KabarKito
Ekspedisi ke Batang Toru, Fitri: Mau Lihat Orangutan Langsung di Habitatnya
PALEMBANG, WongKito.co - Ekspedisi Hutan Merdeka resmi selesai dengan finish-nya lima pesepeda di Jembatan Trikora, Batang Toru, Sumatera Utara, tepat pada momen Hari Orangutan Internasional 19 Agustus, Rabu (19/8/26).
Dari lima pesepeda tersebut, Fitri Utami adalah satu-satunya perempuan yang turut mengayuh sejauh 1.700 km dari Jakarta-Batang Toru dengan membawa misi kampanye perlindungan Orangutan Tapanuli atau Pongo tapanuliensis.
“Mau lihat orangutan langsung di tempatnya, kalau memang bisa,” kata Fitri mengungkapkan harapannya mengikuti ekspedisi, saat tiba di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (6/8/26) lalu.
Fitri mengatakan, tidak butuh persiapan banyak untuk ekspedisi yang diinisiasi Satya Bumi ini. Diakuinya, perjalanan ini justru menjadi persiapannya mengikuti event lari trail. Mengingat, venue atau jalur trail di Jakarta cukup jauh dan dapat dijangkau dengan sepeda.
Selain itu, dia juga setiap hari memang bersepeda ke tempat kerja atau bike to work sehingga sudah cukup terbiasa dengan jalan kota. “Saya sudah aktif gowes sejak 2018 saat memilih bike to work. Turing jarak jauh juga pernah, seringnya sendiri,” ujarnya.
Selama ekspedisi, Fitri menjadi pemandu bagi pesepeda lainnya untuk tetap menjaga nutrisi dengan makan meski sedikit. Menurutnya, pesepeda perempuan maupun laki-laki sama saja, jika sudah capek pasti ada rasa malas untuk makan. Dia memastikan pesepeda cukup makan dan minum air putih, jangan sampai tidak ada tenaga.

Diakuinya, ramainya jalan lintas Sumatera dengan bis besar menjadi kendala selama perjalanan di Sumsel. Sebab, dari pengalaman bike to work di jalan Jakarta tidak pernah berjumpa dengan bis besar. Tidak hanya itu, jalanan yang jelek dan cuaca panas menjadi tantangan tersendiri. Ditambah pula harus melewati area lahan terbakar yang membutuhkan kehati-hatian ekstra saat riding.
Manager Komunikasi Satya Bumi, Restu Diantina menyebutkan, ekspedisi ini bukan hanya membawa pesan perlindungan hutan dan orangutan, tapi juga pemulihan Sumatera dan pemenuhan hak warga negara. Satya Bumi menyoroti penurunan populasi Orangutan Tapanuli sampai 7 persen pasca bencana banjir Sumatera, dari kurang 800 individu diperkirakan 58 individu tewas.
“Ancaman kepunahan Orang Utan Tapanuli sudah nyata. Sebab 1 persen penurunan populasi saja dapat mengancam populasinya sangat cepat,” kata dia dibincangi di Palembang.
Aksi Damai di Jembatan Trikora

Memperingati Hari Orangutan Internasional sekaligus titik akhir Ekspedisi Hutan Merdeka, spanduk raksasa terbentang di Jembatan Trikora, Batang Toru, diikuti aksi damai untuk menyerukan penyelamatan hutan dan orangutan.
Spanduk raksasa tersebut bertuliskan ‘No Second Home, Restore their Forest’.
“Hari ini kita memperingati Hari Orangutan Internasional, kenapa ini penting bagi kita orang Indonesia, karena orangutan hanya ada di Indonesia. Ia merupakan spesies yang sangat mirip dengan manusia. Keberadaan orangutan adalah indikator apakah hutan tempat dia tinggal masih baik atau tidak. Ketika orangutan punah, maka hutan juga terancam," ujar Direktur Eksekutif Satya Bumi, Andi Muttaqien, dalam siaran pers yang diterima, Rabu.
Ekosistem Batang Toru merupakan satu-satunya tempat tinggal Orangutan Tapanuli yang luas wilayahnya terus tergerus pembangunan dan industri, salah duanya adalah Tambang Emas Martabe dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru.
Satya Bumi mencatat, hingga 2024, ekspansi lahan yang dilakukan oleh PLTA mencapai 535,25 ha, dan per tahun 2025, total ekspansi akibat pertambangan emas mencapai 603,21 ha. Area tersebut masuk ke Blok Barat Ekosistem Batang Toru yang merupakan habitat Orangutan Tapanuli. (yulia savitri)

