Ceritaku Ikut ‎Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang

Ceritaku Ikut ‎Kelas Feminis Solidaritas Perempuan Palembang (Foto WongKito.co/Ist)

‎Oleh: Azzahri Fahlepi Putra* 
‎ 
BERTAJUK Kelas Feminis Globalisasi, aku mengikuti pelatihan digelar oleh Solidaritas Perempuan (SP) Palembang,  yang sukses terlaksana dengan penuh antusiasme dan kedisiplinan. Kegiatan intensif ini berlangsung pada tanggal 2 hingga 5 April 2026, bertempat di Villa Besemah, kawasan Gunung Dempo, Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan. Sebelum berangkat ke kaki Gunung Dempo, kami peserta telah terlebih dahulu mengikuti kelas yang diselenggarakan di Kota Palembang, selama 5 hari dan aku mewakili media WongKito.co, tempat aku magang pada semester lalu.
‎ 
‎Rangkaian kegiatan diawali dengan perjalanan darat yang cukup panjang dan menantang. Rombongan berangkat tepat pada pukul 17.00 sore dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 9 jam. Mendekati Kota Pagar Alam, jalanan yang berkelok dan menanjak, rombongan akhirnya tiba di lokasi tujuan tepat pada pukul 03.00 pagi.
‎ 
‎Meskipun jarak tempuh terasa jauh dan menguras tenaga, suasana di dalam kendaraan justru terasa sangat hangat, akrab, dan penuh keceriaan. Selama perjalanan, waktu diisi dengan obrolan santai hingga berbagi wawasan berharga yang disampaikan oleh, Bapak Zalzali.
‎ 
‎Kesan pertama saat tiba di lokasi pun begitu mendalam. Kedatangan rombongan pada dini hari langsung disambut oleh hawa pegunungan yang sangat sejuk dan segar, berpadu dengan panorama alam sekitar yang begitu asri dan memukau. Kelelahan sepanjang perjalanan seolah terbayar lunas dengan keindahan dan kesejukan yang disajikan alam di sana.

Seru dan Kenangan
‎ 
‎Setelah beristirahat sejenak dan menikmati sarapan, hari pertama diisi dengan pemaparan materi strategis mengenai Sejarah dan Politik Ekonomi Global yang disampaikan langsung oleh Dewi Maya Sari dari Sekretariat Nasional SP. Proses belajar berjalan sangat interaktif melalui diskusi kelompok dan analisis mendalam, membuka wawasan peserta mengenai sistem dan struktur yang berlaku secara global.
‎ 
‎Menjelang senja, suasana berubah menjadi unik saat terjadi pemadaman listrik. Kondisi ini justru menjadi momen berkumpul yang tak terlupakan. Di tengah kabut yang menyelimuti dan udara yang sangat dingin menusuk tulang, peserta tetap menikmati waktu dengan berkeliling hingga berkreasi membuat konten video yang menghibur.
‎ 
‎Keseruan berlanjut hingga malam dengan permainan gaple bersama Kak Radit, Kak Ratih, dan Kak Rival. "Walaupun saya tidak terlalu mahir dan sering kalah, tapi suasana saat bermain justru terasa tegang namun sangat seru, apalagi karena yang kalah pasti dijadikan bahan candaan bersama," ungkap salah satu peserta. Tawa dan kehangatan persahabatan seolah mampu mengalahkan dinginnya malam di pegunungan.
‎  
‎Di hari kedua, materi fokus pada analisis hubungan Globalisasi dengan Isu Agraria dan Iklim. Puncak kegiatan ini adalah sesi Role Play atau Bermain Peran yang menjadi momen paling dinanti.

Kebun teh dan puncak Gunung Dempo, pemandangan di sekitar kami. (Foto WongKito.o/Azzahri Fahlepi Putra)


‎ 
‎Para peserta diajak untuk memerankan berbagai pihak yang terlibat, mulai dari aktor global, pemerintah, perusahaan, hingga masyarakat. Sesi ini berlangsung sangat hidup karena banyak hal lucu dan tak terduga yang terjadi, namun tetap sarat akan pesan penting tentang bagaimana konflik kepentingan sebenarnya terjadi di lapangan. Momen ini paling seru dan tak terlupakan selama kegiatan.
‎ 
‎Malam harinya, suasana berubah menjadi hangat dan penuh haru dengan acara tukar kado. Caranya cukup unik dan menarik; kado diletakkan di lantai, lalu peserta berkeliling mengelilinginya sambil diiringi musik. Saat musik berhenti, kado yang berada tepat di depan pesertalah yang menjadi miliknya. Kejutan hadiah yang didapatkan menjadi penutup hari yang manis.

Susun Strategi Gerakan
‎ 
‎Selanjutnya, pada hari terakhir diisi dengan pembahasan isu-isu konkret serta penyusunan Strategi Gerakan dan evaluasi menyeluruh. Setelah acara resmi ditutup, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan wisata ke kawasan air terjun atau Curup.
‎ 
‎Perjalanan menuju lokasi yang melewati medan berbukit memberikan sensasi tersendiri. Sesampainya di sana, pemandangannya sangat indah dan memanjakan mata. Meskipun secara fisik terasa melelahkan, tapi pengalamannya sangat asik dan menyenangkan.
‎‎ 
‎Selama tiga hari mengikuti rangkaian materi, terdapat banyak ilmu berharga yang berhasil diserap. Peserta diajak untuk memahami secara luas bagaimana sistem ekonomi global bekerja, kaitannya dengan sumber daya alam, serta bagaimana isu ini berdampak pada kehidupan masyarakat.
‎ 
‎Melalui diskusi dan simulasi yang dilakukan, tergambar jelas bagaimana dinamika kekuasaan dan kepentingan bekerja diberbagai level. Pembelajaran ini tidak hanya teoritis, tetapi juga memberikan pemahaman praktis mengenai bagaimana isu-isu besar tersebut harus dilihat dan dihadapi dengan perspektif yang tepat.
‎ 
‎Secara garis besar, setiap hari memiliki warna dan keseruannya masing-masing. Hari pertama berkesan dengan keakraban saat bermain Gaple yang tegang tapi seru, hari kedua menjadi puncak keseruan saat sesi Role Play, dan hari ketiga menjadi momen wisata yang melelahkan namun sangat memuaskan.
‎ 
‎Yang menjadi poin paling berharga dan membuka mata, melalui kegiatan ini peserta menyadari satu hal mendasar: "Betapa pentingnya memahami bahwa kebutuhan perempuan dan laki-laki itu ternyata berbeda jauh, tetapi setara dalam perannya"
‎ 
‎Kegiatan ini dinilai sangat berhasil karena tidak hanya berhasil mentransfer ilmu pengetahuan yang luas dan membuka wawasan berpikir kritis, tetapi juga berhasil mempererat tali persaudaraan dan kekompakan di antara seluruh anggota.

*Mahasiswa Prodi Jurnalistik UIN Raden Fatah Palembang, Angkatan 2023
 

Editor: Nila Ertina

Related Stories