirto Adhi Soerjo, beginilah kira-kira yang kubayangkan akan kualami.

Baca Juga:

Lelaki yang akan menjadi pemimpin redaksiku bukan orang sembarangan. Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1880, Tirto sempat belajar kedokteran di STOVIA, lalu meninggalkannya demi pena.

Ia menulis di berbagai surat kabar, mendirikan Soenda Berita, kemudian pada 1907 menerbitkan Medan Prijaji, yang oleh banyak sejarawan disebut sebagai pers nasional pertama karena modal, redaksi, dan percetakannya dikelola kaum pribumi sendiri.

Kelak Pramoedya Ananta Toer menjulukinya “Sang Pemula”. Julukan itu masuk akal.

Ia mendirikan itu ketika belum ada contoh yang bisa ditiru.

Di bawah nama koran itu tertera semboyan yang kira-kira berarti suara bagi bangsa yang diperintah. Kata “diperintah” membuat dadaku sesak sekaligus bersemangat.

Pada zaman itu, koran-koran berbahasa Belanda membicarakan orang pribumi tanpa pernah berbicara kepada mereka.

Medan Prijaji memilih bahasa Melayu, bahasa yang dipahami pedagang di pasar dan guru di desa, bukan bahasa tuan-tuan di kantor residen. Satu keputusan soal bahasa, tetapi di baliknya ada sikap besar tentang untuk siapa koran itu diterbitkan.

Hari-hari pertamaku mungkin akan kuhabiskan dengan membaca surat. Bukan surat cinta, melainkan surat pengaduan dari berbagai penjuru Jawa yaitu tentang pemungutan yang tak jelas dasarnya, tentang pejabat yang sewenang-wenang, tentang rakyat kecil yang tak tahu ke mana harus mengadu.

Medan Prijaji tak hanya memuat berita. Redaksinya menjadi tempat orang meminta pertolongan, bahkan bantuan hukum.

Di sini, kurasa, aku akan paham bahwa jurnalisme bisa menjadi pintu terakhir bagi mereka yang pintu-pintunya sudah tertutup.

Tapi Tirto, kubayangkan ia tak akan membiarkanku menulis hanya berdasarkan surat. Aku akan diutus menemui si pengadu, mencatat nama, tanggal, dan jumlah uang yang diminta, lalu mencari pihak yang dituduh untuk dimintai jawaban. Berani saja tak cukup.

Di zaman ketika hukum lebih sering berpihak pada yang berkuasa, fakta yang tersusun rapi adalah satu-satunya senjata rakyat kecil.

Dan pembungkaman itu nyata.

Pemerintah kolonial punya wewenang istimewa untuk mengasingkan orang tanpa pengadilan. Tirto sendiri akhirnya dibuang ke Lampung, kemudian ke Maluku, sementara usaha penerbitannya runtuh.

Maka kalau aku bekerja di sana, setiap kali menyerahkan naskah, aku harus bertanya pada diri sendiri, apakah aku siap menanggung akibat dari kalimat ini? Pertanyaan itu mungkin yang paling jarang kita ajukan hari ini.

Yang membuatku kagum, Tirto tak berhenti pada tulisan.

Ia mendirikan organisasi, antara lain Sarekat Priyayi dan Sarekat Dagang Islamiyah untuk menyatukan orang-orang yang selama ini terpecah. Ia wartawan sekaligus pengorganisir. Baginya, kabar yang dicetak tak berarti banyak bila pembacanya tetap sendirian menghadapi ketidakadilan.

Dari situ aku belajar bahwa tugas jurnalis bukan sekadar menyampaikan, melainkan juga menyambungkan orang-orang yang punya persoalan yang sama.

Lalu aku membayangkan diriku kembali ke masa kini, dengan ponsel di tangan dan ribuan notifikasi yang berebut perhatian.

Kita punya kebebasan menulis yang tak terbayangkan oleh Tirto, tetapi sering kita sia-siakan untuk judul yang memancing klik, berita yang tak diverifikasi, atau tulisan yang berpihak pada siapa pun yang membayar. Ancaman pembuangan memang tak lagi sama, namun tekanan bentuk lain tetap ada seperti algoritma, kekuasaan, bahkan rasa malas kita sendiri.

Tirto wafat pada 7 Desember 1918, di usia 38 tahun, dalam keadaan jauh dari kejayaan yang pernah ia bangun. Namanya sempat nyaris dilupakan, sebelum diangkat kembali oleh penulis dan sejarawan.

Pada 2006 ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

Baca Juga:

Hidupnya singkat, tetapi jejaknya panjang, dan jejak itu menyisakan satu pertanyaan sederhana bagi siapa pun yang memegang pena atau papan ketik untuk siapa kau menulis?

Seandainya aku menjadi jurnalis di era itu, nyali ku mungkin akan ciut ketika pertama kali harus mengeritik penguasa.

Namun, setidaknya ada satu hal yang kupelajari, menulis adalah cara paling sunyi, sekaligus paling berani untuk berpihak.

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik Angkatan 2025, untuk tugas News Reporting Writing, Editing

Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel
‌‌
‌‌

Related Stories