BucuKito
Edukasi Mencegah Pelecehan Seksual pada Warga Sei Selincah
UPAYA meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya pelecehan seksual dilakukan melalui kegiatan sosialisasi yang digelar mahasiswa Kelompok Kerja Nyata (KKN) Rekognisi UIN Raden Fatah Palembang, yang diselenggarakan di salah satu rumah warga, RT 60 Sei Selincah, Kampung Kelapa Sawit, pekan lalu.
Kegiatan ini dihadiri oleh para orang tua, remaja, serta tokoh masyarakat setempat dengan tujuan memberikan pemahaman yang benar mengenai bentuk, dampak, serta langkah pencegahan pelecehan seksual di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan bahwa pelecehan seksual mencakup segala bentuk perilaku tidak diinginkan yang bersifat seksual, baik secara fisik maupun nonfisik.Bentuknya dapat berupa sentuhan tanpa persetujuan, komentar atau candaan bernuansa seksual, ajakan paksa, hingga pelecehan melalui media digital atau kekerasan berbasis gender online (KBGO). Disampaikan pula bahwa anak-anak dan remaja termasuk kelompok yang paling rentan menjadi korban.
Baca Juga:
- Jadwal Berbuka Puasa Palembang, 4 Ramadan
- Nikmati Iftar Buffet Mewah di The Excelton Hotel Palembang
- Hoaks: Bukit Asam Buka Rekrutmen 2026
Dampak pelecehan seksual tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Korban dapat mengalami trauma mendalam, rasa takut, rasa malu, gangguan kecemasan, hingga kesulitan membangun hubungan sosial yang sehat. Banyak kasus tidak terungkap karena korban merasa takut, terancam, atau khawatir terhadap stigma sosial.
Ketua Kelompok 393, KKN Rekognisi, M Alvin Asyraf Pratama, dalam penyampaiannya menegaskan pentingnya edukasi sejak dini mengenai batasan tubuh dan persetujuan (consent). “Anak-anak harus diajarkan bahwa tubuh mereka berharga dan tidak boleh disentuh tanpa izin. Orang tua juga perlu menciptakan ruang aman agar anak berani bercerita jika mengalami hal yang tidak nyaman,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat tidak boleh menyepelekan candaan atau perilaku yang mengarah pada pelecehan. “Kadang pelecehan dianggap hal biasa atau hanya gurauan. Padahal dampaknya bisa sangat besar bagi korban. Kita semua punya tanggung jawab untuk menghentikan dan mencegahnya,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu warga yang hadir, Siti Chodijah Putri, mengungkapkan bahwa sosialisasi tersebut membuka wawasannya sebagai orang tua. “Selama ini kami mungkin kurang memahami bahwa pelecehan tidak selalu berupa tindakan fisik. Ternyata kata-kata atau pesan di media sosial juga bisa termasuk. Setelah mengikuti kegiatan ini, saya jadi lebih sadar pentingnya mengawasi dan mendampingi anak,” tuturnya.
Baca Juga:
- Bertahannya Nadi Kehidupan Tepi Sungai Palembang
- Hoaks: Lowongan Kerja Dapur MBG
- Catat! Syarat Mudik Gratis Lebaran 2026 Bersama KA Palembang
Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi tanya jawab yang membahas cara mengenali tanda-tanda anak menjadi korban, langkah melapor yang aman, serta pentingnya pendampingan psikologis. Mahasiswa juga menekankan bahwa korban harus didukung tanpa disalahkan, serta didorong untuk mendapatkan bantuan profesional jika diperlukan.
Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan masyarakat semakin memahami bahwa pencegahan pelecehan seksual merupakan tanggung jawab bersama. Dengan edukasi, komunikasi terbuka, serta keberanian untuk melapor, lingkungan yang aman dan penuh rasa hormat dapat diwujudkan demi melindungi generasi muda.(*)

