Harga RAM Global Anjlok, Ini Penyebab Pasar Dalam Negeri Masih Mahal

Ilustrasi RAM Memory (unsplash)

JAKARTA, WongKito.co - Penurunan harga RAM di pasar global mulai menjadi sorotan dalam beberapa waktu terakhir. Koreksi harga dipicu oleh perubahan permintaan dan kelebihan pasokan di pasar internasional, sehingga membuat harga komponen tersebut turun cukup signifikan.

Namun, jika Anda berharap harga RAM di Indonesia ikut turun dalam waktu dekat, kenyataannya belum demikian. Pasar domestik masih berada dalam fase penyesuaian, di mana harga yang beredar saat ini masih dipengaruhi oleh stok lama dengan harga tinggi.

Kondisi ini terjadi karena adanya jeda dalam rantai distribusi serta dinamika pasar lokal yang berbeda dengan global. Akibatnya, dampak penurunan harga di tingkat internasional belum langsung terasa di dalam negeri dan membutuhkan waktu sebelum benar-benar sampai ke konsumen.

Harga RAM Global Turun, Apa Penyebabnya?

  • Permintaan dari industri AI menurun
  • Kelebihan pasokan di pasar global
  • Teknologi AI makin efisien dalam penggunaan memori

Penurunan harga RAM global dipicu oleh melemahnya permintaan dari perusahaan kecerdasan buatan, termasuk OpenAI yang sebelumnya diperkirakan akan menyerap produksi besar dari produsen seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Ketika pembelian ditunda atau dikurangi, pasar justru kelebihan pasokan.

Di sisi lain, hadirnya teknologi efisiensi memori seperti TurboQuant membuat kebutuhan RAM berkapasitas tinggi tidak lagi sebesar sebelumnya. Kombinasi ini menekan harga secara signifikan di pasar internasional.

Seberapa Besar Penurunannya?

  • Harga RAM turun sekitar 20%–25%
  • Produk 32GB mengalami penurunan signifikan
  • Tren penurunan masih berlanjut

Sebagai gambaran, RAM kelas atas seperti Corsair Vengeance 32GB yang sempat berada di kisaran US$490 (sekitar Rp8,2 juta) kini turun ke sekitar US$370–379 (sekitar Rp6,4 juta). Penurunan ini menunjukkan koreksi pasar yang cukup tajam akibat ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan global.

Kenapa Harga di Indonesia Belum Turun?

  • Stok lama masih beredar di pasar
  • Rantai distribusi membutuhkan waktu
  • Dampak krisis sebelumnya masih terasa

Harga di Indonesia tidak langsung mengikuti pasar global karena distributor dan retailer masih menjual stok lama yang dibeli dengan harga tinggi. Selain itu, proses distribusi dari produsen global ke pasar lokal membutuhkan waktu.

Akibatnya, meskipun harga global sudah turun, konsumen di Indonesia masih menghadapi harga tinggi dalam jangka pendek.

Berapa Harga RAM di Indonesia Saat Ini?

  • DDR4 4GB: naik hingga Rp900.000
  • DDR5 16GB: naik ke Rp2,9 juta
  • DDR5 32GB: tembus Rp7–8 juta

Di pasar domestik, harga RAM masih berada di level tinggi akibat krisis pasokan sebelumnya. Kenaikan ini bahkan terasa signifikan bagi pengguna umum maupun pelaku industri, terutama yang membutuhkan upgrade perangkat dalam waktu dekat.

Dampaknya ke Anda

  • Harga laptop dan HP ikut naik
  • Biaya upgrade perangkat lebih mahal
  • Industri kreatif dan kerja digital terdampak

RAM adalah komponen penting dalam banyak perangkat elektronik. Ketika harganya naik, biaya produksi laptop dan smartphone juga ikut terdorong naik. Dampaknya, Anda mungkin merasakan harga perangkat baru lebih mahal, bahkan kenaikannya bisa mencapai sekitar 20% di beberapa segmen.

Haruskah Anda Beli Sekarang?

  • Sebaiknya tunda pembelian jika tidak mendesak
  • Tunggu harga global benar-benar turun ke pasar lokal
  • Hindari membeli saat harga masih tinggi

Para analis menyarankan untuk menunda pembelian jika tidak mendesak. Jika terlalu banyak konsumen membeli saat harga masih tinggi, pasar bisa menganggap harga tersebut sebagai “normal baru”. Ini justru memperlambat penurunan harga di masa depan.

Bagi Anda sebagai konsumen, situasi ini berarti kabar baik dari pasar global belum bisa langsung dinikmati. Namun, jika tren ini berlanjut, ada peluang harga RAM di Indonesia ikut turun dalam beberapa bulan ke depan.

Tulisan ini telah tayang di TrenAsia.com, jejaring media WongKito.co, pada 6 April 2026.

Editor: Redaksi Wongkito
Bagikan
Redaksi Wongkito

Redaksi Wongkito

Lihat semua artikel

Related Stories